Mengambil Manfaat Gizi Kelor

Daun Kelor (Moringa Oleifera) dikenal kaya akan gizi, –termasuk bunga dan bijinya. Cara pemanfatan kelor bisa beragam. Mulai dari makan mentah, dibuat sayuran biasa, diolah sederhana menjadi minuman teh dengan pengeringan (tanpa cahaya matahari), dibuat bubuk lalu ditaburkan pada makanan atau untuk kapsul bisa dilakukan.

Masing-masing ada kelebihan ada kekurangan. Namun kekurangannya tidak akan membuat kita kehilangan esensi nilai gizi yang bagus dari kelor.


Orang bertanya dosis. Sebenarnya ia sedang bertanya untuk tujuan pengobatan. Sementara yang terpenting dari kelor mestinya didudukkan sebagai sumber penghasil bergizi sehingga tidak perlu pusing-pusing urusan dosis. Sama persis mengapa kita tidak perlu bertanya seberapa banyak kita harus makan bayam, wortel, ikan atau daging. Jika didudukkan sebagai makanan biasa, maka takaran makan secara otomatis akan dikontrol oleh tubuh kita. Kaidah pokok makan kelor adalah; ambil kecukupan, jangan kurang dan jangan berlebihan.

Seputar gizi kelor
Tetapi kalau kita tetap ingin penjelasan lebih rasional untuk takaran makan guna meraih gizi, maka jawabannya adalah, sekitar 2 hingga 4 sendok makan teh kering daun kelor dalam sehari itu sudah cukup. Dengan itu saja kita akan mendapatkan banyak manfaat dari zat besi, kalsium, vitamin A, Vitamin C, dan lain sebagainya. Jika ingin lebih hebat mendapatkan manfaat daun Kelor tetapi merasa bosan dengan target tertib makan tradisional, maka sebaiknya mengambil serbuk kelor. Kapsul yang isinya serbuk kelor itu sangat banyak menyediakan gizi dan efektif dimakan/diminim dengan tanpa perlu repot memasak secara khusus.

Sebagaimana banyak penelitian, bubuk kelor memiliki kandungan gizi yang berlimpah dengan hanya porsi kecil. Sebagai contoh misalnya, saat masih basah daun, kandungan Vitamin A Daun Kelor hanya 4x lipat dari Wortel. Tetapi setelah diolah menjadi bubuk berlipat 10x lipat. Saat masih segar daun kelor hanya memiliki 4x lipat kandungan kalsium berbanding susu, pada serbuknya berlipat menjadi 17 kali lipat. Pada saat daun kelor masih basah hanya memiliki kandungan potasium 4 x lipat dari pisang, setelah menjadi serbuk akan berlipat mencapai 15x lipat.

Ketika daun kelor masih basah proteinnya hanya 2x lipat dari Yogurt, ketika diubah menjadi serbuk menjadi 9 kali lipat. Ketika masih basah kadungan zat besi daun kelor hanya ¾ dari bayam, saat menjadi serbuk meningkat pesat menjadi 25 x lipat. Memang ada yang susut yaitu pada kandungan vitamin C. Saat masih berupa daun basah kandungan daun kelor justru sudah 7xlipat vitamin C dari jeruk. Namun saat berubah menjadi serbuk menurun menjadi ½ jumlah vitamin C dari jeruk. Itulah mengapa sebabnya saat kita butuh pengobatan sariawan misalnya, justru lebih bagus memakan daun segar tanpa proses apapun, petik langsung makan akan merasakan manfaat luar biasa dalam penyembuhan sariawan.

Kerakyatan Kelor
Kita bisa memakan banyak bagian dari kelor. Dengan bubuk kita bisa lebih efektif mengambil saripati gizinya melalui telan langsung atau juga perlu disusupkan pada setiap makana seperti mie, kue, roti, pudding, dan lain sebagainya. Pada prinsipnya kelor adalah makanan bergizi, karena gizinya itu kita perlu memasukkannya pada perut kita. Caranya, terserah bagaimana baiknya. Kita tidak perlu berpikir parsial bahwa serbuk adalah segala-galanya karena di luar kandungan gizi kita juga berurusan dengan kerepotan pembuatan atau harga.

Mengapa kelor dengan mudah panen melimpah tetapi harganya tinggi itu ada alasan, yaitu pasca panen. Karena itu pada sisi kerakyatan, saya melihat sisi urgensi dalam gerakan tanam kelor sebagai hal yang penting. Sebab realisme di masyarakat lapisan bawah akan kerepotan dengan harga kelor modern (yang diolah). Itulah mengapa saya senang ketika organisasi pangan dunia FAO lebih menekankan pentingnya kelor sebagai bahan pangan tradisional.

Perbanyak kelor dan makan yang rutin dari hasil panen sendiri adalah langkah terbaik. Baik karena itu artinya tidak menambah pengeluaran dan melatih kita hidup mandiri dalam urusan pangan. Itulah impian yayasan Odesa Indonesia yang selalu mengarahkan gerakan perbaikan hidup dengan menguatkan Budidaya Pangan, Ternak, Literasi dan Teknologi. Maka, kita pun lebih banyak menyediakan bibit agar masyarakat bisa mengakses bibit untuk menanam. Carilah bibit, tanam dan masak dengan cara tradisional sebelum delapan jam. Itu lebih utama. Tak usah repot bertanya berapa dosisnya, yang terpenting rutin dan berkelanjutan.[Faiz Manshur]

BACA Manfaat Kelor untuk Ternak
BACA Menilai Kualitas Kelor
BACA Bibit Kelor Bandung

2 Komentar

3 Trackbacks / Pingbacks

  1. Kelor Odesa Indonesia: untuk Pendidikan, Ekonomi dan Kesehatan – ODESA INDONESIA
  2. Inovasi Pertanian Bersama Kelor – Odesa-Indonesia
  3. Kelor dan Blue Tea: Dua Sumber Makanan Sehat untuk Anak dan Remaja – Odesa Indonesia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*