Namaku Tebing Kosmo

Oleh: Herry Dim. Kepala Divisi Revitalisasi Sumberdaya Alam Odesa Indonesia

TEBING berupa susunan batu alam yang berada di kawasan Cisanggarung Lebak, Pasir Impun, Cimenyan, Kab. Bandung kini memiliki nama “Tebing Kosmo.”

Penamaan tersebut dirasakan perlu karena istilah Batu Templek itu terdapat dua lokasi, yaitu yang berada di kampung Cisanggarung, dan satunya lagi di kampung sentak dulang. Saat ini keduanya memang kerap disebut “batu templek” dan/atau karena di sana ada air terjun maka sebutannya “curug batu templek.” Padahal itu bukanlah nama spesifik melainkan sebutan bagi kawasan yang semula memang menghasilkan jenis batu templek atau tempat penambangan jenis batu tersebut.

Sebutan berdasar produk hasil penambangan, itu akan lebih membingungkan lagi jika dikaitkan dengan daerah lain yang memiliki produk yang sama dan/atau pembedanya hanyalah pada nama daerah penghasilnya semisal kita kenal batu templek Banjarnegara, batu templek Purwakarta, batu templek Garut, batu templek Malingping, batu templek Salagedang, dsb. Karena alasan inilah –saat terjadi interaksi antara Odesa Indonesia bersama warga sekitar dalam rangka program kegiatan mewujudkan pasar rakyat dengan tema “Saba Desa” kita menggali nama baru, dengan istilah Tebing Kosmo.

Dari Tambang ke Pariwisata

SEJAK 19 tahun yang lalu sebetulnya sudah tidak ada penambangan lagi di kawasan Cisanggarung Lebak. Hal itu dikatakan oleh Ujang Sahla (60) yaitu pemilik/salaseorang pewaris dari kawasan tersebut.

Diakui oleh Ujang Sahla bahwa tambang batu templek pada masanya pernah memberikan kesejahteraan. Tapi kemudian ia memutuskan untuk berhenti. Dia ingin menyelamatkan alam dari kehancuran akibat penambangan batu dan beralih untuk menggarap pariwisata. Itikad mulianya itulah yang “gayung bersambut” dengan visi OI.

Dalam tiga tahun terakhir ini OI memang sedang terus berjuang swadaya bahu-membahu untuk mengentaskan “keterbelakangan” dan kemiskinan masyarakat Cimenyan melalui empat “pilar peradaban” yaitu ketersediaan pangan, ternak, literasi, teknologi.

Dalam pandangan OI, pariwisata sejauh bisa dikelola masyarakat dan/atau tidak dikuasai oleh pemodal, itu cukup potensial sebagai tempat pembelajaran publik baik dalam hal yang berkenaan langsung dengan sistem kelola wisata atau pun wawasan kemasyarakatan lainnya. Itu setidaknya berkenaan dengan literasi dan teknologi (terapan). Pada titik ujungnya, pariwisata pun bisa saja menjadi “show window” bahkan “outlet” bagi hasil tani dan ternak masyarakat Cimenyan yang telah berjalan.




Ketika teman-teman dari Grup MNC/RCTI bersama Miss Indonesia 2018, Alya Nurshabrina turut ambil peran dalam membenahi sanitasi kampung sekitar Tebing sepanjang Agutus hingga Oktober, di situlah muncul gagasan penting pemberian nama karena ini akan menyangkut brand lingkungan di masa depan. Itu pula yang kemudian disepakati bersama oleh OI, Ujang Sahla, dan beberapa warga yang relevan dalam urusan program “Saba Desa.”

Tebing Kosmo

DARI selintas catatan di atas, satu hal yang penting digaris bawahi, bahwa kawasan di Cisanggarung Lebak itu tidak lagi menjadi tempat penambangan batu templek. Ia telah menjadi kawasan baru yang tidak lagi berkenaan dengan batu templek.

Usut punya usut, melalui studi ringkas (yang tentu kelak perlu diperdalam lagi), ditemukan catatan bahwa bebatuan di kawasan Cisanggarung Lebak itu termasuk pada bebatuan Metamorf yang pembentukannya terjadi jutaan tahun yang lalu bersamaan dengan masa terbentuknya cekungan Bandung.

Itu artinya berada pada satu rangkaian pembentukan alam (kosmogoni). Sejatinya berada di dalam satu keteraturan, satu susunan atau berada di suatu sistem alam semesta: kosmos.

Tebing yang kini tersisa di Cisanggarung Lebak tak ayal merupakan sedikit saja dari “sisa” kosmos cekungan Bandung yang masih bisa dilihat dan dinikmati keindahannya. Atas dasar itu, sebut namaku: Tebing Kosmo.***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: