Kelor, Bagaimana Menjual? di Mana Pasar Kelor?

Setiapkali kita menggagas budidaya tanaman baru, kenapa yang muncul paling dominan adalah “Kemana menjualnya? Bagaimana pasarnya?”




Apakah dalam urusan budidaya tanaman kita hanya akan urusan jual beli? Mencari uang? Tidak ada hal lain seperti berpikir gerakan kesehatan, gerakan hijau lingkungan, dan gerakan ketahanan pangan keluarga?




Apakah tidak sebaiknya yang dipertanyakan adalah bagaimana mengolah hasil pasca panennya? Bukankah apapun jenis panen pertanian jika dijual mentahan juga tidak akan memiliki nilai ekonomis yang baik? Bahkan emas pun kalau dijual mentah tentu tidak akan produktif untuk usaha.
Kelor bukan tanaman baru. Namun temuan-temuan beberapa tahun belakangan ini memungkinkan kita untuk mengembangkannya.

Organisasi PBB lewat FAO dan WHO menganjurkan tanaman kelor dikembangan karena kehebatan kelor untuk gizi rakyat, kesehatan orang sakit, dan sangat baik untuk perbaikan kualitas air, tanah, pupuk organik dan penghijauan. Kelor juga bisa ditanam tanpa lahan khusus, melainkan bisa dimanfaatkan pada lahan2 kosong yang tanahnya tandus seperti padang pasir.

Pada awalnya kelor harus dikembangkan karena kesadaran kita tentang kesehatan dan ekologi, bukan semata urusan dagang. Lagi pula, potensi hebat kelor sangat merugi kalau hanya diperbincangkan dalam ruang jual beli bahan mentah. Daun kelor butuh pengolahan yang baik karena kehebatan nutrisinya harus dijaga. Jika kita berpikirnya masih tradisional dengan menjual mentah, maka hanya bisa dikonsumsi secara langsung dan rendah nilai ekonominya. Maka, menjual mentah berarti hanya bisa diakukan pada pasar terdekat, pasar lokal.vItupun dengan resiko bisa susut gizi jika dibawa sembarangan pindah2 tempat dalam kondisi masih basah tanpa kemasan.

Kita harus mulai mengubah mindset pertanian. Setiap produk pertanian akan memiliki berlipat keuntungan manakala kita mampu mengolahnya. Tanamkan pemikiran, jangan sering menjual produk pertanian secara mentah. Itu tidak kreatif.




Proses produksi harus tuntas mulai dari budidaya, pasca panen pengolahan, barulah kita bicara marketing. Jika tahap pengolahan sampai tuntas seperti itu, niscaya betapa kita justru tidak usah sulit berpikir soal market karena market kelor sangat luas, pasokan sampai saat ini masih sangat kurang.

SARAN PRAKTIS: selagi kita belum memiliki dalam jumlah banyak,mari jalankan proses budidaya awal sebagai pembelajaran, tugas utama kita adalah memaksimalkan potensi pangan untuk rumah tangga dan tetangga kita. Itu lebih baik. Mari kampanyekan manfaat hebat pohon ajaib bernama moringa oliefera ini. Konsumsi untuk keluarga kita agar lebih sehat. Banyak orang sakit terbukti bisa pulih atau minimal membantu penyehatan karena kandungan gizi kelor.




Kembangkan dan kembangkan terus, sambil proses berjalan kita belajar pengolahan pasca panen. Dan jangan lupa belajar yang banyak dari tulisan-tulisan tentang kelor, moringa oliefera. Tonton videonya juga. Banyak pencerahan.
#kelor #pasarkelor #jualkelor

23 Komentar

  1. Aq punya banyak pohon kelor dan aq tidak tau harus jual kemana daun keringnya mohon bantuannya
    Butuh berapa ton pun tersedia di desa ku

    • Di mana itu? kalau kami kesulitan pasokan sehingga konsentrasi kami memperbanyak tanaman terus. Sebab antara kebutuhan konsumen dan stok masih timpang.

  2. saya sudah budidaya dan mengeringkan selama tiga hari dan ada bubuk juga
    tapi jualnya kemana?
    jika ada yg minat monggo
    085215413887

  3. saya sudah budidaya dan mengeringkan selama tiga hari dan ada bubuk juga
    tapi jualnya kemana?
    jika ada yg minat monggo
    085215413887

  4. Kelor sudah ada sejak dulu, aku sering makan sayur kelor meski Ndak punya aku bisa beli ke tetangga, murah fressh karena petik. Aku suka budidaya kelor, daunya bisa buat pakan tambahan ternak ayam walau cuma gak seberapa puluh jumlahnya. Aku juga menanam kelor, mengeringkan dan membuatnya sebagai teh. Aku juga menerima pesanan daun kelor kering maupun bubuk, bahkan yang butuh pun boleh kesini ambil. Sekayamanfaatapapun daun kelor, Indonesia punya keragaman flora yang bisa diolah menjadi simplisia dan bahan jamu. Mengkonsumsi kelor bagiku sama halnya mengkonsumsi jamu. Iya sekalilagi kuperjelas JAMU. Warisan tradisi yang mulai redup penikmat, kalau bukan kita sendiri yang bangga punya budaya, ia akan tinggal kenangan.

  5. Khasiatnya memang baik tapi sayang pasarnya dak menentu, bagaimana kita mau kembangkan.? Klo tuk komaumsi pribadi 2 pohon saya rasa cukup..

  6. Saya sudah mengolah kelor menjadi teh dan produk kecantikan. Tapi saya belum bisa mendatangkan lebih banyak konsumen. Jika ada yang berminat bisa menghubungi saya 085733544240

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*