Bagaimana Petani Memandang Anak?

OLEH FAIZ MANSHUR. KETUA ODESA INDONESIA, BANDUNG.
Anak perempuan dipandang sebagai beban karena itu harus cepat dinikahkan. Anak laki-laki dipandang sebagai aset tenaga kerja, karena itu jangan sekolah yang jauh supaya tetap bisa membantu bapak di rumah.




Ini kesimpulan saya setelah lama mengurai persoalan rendahnya pendidikan di perdesaan Cimenyan. Ironisnya ini terjadi di desa-desa perbukitan Kawasan Bandung Utara (KBU) yang kalau kita datangi dari Kota Bandung hanya butuh waktu 15-30 menit saja. Yayasan Odesa Indonesia kami dirikan juga untuk merespon persoalan yang selama ini nyaris dibiarkan oleh negara dan kurang banyaknya kelompok sipil dalam melakukan pendampingan.

FAKTOR ORANG TUA
Ada sekian banyak faktor mengapa partisipasi pendidikan begitu rendah di perdesaan Kecamatan Cimenyan, juga Kecamatan Cilengkrang dan Cileunyi Kabupaten Bandung. Terutama pada keluarga Pra-Sejahtera dan Sejahtera I,-problem dari orangtua rupanya menjadi salahsatu persoalan yang pokok dan perlu dipecahkan secara serius. Oleh orang tuanya, anak perempuan dianggap sebagai beban dan segera harus dikawinkan.Sedangkan anak laki-laki tidak perlu sekolah tinggi karena itu menguras biaya dan orang tua akan kehilangan “tenaga kerja.”




Setelah dikawinkan pada usia 15 atau 17 tahun, anak perempuan yang diharapkan secara ekonomi ini lepas dari tanggungjawab orangtuanya. Seakan-akan urusan selesai setelah anaknya mendapatkan suami. Namun dari fakta kebanyakan yang terjadi perbedaan beban, bukan berkurangnya beban.

Kebanyakan problem terus berjalan, bahkan semakin berat jika sebelumnya saat menikah harus menjual ternak/sapi atau tanahnya. Lebih-lebih perjodohan– yang jika dilihat dalam konteks ekonomi–, si miskin ketemu miskin, akhirnya membentuk keluarga miskin baru.

Wajar jika Rumah Tidak Layak Huni pun sering bertambah karena keluarga baru dari golongan Keluarga Pra-Sejahtera atau Sejahtera I ini membangun rumah seadanya, semampunya. Soal sarana Mandi, Cuci dan Kakus (MCK) bukan suatu yang mendasar, akhirnya urusan MCK ikut nimbrung di rumah orantuanya.

Kembali pada persoalan tidak minatnya anak-anak bersekolah lebih tinggi, jika hal tersebut merupakan murni faktor ekonomi tentu masalahnya bisa lebih mudah diatasi. Namun bagaimana seandainya kita menawarkan sekolah gratis ke luar desa, membiayai sampai tamat SMA?

Tadinya kami berpikir begitu. Kalau memang urusan beban ekonomi, kita akan usahakan beasiswa. Sekolah gratis sampai SMA tapi di luar daerah supaya mendapatkan pengalaman hidup dari rantau dan tidak terkungkung budaya. Di rantau anak akan lebih mendapatkan “pendidikan” kemandirian dari praktik sehari-hari, terpisah dari orangtuanya.

Sayangnya, lebih dari 10 orangtua yang kami temui tidak ada yang tertarik akan hal ini. Anak maupun orangtua sama-sama berat. Takut ini takut itu. Padahal di jauh merantau sana anaknya akan lebih sejahtera secara makan, sandang terpenuhi, tidak usah membayar sampai lulus.

Banyak alasan untuk menolak ide ini. Alasan satu tidak cukup untuk membentengi argumentasinya, alasan lain muncul, atau dimunculkan untuk tidak merealisasikan langkah baru. Intinya sekolah itu tidak perlu. Pendidikan tidak perlu karena yang penting bisa hidup cukup bisa mencari duit.




Lalu kita pun masuk pada pertanyaan, kalau anakmu cuma sekolah rendahan dan tidak pernah merantau, nasibnya tidak akan jauh dari orangtuanya. Lagi-lagi jawabannya muter-muter. Para petani itu penuh rasa cemas, takut dan khawatir.

Seorang teman yang asli dari Cimenyan bilang, orang di sini itu repot kalau urusan merantau. Paling kalau merantau ke Sumatera satu atau dua tahun kerja nguli tani. Pulang dapat 5 sampai 10 juta, buat benahi rumahnya, setelah itu ya tetap bertani seperti sediakala. Artinya tidak ada perubahan. Penghasilan rata-rata hanya 400-900 ribu perbulan menghidupi 3-4 anggota keluarga.

MENCARI JALAN KELUAR
Alam yang tenang tanpa peperangan ternyata terdapat sisi psikologis yang runyam; usaha perubahan adalah sesuatu yang menakutkan, dan sepertinya lebih memilih kemapanan sekalipun kemapanan itu dirasakan menyiksa juga.

Saya tidak pesimis karena nanti selalu ada jalan keluar untuk melakukan perbaikan ini. Apa yang saya ungkapkan di atas merupakan catatan mapping yang buru-buru harus saya catat supaya kita tidak kehilangan memory dari praktik pendampingan maupun advokasi di lapangan.

Imajinasi anak harus diperkuat dengan pentingnya merantau. Sebab dirantau akan lebih menjanjikan hidupnya. Pulang dari rantau juga akan lebih baik karena menimba pengalaman. Perkawinan di rantau akan lebih baik, apalagi mendapatkan nasib berjodoh si miskin berkawin dengan si makmur dan yang lebih penting lagi adalah membuka kesempatan baru agar hidup petani, terutama anak-anak petani ini lebih berdaya.-[]
Baca Bagaimana Mang Toha Mengubah Nasib Petani?
Baca Potret Buram Pendidikan Cimenyan Bandung

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*