AMARAH TANAHOleh Faiz Manshur
Ketua Odesa Indonesia

 Kalau kita melihat muka orang pucat, kita bilang sakit ya?

Pucat itu berarti tidak segar, alias kusam pada muka orang, dan layu pada penampilan tanaman.

Untuk tanah yang sakit, warnanya pucat dengan merujuk pada penampilan cokelat-kemerahan.

Kalau ada yang sakit mesti diperhatikan. Itu perintah moral universal yang berlaku untuk sakit badan, sakit hati dan sakit jiwa.

Lahirnya perintah moral ini karena alasan sosial, bahwa individu yang satu terikat saling berguna bagi yang lain.

Tanah sakit cokelat-kemerahan
Tanah sakit cokelat-kemerahan

Jika sakitnya badan pada manusia menyebabkan anjloknya produktivitas dan berdampak buruk pada orang di sekitarnya, demikian juga dengan sakitnya tanah.

Tanah yang sakit bukan saja mematikan produktivitas alamiahnya, melainkan memperburuk kehidupan satwa dan manusia.

Saya punya pengalaman empirik karena berada di kawasan yang tanahnya mengalami pesakitan, tepatnya di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung.

Pada radius 5-15 km sebelah utara Kota Bandung terdapat puluhan ribu area pertanian (monokultur) yang tanahnya pucat-pasi, warnanya cokelat-kemerahan.

Tanah sakit itu akibat ekosistem tidak bekerja secara optimal; sinar matahari menyorot tanah telanjang mengakibatkan ngadat-nya kerja fotosintesis.

Minimnya pepohonan menyebabkan air hujan tak betah bermukim di perbukitan. Kekeringan menyiksa penduduk dan mematikan banyak satwa.

Keadaan musim yang sulit diprediksi mengakibatkan in-efisiensi kerja dan memboroskan modal. Dampaknya buruk karena produksi pangan menyusut.

Kita lihat, puluhan ribu keluarga buruh tani berada di kubang kemiskinan ekstrem, alias pra-sejahtera, alias fakir.

Menjadi kuli upahan pun tidak mudah karena pekerjaan sepi. Rentang puluhan tahun kehidupan seperti itu, dampak lebih jauhnya adalah keterbelakangan pendidikan, tentu juga menyebabkan tingkat kebahagiaan rendah.

Kegiatan pertanian, yang mestinya adalah cikal-bakal kuatnya masyarakat- justru menjadi sebuah kegiatan yang penuh resiko sebagaimana resikonya kehidupan kaum barbar (pra-masyarakat).

Sementara itu, di luar area pertanian di Kecamatan Cimenyan terdapat banyak hunian mewah.

Orang-orang kota membangun villa, hotel, atau rumah yang kelewat megah. Pada area hunian itu banyak tanah tertutup beton/aspal sehingga menghalangi penyerapan air.

Banyak dari kalangan pejabat negara dan politisi yang ikut serta dalam perusakan ini. Mereka membangun untuk pemenuhan hasratnya dan membiarkan kerusakan ekologi.

Tanah yang sakit di suatu area bisa berdampak timbulnya pesakitan di lokasi lain. Terbukti dengan keadaan itu, Kota Bandung menjadi sasaran amarah tanah.

Setiap musim hujan berton-ton lumpur dari perbukitan Cimenyan menerjang Kota Bandung.

Apakah sakitnya tanah bisa disehatkan? Bagaimana caranya?

Jawabnya bisa. Caranya ada dua. Hentikan praktik pembangunan fisik yang merusak lingkungan.

Kedua, perbaiki manusia yang meliputi petani, kaum intelektual dan pemerintah.

Karena petani memegang kendali di lapangan, dialah yang mesti menjadi aktor utama.

Langkahnya, persenjatai kaum tani dengan akal budi. Proses edukasi mesti dijalankan dan itu pasti mensyaratkan kegiatan rutin dalam bentuk pendampingan.

Yang perlu dibawa ke dalam dunia pertanian adalah membuka model pertanian baru, keluar dari praktik monokultur ke praktik polikultur.

Wawasan baru tentang tanaman buah dan herbal menjadi prioritas.  Perbaiki cakrawala berpikir. Buang nalar antroposentrisme, ganti dengan cara pandang ekosentrisme.

Model inilah yang lebih menjanjikan perbaikan.

Selama ini apa yang dilakukan pemerintah dan pegiat LSM dengan sekadar even tak ada hasilnya- kecuali pamer kegiatan di media massa.[ Sumber, Koran Gala, 14 Oktober 2022]

Padang Pasir Cimenyan Sebelah Utara Kota Bandung

Mengerikan Kerusakan Alam Ini

Bandung Utara Krisis Lingkungan, Butuh Jutaan Bibit

Tinggalkan Balasan