Ahmad Syauqy: Bandung Utara Butuh Relawan Pendidikan

Keterbelakangan pendidikan anak-anak di desa bisa menimbulkan persoalan krusial bagi sebuah negara. Karena itu segala upaya harus dilakukan agar anak-anak petani di perdesaan, terutama yang sekolah formalnya terbelakang harus diback-up dengan gerakan sekolah informal. Hal tersebut dikatakan oleh Ahmad Syauqy Ridho, Manager Program Odesa Institut.

“Di masa normal saja banyak anak-anak petani di Cimenyan Kabupaten Bandung yang sekolahnya memprihatinkan. Ada banyak anak kelas 4 hingga kelas 5 SD yang belum bisa membaca. Ini karena sekolah formal tidak mendukung pengembangan individu dan selain itu juga disebabkan oleh keadaan orantuanya yang lemah dalam pendidikan,” kata Syauqi kepada odesa.id seusai mendampingi kegiatan belajar anak-anak petani di Kampung Waas Desa Mekarmanik Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung, Jumat, 16 Oktober 2020.

Menurut Syauqy, sekolah di perdesaan yang dekat dari Metropolitan Bandung saja masih banyak yang terbelakang. Ia menilai pemerintah kurang serius dalam memajukan pendidikan pada desa-desa terbelakang. Tetapi kalau berharap pada pemerintah saja, jelas akan banyak anak petani yang korban keterbelakangan pendidikan. Ia dan teman-teman mahasiswa pun mengambil inisiatif gerakan massal menggelar sekolah informal setiap Sabtu dan Minggu (Sekolah SAMIN) di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung.

“Saya ini juga mengajar di kota, menjadi guru di Bandung sehingga bisa membandingkan. Ada kesenjangan yang besar dalam hal pendidikan. Dan ini bisa membahayakan karena anak-anak petani kurang mendapatkan kesempatan menghadapi gelombang modernisasi,” jelas Syauqy.

Menurut Syauqi, keterbelakangan pendidikan pada orang miskin bisa menyebabkan anak-anak tersebut mewarisi kemiskinannya. Ia melihat persoalan kemiskinan salahsatunya harus diselesaikan dengan pendidikan yang bermutu, yang bisa membuat anak mengakses ilmu pengetahuan yang lebih luas, bisa bergaul lebih luas dan bisa mempratikkan inovasi baru dalam pekerjaan pertanian atau wirausaha.

Butuh Relawan
Syauqy dan 13 teman mahasiswanya bergabung dengan Yayasan Odesa Indonesia yang memiliki program pendampingan belajar anak-anak desa di Desa Mekarmanik, Desa Cikadut, Desa Cimenyan dan Desa Mandala Mekar. Semuanya di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Setiap akhir pekan, terutama hari sabtu dan hari minggu mahasiswa dan mahasiswi dari kota Bandung tersebut masuk ke kampung dan di sana mereka mengelar belajar bersama.

“Sudah tiga tahun kegiatan ini belajar di dua kampung. Semakin hari semakin banyak warga di kampung-kampung yang menginginkan kegiatan belajar. Sebab dengan belajar bersama ini anak-anak mendapatkan kemajuan, bukan sekadar urusan tulis-menulis, melainkan juga cakap bahasa Inggris dan juga semakin baik budi pekertinya,” terang Syauqi.

Odesa Institute sampai saat ini terus melanjutkan pembukaan kelas-kelas belajar baru di setiap kampung. Sayangnya, banyaknya permintaan sekolah sabtu dan minggu tidak seimbang dengan jumlah relawan. Ia pun berharap ada banyak warga kota yang bersedia rutin menjadi fasilitator belajar bagi anak-anak petani di Kawasan Bandung Utara, terutama di tiga kecamatan, yaitu Cimenyan, Cilengkrang dan Cileunyi.

“Kalau kita mau rutin bersama warga petani di desa, kita juga banyak ilmu, terutama ilmu kehidupan. Empati kita juga berkembang baik karena kita bisa mengenal dari dalam kehidupan fakir-miskin,” kata Syauqy. -Hamid/odesa.id

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*