Dasar-Dasar Pendampingan Odesa Indonesia
Kita fokuskan orientasi pada “bumi”, pada kenyataan untuk melihat kelemahan dan kelebihan lalu kemudian diarahkan pada usaha perubahan yang lebih baik
Kita fokuskan orientasi pada “bumi”, pada kenyataan untuk melihat kelemahan dan kelebihan lalu kemudian diarahkan pada usaha perubahan yang lebih baik
Penelitian seniman Tisna Sanjaya, antara lain mencatat hilangnya 10 mata air di Kecamatan Cimenyan karena tertimbun proyek perumahan.
Pembalikan pemahaman dari kondisi mental dan status sosial petani yang “hinadina” ke “mulia” ini perlu digerakkan
Supaya ide ini berjalan, harus ada penggerak yang memikirkan kontinuitas dan pertumbuhan taman bacaan
Pemerintahan yang tidak mampu mengurus sumberdaya manusia itulah yang sering merawat kemiskinan berkembang turun temurun menjadi problem kultural
Indonesia mengalami problem gizi. Di perkotaan kelebihan gizi lalu banyak yang mati. Di perdesaan kekurangan gizi mati juga. Mayoritas rakyat Indonesia pada mati sebelum sejahtera!.
Upah yang minim menyebabkan mereka tak bisa sekolahkan anak. Anak perempuan adalah beban karena itu harus segera dikawinkan
Sialnya makin modern, keinginan mengonsumsi makanan olahan dan makanan kreasi (crave-ity) makin tinggi
Produsen literasi ( penulis/wartawan/penerbit) perlu membuat banyak buku tentang “keren beken” menjadi petani
Kecukupan pangan manusia menentukan peradaban. Di baliknya ada budidaya yang menentukan kebudayaan, dan pembibitan merupakan pilar dasar kebudayaan