Radikalis Cimenyan

herry dim OLEH: HERRY DIM. Seniman, Pengamat Kebudayaan, Penulis, tinggal di Cibolerang, Bandung.




KOSAKATA radikal, radikalis, radikalisme, terutama akhir-akhir ini, kian kerap kita dengar/baca. Secara umum diartikan aksi kekerasan atas nama agama, intoleran, seperti potongan berita berikut ini: “Potensi aksi radikal atau kekerasan atas nama agama masih tinggi di Indonesia. Sebanyak 11 juta warga negara Indonesia berpotensi melakukan tindakan tersebut. Demikian hasil survei nasional tentang intoleransi dan radikalisme sosial keagamaan di kalangan Muslim Indonesia tahun 2016 yang dilakukan Wahid Foundation bersama Lembaga Survei Indonesia” (lihat, PR, 16 Februari, 2017).

Radikal sesungguhnya berasal dari kata radix, bahasa Latin yang berarti “akar” dianggap pula sebagai sinonim untuk sistem angka matematik. Lebih umum lagi diberlakukan atau bahkan menjadi dasar di dalam tradisi filsafat, sehingga ada istilah “berfikir filosofis itu adalah suatu cara berfikir atau pengajuan pertanyaan-pertanyaan hingga ke radix, radikal, demi ditemukannya jawaban-jawaban yang mendasar.” Jika ditautkan dengan pemikiran mazhab Frankfurt yang senantiasa menghendaki agar filsafat itu pun menjadi praxis (tindakan), maka pemikiran radikal itu tak lain sebagai dasar bagi tindakan untuk menyelesaikan persoalan sosial dan kemanusiaan pada umumnya secara mendasar.

Ringkasnya, pengertian radix, radikal, radikalisme itu sejatinya tidak ada sangkut-pautnya dengan tindak kekerasan atas nama agama serta sikap intoleran. Entah sejak kapan pengertian radix itu mengalami pembelokan dan/atau penghancuran makna. Lebih intinya lagi, di dalam diskursus radikal seperti yang menjadi pengertian terkini, adalah hilangnya pikiran dan kecendekiaan hingga tinggal lah tindakan, itu pun berupa tindakan kekerasan yang bahkan disebutnya atas nama agama. Padahal, tindakan kekerasan (tanpa atau pun atas nama agama dan/atau atas nama apapun) yang bersifat menggerombol untuk menggulingkan suatu kuasa tertentu, itu lebih dekat dengan diskursus pemberontakan atau sekurang-kurangnya merongrong. Jika ditilik, ada kemungkinan terjadinya pembelokan makna atas diskursus radikal itu bermula dari kehendak eufemisme (penghalusan) terhadap tindakan merongrong atau pemberontakan.

Sementara di balik eufemisme itu, mungkin, ada sejumlah alasan lain semisal azas praduga tak bersalah (hukum), keinginanan damai atau agar tidak menggelisahkan publik (teknik komunikasi), dan/atau demi menghambat pemberontakannya itu sendiri agar tidak sampai terjadi (strategi sosial/politik).




Tak Saling Mematikan
Berfikir radikal pun sesungguhnya merupakan naluri atau fitrahnya manusia, terutama bagi mereka yang bergerak di dunia kreatif. Hampir semua sejatinya manusia yang memiliki gairah mencapai temuan baru itu tergolong radikalis. Itu setidaknya terjadi di khazanah seni, dunia ilmu pengetahuan, ilmu sosial/politik, ekonomi, kedokteran, medis, dan lain-lain. Ciri-cirinya hampir selalu (dan memang seharusnya) ditandai dengan studi habis-habisan atas temuan-temuan sebelumnya untuk kemudian melahirkan temuan baru. Studi habis-habisan itulah yang disebut upaya menemukan radix, yaitu upaya penggalian hingga ditemukannya thesa untuk kemudian memunculkan antithesa hingga akhirnya menemukan sinthesa baru, demikian jika merujuk urut-urutan dialektika secara linear.

Sebagai contoh, Chairil Anwar “menjadi” itu karena “belajar” kepada sastra Pujangga Baru dan sastra klasik sebelumnya, Rendra dan Surtadji Calzoum Bachri itu hapal sejumlah puisi Chairil Anwar untuk kemudian melahirkan temuan berupa puisi-puisinya sendiri; Galileo Galilei niscaya tak mungkin menjadi bapak ilmu fisika modern, bapak metoda ilmiah, atau bapak ilmu pengetahuan jika tidak dilandasi studi habis-habisan atas teori Copernicus mengenai peredaran bumi bulat mengelilingi matahari dan matahari sebagai sistem tata surya.

Yang patut kita perhatikan di dalam prinsip radikalis kreatif, itu adalah tidak terjadinya bunuh-membunuh atau yang satu mematikan lainnya, atau lebih halusnya lagi tidak di dalam hitung-hitungan kalah atau menang. Buktinya Chairil Anwar tetap penting dan tetap hadir meski kemudian ada Rendra dan Surtadji Calzoum Bachri, atau Copernicus tak lantas hilang meski teorinya dikritik Galileo Galilei dalam bentuk teori baru, demikian selanjutnya dalam bidang kreatif lainnya.

Radikalis Cimenyan
Dengan landasan pikiran seperti teurai di atas, langkah pun tiba lah di kawasan Kampung Cisanggarung RT 02/RW 12, Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Di alamat tersebut terdapat komunitas bernama “Odesa-Indonesia,” di dalamnya adalah Budhiana Kartawijaya, Basuki Suhardiman, Hawe Setiawan, Enton Supriyatna Sind, Andy Yoes Nugroho, Asep Salahudin, Faiz Manshur, Agung Prihadi, Khoiril Anwar Rohili, Didik Harjogi, Mudris Amin, dll.

Siang hingga lewat petang, 21 Mei 2017, terjadi perbincangan dengan Faiz Manshur yang dilanjutkan dengan jalan melepas pandangan mata ke sebagian kecil kawasan hingga ke Curug Batu Templek. Dari obrolan, melihat apa yang mereka lakukan, serta melihat potensi sekaligus persoalan sosial (terutama masalah kemiskinan) di kawasan tersebut, tak tertahankan dari mulut ini meluncurlah kalimat: “kalianlah sejatinya para radikalis itu.”

Faiz Manshur, Budhiana Kartawijaya, Enton Supriyatna Sind, serta aktivis Odesa lainnya melihat kawasan Cimenyan tidaklah dengan pandangan jarak jauh melainkan “ancrub” (terjun menenggelamkan diri) dengan masyarakat dan kehidupannya.




Faiz Manshur bahkan pindah rumah ke kawasan tersebut demi menemukan sejatinya akar persoalan demi mendapatkan kemungkinan jalan keluar, serta menjalankan satu demi satu jalan keluar tersebut dalam bentuk tindakan nyata bersama masyarakat setempat yang tak lain berupa tindakan radikal di dalam pengertian seperti latar pikiran yang terurai di atas.

Seperti termaktub di dalam bio-kerjanya, Odesa-Indonesia disebutkan sebagai organisasi nirlaba yang bergerak dalam bidang pendampingan, penelitian, kajian dan aksi-sosial kewargaan. Basis kerjanya bertumpu pada empat kekuatan mendasar, yaitu: budidaya pangan, ternak, literasi, dan teknologi.

Empat tumpuan itulah radix persoalan sekaligus potensi pedesaan-pedesaan pada umumnya yang nyaris terabaikan sepanjang sejarah kemerdekaan. Apalagi pedesaan-pedesaan semacam kawasan Cimenyan yang bersinggungan langsung dengan kawasan urban kota Bandung, itu pelik sekaligus ironis. Betapa kawasan yang jaraknya di bawah 10 KM dari pusat kota Bandung, itu ironisnya memendam sejumlah kasus kemiskinan yang akut, minim bahkan tidak memiliki sarana pendidikan, tertinggal dalam hal standar hunian dan kesehatan. Padahal alamnya sangat potensial, relatif subur, masih menyisakan panorama alam yang elok, serta memiliki SDM yang masih punya gairah untuk maju.

Semoga gerak radikalis Odesa-Indonesia ini terus bertebar, menjadi anutan bagi desa-desa lain, menjadi radikalisme ala Cimenyan; mengingat persoalan-persoalan sosial-ekonomi masyarakat amat sangat tak cukup hanya sampai pidato, tebar pesona politik, seminar di tempat yang berjauhan, melainkan harus disentuh dan diselesaikan hingga ke radixnya. [Sumber Opini “Pikiran Rakyat,” Selasa, 13 Juni 2017]

BacaKemiskinan Kawasan Bandung Utara
Baca Tiga Kecamatan di Kab.Bandung Melarat, Sebaiknya Masuk Kota Bandung
Baca Tragedi Sosial di Kawasan Bandung Utara

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*