Berdamai dengan Alam sebagai Solusi Hidup Manusia

Berdamai dengan alam-. Kehendak naluriah yang paling dasar dari kehidupan setiap spesies adalah bertahan hidup (survive). Bertahan dan mengembangkan diri menjadi “kodrat batin” setiap spesies, bahkan sejak masih dalam bentuk embrio. 

perdamaian alam
Berdamai dengan Alam sebagai solusi survive manusia, botani dan satwa.

Untuk survive itulah setiap spesies berurusan dengan “masalah” sekaligus “cara”, yakni berkompetisi. Tetapi fakta sejarah membuktikan, mengandalkan kemampuan kompetisi bukanlah solusi yang tepat karena dari pihak yang kalah timbul dampak buruk. Yang kalah mati dan menyisakan problem bagi keturunannya, yang menang hanya sesaat survive-nya untuk selanjutnya dilanda ancaman untuk dikalahkan di lain waktu.

Untuk sebuah keberlangsungan yang panjang manusia merasa perlu mengevaluasi perilaku ini.  Karena pepatah “siapa yang kuat akan bertahan” tidak menguntungkan semua pihak, maka lebih baik menerapkan pirinsip “siapa yang bisa beradaptasi” itulah yang bisa lebih survive. 

Salahsatu usaha manusia dalam hal ini ialah menegakkan prinsip hidup berproduksi dan mengembangkan kerjasama kolektif. Inilah pola baru hidup manusia yang disebut pertanian. Manusia berbudidaya meninggalkan kehidupan nomad yang sebagian besar berpola barbarian.

Dukung dengan Donasi Gerakan Pertanian Ramah Lingkungan sebagai Langkah Perdamaian dengan Alam

Hidup berkomunal -dengan sesama manusia, termasuk dengan hewan ternak dan botani- memungkinkan manusia lebih survive karena produktif menghasilkan makanan, keamanan dan pengembangan keluarga. Dari sinilah manusia menemukan cara baru untuk mengatasi entropi hidup; rumit tak beraturan, dan mampu menghasilkan produk budaya.

Praktik pertanian ramah lingkungan
Berdamai dengan alam adalah mindset ekologi yang penting dimiliki petani untuk menghasilkan pangan secara berkelanjutan.

Apakah urusan selesai? Tidak. konflik dengan kelompok manusia lain tetap ada, bahkan sampai munculnya negara-bangsa di era sekarang. Tetapi dengan kekuatan kerjasama, manusia lebih mudah survive. Terutama pada mereka yang meraih kemakmuran bisa mendapatkan kebahagiaan yang lebih. 

Dengan kata lain kita telah mendapatkan pelajaran bahwa menerapkan mindset “mengedepankan kerjasama” lebih menguntungkan daripada menerapkan mindset “mengalahkan yang lain”. 

Munculnya kesadaran kerjasama melahirkan rasa saling percaya untuk saling bertukar. Nilai-nilai moral pun berkembang. Yang paling mendasar ialah pertukaran barang untuk saling memenuhi kebutuhan hidup.

damai di dalam
Berdamai dengan Alam membutuhkan kerjasama lintas spesies.

Maka wajar jika perdagangan kemudian disebut sebagai piranti dasar lahirnya empati. Salahsatu contohnya kita tidak lagi menemukan masyarakat kelaparan atau tertimpa bencana yang terbiarkan terlalu lama. Sebab dengan majunya perdagangan, apalagi ditopang dengan filantropi, masyarakat yang menderita bisa tertangani lebih cepat. 

Kerjasama antar sesama manusia terbukti menguntungkan. Karena kita sadar hidup saling bergantung dengan semua isi alam, maka relasi kerjasama pun butuh dikembangkan lebih luas.

Terhadap flora dan fauna relasi kita mesti meninggalkan pendekatan antoprosentris dan lebih memakai pendekatan ekosentris. Implikasinya kita perlu memperkuat kecerdasan emosional dengan menekankan empati terhadap semua isi alam yang terhubung dalam keseharian kita. 

Esai Lain dari Faiz Manshur: Kerusakan Alam dan Kemiskinan Petani

Terhadap perang kita berusaha menghentikannya. Terhadap situasi damai kita harus menggunakannya sebagai kesempatan produktif mengembangkan diri untuk melawan musuh bernama ketidakadilan sosial. 

Ketidakadilan sosial yang paling menonjol di Indonesia adalah kemiskinan ekonomi dan keterbelakangan pendidikan. Negara belum optimal membawa spirit Pancasila, terutama sila kelima.

Kehidupan rakyat desa masih jauh dari kemampuan survival dasar karena sumber pangan kita lemah dan pendidikan kita belum relevan untuk menghadapi entropi kehidupan. Sejalan dengan itu terdapat fakta kerusakan lingkungan terbukti semakin memiskinkan masyarakat desa.

Artinya, praktik survival ekonomi kita belum berdamai dengan alam. Kita perlu menggeser pola pikir dari “menaklukkan alam” ke arah “berdamai dengan alam”.

Apalagi masyarakat kita mayoritas hidup di dunia agrikultur, maka usaha menyebarkan pengetahuan agrikultur yang ekologis harus diusahakan agar survival hidup rakyat bisa lebih beradab. []

Penulis: Faiz Manshur.

Admin: Fadhil Azzam

Baca Esai-Esai Faiz Manshur yang lain di sini:

Benahi lingkungan

Kerusakan alam pertanian benar-benar telah menghilangkan modal survive para petani. Di Kawasan Bandung Utara misalnya, terdapat kenyataan (dan ini juga terjadi di hampir seluruh penjuru dunia sebagaimana laporan-laporan FAO/PBB), bahwa hilangnya kekuatan alam menjadikan kemiskinan merajalela.

Baca Selanjutnya Esai Faiz Manshur: Kehilangan Modal Alam

Baca Esai: Empati Sebagai Cara Survive Masyarakat 

Baca Esai Cara Survive Manusia di Tengah Pandemi

Baca Esai Filsafat Hidup: Bekerja untuk Hidup

Video Gagasan Pemberdayaan Masyarakat Petani Desa

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja