Gerakan Ibu Rumah Bandung Utara Berkebun di Pekarangan

Menghadapi krisis ekonomi akibat Pandemi Covid-19, ibu rumah tangga di kalangan keluarga pra-sejahtera sangat penting untuk mengambil peran pangan bergizi. Tani pekarangan, menurut Nina Danny Hilman Natawidjaja, harus disebarluaskan di kalangan keluarga pra-sejahtera karena dari kegiatan kecil ini memiliki manfaat besar untuk peningkatan gizi, bahkan meningkatkan ekonomi secara efisien.

“Pangan dan tani pekarangan itu satu paket program yang bisa mengatasi problem ekonomi karena dengan tani pekarangan ibu-ibu bisa hemat belanja dapur. Kedua, sumber gizi bisa didapat dengan memilih jenis tanaman yang memiliki kandungan gizi berkualitas,” kata Pendiri Gerakan Indonesia Empathize (Inem) saat menemui ibu rumah tangga pegiat Tani Pekarangan di Kampung Cikored Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung,  Selasa 6 Oktober 2020.

Gerakan Tani Pekarangan yang digalakkan oleh Yayasan Odesa Indonesia sejak Juni 2020 lalu, sudah mulai menampakkan hasilnya pada 20 keluarga pra-sejahtera di Desa Mekarmanik dan Desa Cikadut Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Karena peran penting kaum hawa dalam hal ini, sayap Gerakan Perempuan dari Yayasan Odesa Indonesia yaitu Indonesia Empathize alias Inem mengambil peran dalam penyuluhan ibu rumah tangga.

Inem Menyebarkan Virus Empati

Nina Danny saat menemui petani Mekarmanik Cimenyan Bandung. Memberikan pemahaman gizi dasar dan kebersihan hidup.

“Peran Ibu rumah tangga dan pertanian tak terpisahkan. Jika suaminya yang menanam, maka perempuan harus bisa memanfaatkan hasil panen sebagai sumber gizi dengan mengolahnya sebagai kuliner harian,” jelas Nina.

Nina merasa perlu menekankan masalah gizi dari hasil panen tersebut karena kebanyakan petani selama ini hanya mementingkan uang atas hasil panen pertaniannya. Padahal, menurutnya, keluarga pra-sejahtera belum memiliki gizi yang baik.

“Jangan sampai yang ditanam itu hanya semata untuk uang. Lagi pula setelah menjadi uang manfaat utamanya juga untuk makan. Bagaimana sebaiknya kalau yang ditanam itu juga dimakan. Dan sebaik-baiknya hasil pertanian yang ditanam berdasarkan nilai gizi, terutama pada daun kelor,” jelasnya.

Pentingnya Kelor

Tanaman kelor, menurut Nina, merupakan sumber gizi penting yang direkomendasikan Perserikatan Bangsa-Bangsa sehingga setiap keluarga perlu memilikinya. Dengan memiliki pohonnya, daun segar bisa dipetik langsung dimasak tanpa harus membeli.  Sejak tahun 2016, Nina dan ekan-rekannya di Yayasan Odesa Indonesia sudah menyebarkan bibit kelor lebih 32.000. Perlahan-lahan masyarakat mulai mengonsumsi kelor.

“Kita mesti memperbanyak gerakan tani pekarangan. Edukasi langsung ke petani perlu dilakukan karena mereka tidak mendapatkan akses informasi dari internet. Jadi kita harus rajin blusukan langsung menjelaskan manfaat gizi daun kelor,” kata Istri Geolog LIPI Dr. Danny Hilman Natawidjaja.-[Abdul Hamid/odesa.id]

Cerita Kehidupan Keluarga Pra-Sejahtera

Inem Berbagi untuk Anak-Anak Desa

Amal Sosial untuk Petani Pra-Sejahtera

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*