Daulat Pangan Mesti Bersandar Pada Pembibitan

Kecukupan pangan manusia menentukan peradaban. Di baliknya ada budidaya yang menentukan kebudayaan yaitu budidaya tanaman pangan. Dan pembibitan merupakan pondasi budidaya tanaman pangan.

Pangan adalah pilar kebudayaan, dan budidaya merupakan pilar peradaban. Bagaimana manusia mencari makan dan kemampuan memenuhi kebutuhan hidupnya sangat bergantung pada kemampuan budidaya. Itulah mengapa budidaya pangan sangat menentukan budaya, bahkan peradaban umat manusia pada bangsa tertentu. Dalam bidang tanaman pangan sendiri dipakai istilah budidaya Budi artinya akal (memuat ilmu pengetahuan spesies, kemampuan teknis dan bahkan melibatkan filosofis), sedangkan daya (memuat nilai-nilai kekuatan, karakter, dan kemampuan menghasilkan kesuksesan akhir).




Indonesilemah dalam urusan pangan. Kita semua selalu kekurangan pangan sehingga hampir setiap kebutuhan pangan impor dari bangsa lain karena salahsatu faktornya kita lemah pada pembibitan. Itulah mengapa pula ketika pemerintah bermaksud menggerakkan pertanian, urusan bibit pun harus menyediakan anggaran untuk impor.

Apa salahnya?
Pendidikan luar sekolah untuk para petani dalam hal pembibitan tidak berjalan baik. Banyak petani yang lemah dalam pembibitan sehingga sekalipun miskin tetap harus menjadi konsumen. Pembibitan memang bukan perkara mudah, namun yang sulit inilah yang justru harus diselesaikan sebab sulit bukan berarti tidak bisa.

Menyadari hal ini, Odesa Indonesia menjadikan kegiatan pembibitan sebagai pilar mendasar kegiatan pertanian. Misalnya, pendampingan pembibitan dilakukan pada sosok Kang Agus Kopi di Sindanglaya. Sebelumnya ia punya modal dasar yang baik dalam urusan tani, terutama hobinya dalam membibitkan jenis-jenis tanaman. Modal dasar inilah yang kemudian disambut oleh Odesa Indonesia dengan pendampingan khusus secara serius. Bukan hanya sekadar mengucuri modal, namun juga mendampingi dalam upgrading ilmu pengetahuan dan hal-hal yang membuat pembibitan Kang Agus lebih terjamin menghasilkan panen bibit. Goal. Banyak sekali bibit tanaman kopi dan bibit tanaman obat lain yang berhasil dan Odesa tanpa perlu repot-repot belanja bibit untuk memasok kegiatan pertanian para petani di Kawasan Bandung Utara (KBU).

Pendidikan pembibitan akan terus berlangsung di kalangan petani lain. Bibit kelor sejak awal tahun 2017 menjadi titik penting karena kelor yang seharusnya menjadi tanaman rakyat itu belum memiliki bibit khusus. Ketika negara-negara yang maju dalam pertanian seperti Israel, Amerika Serikat, Perancis, Kuba dan lain-lain sejak tahun 2013 silam menggenjot tanaman kelor, kita belum bergerak secara konkret. Hanya sekup-sekup kecil yang bergiat karena kreativitasnya.




Ada yang melek informasi dan segera menanam kelor namun masih mengandalkan bibit stek. Jika bicara bibit stek jumlahnya tentu tidak akan mencukupi kebutuhan pertanian. Orang hanya bisa bilang “di kampung kami ada banyak pohon kelor dan bisa menjadi bibit”. Setelah dihitung hanya beberapa pohon, dan kalaupun ditanam hanya menjadi ratusan pohon, sementara kebutuhan kita adalah ratusan ribu bibit.


Nilai dan Harga

Bibit tanaman memiliki nilai tinggi karena memang sangat menentukan pada awal gerak pertanian/budidaya pangan. Selain jumlah (kuantitas), bibit juga berhadapan dengan nilai kualitas. Itulah mengapa kemahiran seseorang yang membibitkan harus mendapatkan nilai lebih. Ada kualitas individu dari ilmu, ada modal anggaran yang beresiko, ada ketelatenan yang menyita waktu panjang untuk mengawal keberhasilan pembibitan.

Para pembeli bibit yang mampu menyediakan anggaran sebenarnya lebih enak karena tidak mendapatkan banyak resiko sekalipun tinggal tanam. Resikonya adalah harus menyediakan pembiayaan dengan belanja. sementara membibit sendiri butuh tenaga khusus dengan kualitas ilmu pengetahuan dan praktik yang memadai. Pilihan orang berduit kemudian bisa mengambil jalan pintas belanja bibit. Jika ingin berhemat pada modal pertanian, maka dalam proses pembibitan seseorang harus mumpuni karena pembibitan memiliki resiko, mulai dari tingkat kegagalan spesies saat berumur beberapa hari, resiko hama, waktu yang panjang perawatan, hingga modal infrastruktur.

Karena itulah mengapa dalam urusan bibit seringkali menjadi beban tersendiri bersama beban modal tenaga kerja para petani. Sebagai contoh, bibit kopi yang baik akan sangat susah didapat dalam harga di bawah Rp 3.000 (harga paket ribuan) karena panjangnya waktu mencapai 7-9 bulan masa perawatan.

Sementara bibit kelor dari benih/biji bisa ketemu harga yang lebih tinggi karena sistem pengelolaannya juga lebih membutuhkan perlakukan khusus. Pada kelor, harga eceren bisa menembus harga antara Rp 15.000-25.000 untuk per-pohon dalam usia 3-4 bulan, sedangkan harga paket ratusan harganya antara Rp 8.000-12.000, dan harga lebih rendah Rp 4.000-6.000 manakala pembelian paket ribuan.




Petani harus mahir dalam pembibitan manakala ia ingin mendapatkan kesuksesan dalam pertaniannya. Namun jika ia bisa menyediakan finansial untuk belanja bibit, maka ia tinggal bekerja memaksimalkan perawatan tanaman sampai panen.

Pada akhirnya, daulat pangan sangat bergantung pada daulat bibit. Karena itu untuk keluar dari stagnasi pertanian, kita semua harus serius mengurus pembibitan. (Faiz Manshur). Odesa.id

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*