Literasi dan Perubahan Generasi Petani

Oleh FAIZ MANSHUR. Ketua Yayasan Odesa Indonesia.




Kalau kita ingin mengetahui bahwa manfaat bacaan itu benar-benar akan mengubah kehidupan, praktikkan literasi berkelanjutan di desa-desa yang sebelumnya kosong oleh kegiatan literasi. Awal tahun 2016 lalu saya bermukim di desa, 7 kilometer dari tempat saya sebelumnya di Perumahan Arcamanik kota Bandung.

Terkait dengan masalah petani desa yang jauh dari bacaan, telah mendorong kami memfasilitasi mereka. Keterbelakangan pendidikan di desa yang berjarak rentang 3 hingga 15 Km dari Lapas Sukamiskin Kota Bandung ini sangat tidak lazim untuk sebuah ukuran hidup di zaman modern. Saya tidak ragu menyimpulkan keterbelakangan pendidikan ini sampai tertinggal 40 tahun berbanding dengan perkotaan Bandung.



Kami harus mengambil tindakan. Aksi kecil-kecilan dimulai. Anak-anak desa kita pancing untuk berinteraksi di rumah dengan memperkenalkan buku bacaan. Saya buka rumah lebar-lebar buat siapa saja, kapan saja. Kursus Bahasa inggris menjadi pilihan mereka, dan itu sampai kini berjalan baik-baik tanpa desakan, atau keruwetan yang berarti.

Proses interaksi berjalan tiga bulan membuat kita mulai memahami akar-akar persoalan di balik ketidakmampuan anak-anak petani tidak bisa membaca secara lancar, tak mahir menulis secara akurat dan imajinasinya benar-benar lemah.

Ada kebanyataan di balik itu semua, bahwa sekolah formal tidak berjalan secara baik. Jelas banyak guru yang kurang upgrading dalam mengajar setiap bidang ilmu tertentu karena dibuktikan banyak siswa yang sangat lemah dalam setiap bidang pelajaran. Terlihat jelas perihal muatan pembelajaran karakter di sekolah formal tidak berjalan baik karena terdapat kelemahan mental anak-anak dalam kedisiplinan, atau wawasan pemikiran. dari pengenalan objektif terhadap anak-anak desa itulah kemudian kita meluncurkan strategi pendidikan karakter.

Bacaan menjadi kebutuhan pokok, tetapi praktik literasi dengan aksi pendampingan rutin berkelanjutan mutlak dibutuhkan. Fakta yang menyenangkan adalah, ternyata setiap anak-anak itu gandrung terhadap bacaan. Karena bacaan koleksi saya tentu bukan hal yang menarik bagi orang desa, apalagi remaja, kebutuhan literatur kami usahakan berbeda. Satu persatu jenis bacaan dicoba. Satu persatu pula sepanjang satu tahun perjalanan pun ketemu fakta lain.

Pada dasarnya, semua buku sumbangan sangat menyenangkan. Namun jenis buku-buku fiksi atau modul/panduan yang popular dari Teman Yuliani Liputo (Penerbit Mizan) merupakan senjata ampuh untuk mengubah keadaan pikiran mereka.

Saya memantau rutin perkembangan peserta didik, minimal satu minggu sekali untuk melihat perubahan pemikiran dan sikap mereka. Buku yang baik dan cocok dari Mizan(nia) sangat banyak berkontribusi memutus belenggu pemikiran yang cupet.

Adatiga anak yang sangat penasaran dengan dunia presenter karena ada buku karya presenter. Dialog tentang dunia presenter pun kemudian terjadi. Anak-anak yang selama ini hanya tahu tentang presenter televisi namun tidak tahu sisi lain kehidupan para persenter di luar layar, mendadak menjadi tahu lebih sisi lain. Ada juga yang bilang, untuk bekerja di televisi itu ternyata harus bisa menulis, harus sekolah tinggi, harus banyak membaca. (Itu tafsiran 3 anak. Bukan tafsiran saya). Satu contoh lagi, ada banyak anak petani yang bisa menjadi penulis, karena mereka mendapatkan biodata anak desa/petani yang bisa menulis (Kecil-kecil Punya Karya).




Selama ini mereka tidak pernah tahu sosok penulis itu seperti apa. Yang mereka kenal dari sosok penulis adalah nama dengan sederet gelar yang wajahnya berkacamata di buku biografi pelajaran. Hadirnya buku-buku karya anak/remaja dan juga kalangan selebritas mengubah pandangan mereka.

Praktik membaca dengan pendampingian memicu tindakan lain yang lebih baik, yakni kesediaan menulis. Dengan praktik menulis cara pandang dan perilaku terhadap ilmu pengetahuan mulai berubah ke arah yang lebih baik. Inilah perubahan. Inilah pengayaan. Inilah transformasi akalbudi. Dan yang lebih penting lagi anak-anak dan remaja ini juga merasa bahwa menikah pada usia sekolah itu tidak baik, perlu belajar dan sekolah tinggi. (Entah mereka membaca apa sehingga pada suatu dialog muncul pandangan demikian). Pasalnya di desa-desa Cimenyan masih banyak sekali perempuan menikah usia 15,16 atau 17 tahun dan laki-laki menikah usia 21,22,23 tahun.

Mengapa hal seperti ini penting saya utarakan? Karena sebelumnya kami pernah dikagetkan tentang pandangan mereka terkait dengan apa yang disebut oleh mereka sebagai “orang keren”. Orang keren dalam pandangan anak-anak desa ini tak jauh dari ruang lingkup yang mereka pahami dalam konteks yang dekat dengan kehidupan mereka, seperti kasir Indomaret, Polisi, Pedagang Pasar, Sopir Truk, Sopir Bus, dan sejenisnya. Ini bukan soal status sosial yang tinggi dan yang rendah, melainkan sebatas kategori tentang imajinasi yang dibayangkan kebanyakan anak-anak. Kami terheran-heran kenapa tidak ada yang minat jadi dokter, jadi dosen, jadi walikota, jadi gubernur, jadi presiden atau jadi pelaut. Bahkan dulu tidak mendengar ada anak yang minat menjadi guru. Bisik-bisik ada alasan yang pernah mengemuka, guru itu galak…..:) Sekarang cara pandang mereka tentu sudah berubah.

Interaksi mengubah segalanya. Buku-buku anak yang tepat akan mudah mengubah keadaan. Membaca karena cocok dengan alam pikir mereka bisa mengubah pemikiran secara radikal; dari yang terbatas menjadi lebih luas, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dan seterusnya.

Bagi saya literasi bukan sekadar mendorong gerakan teriak ala demonstran “ayo baca”. Ini salah besar. Apa yang dibaca? Itu penting. Lebih penting lagi, mendampingi proses-proses pembacaan.




Literasi adalah serangkaian “proses produksi” penalaran berbasis teks dan pada tahap lebih jauh kemampuan memproduksi teks; semuanya bertujuan mengubah alam pikir, lalu mengubah nasib. Literasi adalah dunia pemahaman yang arahnya untuk kesadaran. Setelah memahami, paham yang didapat tersebut harus mampu menjadi alat untuk memahami dunia lalu menggerakkan perubahan.

Melalui kegiatan literasi itulah daya pikir bisa berubah. Fakta membuktikan, praktik menggali pemahaman berbasis literasi berbeda dengan pemahaman dari praktik menonton televisi. Pada televisi memang komplet dan siapapun, termasuk golongan buta huruf bisa memahami informasi/pesan yang ditonton karena karena bantuan visual dan komunikasi lisan. Namun televisi rapuh dalam membentuk daya pikir. Televisi punya kemampuan unggul dalam mendorong tindakan, sayangnya kebanyakan materi televisi adalah dorongan konsumsi, dorongan bergaya, sedikit mendorong kreatif produksi. Tak jarang banyak orang bertindak dipengaruhi televisi mengambil “tindakan tanpa berpikir.” Sementara buku, tentu saja dengan pendampingan apresiasi, mampu memperkokoh pilarpemikiran dan bahkan mengubah imajinasi.

Terentang rekam sejarah, literasi ini menjadi pilar peradaban setelah budidaya pangan dan ternak/satwa/transportasi. Di luar urusan itu, jika hidup manusia hendak lebih beradab maka harus kuat dalam hal literasi atau kita sebut ilmu pengetahuan.
Dengan literasi, tindakan manusia bisa melompat jauh karena pemikiran kemudian memandu laku hidup.

mengatasi keterbelakangan Indonesia tentu harus bicara masalah literasi di desa-desa. Distribusi bacaan yang timpang, hanya untuk orang-orang kota mengakibatkan mayoritas bangsa lemah. Anak-anak yang tidak mendapatkan kesempatan belajar lebih lama hingga usia 25 tahun menyebabkan terbelakang dalam mindset, skill, dan juga pergaulan.

Pendidikan luar sekolah adalah wajib karena sekolah formal senantiasa mengalami kerapuhan dan orangtua yang rendah pendidikan tidak akan bisa menolong generasi dari malapateka ini.

Buku-buku yang kaya imajinasi yang mampu membangkitkan anak/remaja untuk hidup lebih manusia. Jumlahnya juga sudah banyak dan kualitasnya semakin baik di banding era 1990-an. Masalahnya, adakah organisasi/komunitas sebagai subjek yang bergerak untuk menyambungkan dengan anak-anak desa itu?

Terkadang kita harus berani berpikir mengubah keadaan bukan hal yang sulit. Dari tulisan ini memiliki pesan singkat, bawalah barang yang tepat pada tempatnya. Gerakkan literasi ke perdesaan dengan buku-buku yang bermutu. Perubahan besar akan terjadi pada generasi desa.

Produsen literasi ( penulis/wartawan/penerbit) perlu membuat banyak buku tentang “keren beken” menjadi petani. Salahsatu targetnya adalah membawa anak-anak Indonesia bercita-cita menjadi petani. Petani yang keren beken, bukan yang kawin muda, tidak pernah baca dan penyandang pra-sejahtera.




Seperti apa petani keren beken ini? Jawabnya, ayo pahami dari lapangan. Yang jelas, karya tulis fiksi atau non fiksi tentang kehidupan petani akan berhasil baik jika ditulis oleh penulis yang tidak malas terjun ke dalam kehidupan petani.[]

Baca Kursus Bahasa Inggris dan Pembangunan Karakter Anak Desa

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*