Locavore, Solusi Pangan Sehat Berkualitas untuk Indonesia

Oleh BUDHIANA KARTAWIJAYA. Ketua Pembina Odesa Indonesia

Pertanian kita mengalami stagnasi, bahkan penyusutan. Pekerjaan orang desa terus berkurang. Kemiskinan pun menjadi problem yang tak kunjung menemukan jalan keluar. Dan bangsa ini dari tahun ke tahun tak bisa menjawab problem impor pangan, sementara pangan tersebut sebenarnya bisa dikembangkan secara mudah di bumi nusantara. Indonesia memiliki banyak potensi yang subur untuk pertanian. Selain pentingnya memperkuat ekonomi petani desa agar tidak berada dalam kubang kemiskinan, kita juga butuh hasil pangan yang berkualitas dan beragam.

Maka, Yayasan Odesa Indonesia menawarkan sorgum, salahhsatu tananaman pangan bergizi tinggi, yang mudah ditanam di Kawasan krisis lingkungan Bandung Utara, dan juga sebagai cara baru memunculkan ekonomi bagi petani agar tidak berada dalam lingkaran perdagangan pasar pangan yang selama ini menyengsarakan para petani.

Sorgum menjadi penting digalakkan selain kelor, hanjeli, bunga telang, dan tanaman buah lainnya. Kami memulai mendakwahkan sorgum sebagai tanaman pangan yang melampaui halal, karena gizinya golongan toyib atau berkualitas, salahsatunya tidak ada glutennya. Sangat luar baik untuk menanggulangi diabetes.

Karena itu pada tahun 2016 lalu, kami memulai menjelaskan pentingnya sorgum. Kami tanam sebagai cara memberi contoh, dan kami dorong 7 orang petani menanam pada Oktober 2018, dan banyak menghasilkan panen pada bulan Pebrurai 2019. Pada bulan april 2019 Odesa Indonesia bahkan sudah mampu memproduksi tepung, termasuk mengajarkan usaha kue/camilan kepada beberapa ibu rumah tangga petani.

Kami memimpikan sebuah gerakan kebudayaan dari basis budidaya pertanian. Kami ingin Kawasan Bandung Utara ini menjadi model terciptanya locavore. Per definisi, locavore adalah penduduk yang mengonsumsi pangan yang dihasilkan daerahnya sendiri, dalam radius 100 mil (sekitar 166 km).

Mengapa kawasan locavore ini penting?
Pertama, alasan relijius. Bahwa Tuhan itu sangat sayang kepada orang Indonesia. Satu cm persegi tanah, bisa ditanami apapun dan tumbuh. Maka menanam pangan di tanah sekeliling, adalah bentuk rasa syukur terhadap anugerah ini. Orang yang tak bersyukur disebut kufur nikmat. Jadi relijiusitas itu dibuktikan dengan mensyukuri anugerah tanah subur.
Gregor Mendel seorang pendeta Katolik, relijiusitasnya justru terlihat dari ketekunannya bertani dan bereksperimen genetika. Di Kabupaten Bandung ada Mang Kiai Haji Fuad Affandi, pengasuh pondok pesantren al Ittifaq Rancabali juga telah lama mempratikkan hal tersebut. Beliau jadikan Ittifaq sebagai pesantren berbasis tani. Produknya banyak berkontribusi memakmurkan pangan masyarakat sekitarnya, selebihnya beredar masuk ke swalayan-swalayan berbagai kota.

Dalam pengalaman hidup para tokoh tersebut yang tak bisa dilupakan adalah kepeduliannya terhadap lingkungan dan manusia sekitarnya sangat menentukan. Itulah kerja kebudayaan. Intensitas interaksi manusia dengan tanah penting dijadikan indikator relijiusitas seseorang. Siapa yang merawat tanah dan mengurus manusia menjadi tonggak lahirnya kebaikan, dan itulah kesejatian relijiusitas.

Kedua, alasan kesehatan. Semakin dekat sumber pangan, semakin mudah kita mengontrol rantai pasoknya. Pada setiap proses kita bisa melihat apakah ada zat tambahan dalam makanan tersebut, atau pestisida misalnya. Dalam pangan import atau pangan lintas wilayah, telah luas kita ketahui sumber kesehatan pangannya tidak banyak yang bagus. Jarang kita menemukan bahan pangan yang fresh.

Perjalanan jauh tanpa pengemasan yang baik dipastikan mereduksi banyak nilai gizi. Sedangkan yang dikemas secara baik dan status segar biasanya mahal harganya. Satu lagi, yang masih utuh tapi lama, biasanya akan berurusan dengan bahan pengawet. Semakin jauh sumber pangan, semakin sulit mengontrol kualitas pangan. Apalagi kalau kita hubungan dengan agama Islam. Orang Indonesia mayoritas Islam, namun belum serius dalam berislam terkait dengan pangan halalan-toyiban, halal yang berkualitas. Kita masih normatif asal halal. Gagasan locavore selain sehat secara medis juga sangat Islami.

Ketiga, menghemat pengeluaran rumah tangga. Sekadar cabe rawit, bawang, seledri dan lain-lain, bisa ditanam di petak pekarangan, atau di pot-pot, sehingga tak perlu ke mini market. Kita harus terus menggulirkan tani pekarangan. Lahan kecil harus diurus sebelum mengurus lahan besar. Dengan tani pekarangan sumber pangan kita minimal sebagian hemat karena tidak usah belanja, dan kita bisa mendesain model pertanian yang sehat. Hidup kita juga sehat karena mengurangi pengangguran dengan olahraga. Model ekonomi pertanian pekarangan inilah yang akan banyak mengubah tradisi dari boros menjadi hemat. Dari konsumtif menjadi produktif. Usahakan minimal 50% sumber pangan yang kita masak berasal dari tanam sendiri.

Keempat, alasan ideologis. Sekarang ini, hajat hidup pangan dunia dikuasai setidaknya delapan perusahaan pangan terbesar dunia: Kraft, Nestle, Coca Cola, Pepsico, Kellog’s, MARS, Unilever, General Mills. Berapa miliar dolar uang tersedot oleh mereka? Pertanyaan lebih jauh, apakah sumber pangan dari pabrikan besar itu berkualitas? Bicara pangan tak lepas dari urusan kesehatan, dan sumber kekuatan manusia sangat ditentukan kesehatan. Makanan adalah masalah vital dalam dunia kesehatan. Dengan mengonsumsi pangan lokal, ketergantungan pada perusahaan pangan dunia, akan berkurang.

Mari manfaatkan pekarangan. Tanam tanaman pangan dan herbal lokal. Bersenang-senanglah dengan dunia botani, terutama botani penghasil tanaman pangan berkualitas seperti sorgum, hanjeli, kelor, bunga telang, dan jenis-jenis herbal lain. Kalau kita menanam dan senang berdagang, tentu kita akan mendapat keuntungan ekonomi. Kalau senang bertanam tapi enggan berdagang, bagikan ke tetangga kita. Kebaikan dari tanaman terkadang lebih membahagiakan saudara-saudara kita di banding memberi uang. [odesa.id]

Cara Menanam Sorgum dan Hanjeli

Sorgum Menyehatkan Kita

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: