Gerak Relawan Odesa ke Desa-Desa

TERJUN dari menara gading. Keluar dari rutinitas ruang lingkup perkotaan yang sumpek dan boros. Menuju desa yang segar dan lapang dengan semangat “membumi dalam kebersamaan,”. Hari Rabu, 7 Desember 2016, beberapa relawan Odesa Indonesia berbagi tugas.




Ada yang membuka lahan baru untuk gerakan penanaman kopi. Ada yang melanjutkan kegiatan kemasjidan. Ada yang liputan untuk tema pendidikan. Rutinitas kegiatan Odesa-Indonesia memang sangat menantang karena mengurus problem mendasar kaum tani, tetapi sekaligus menyenangkan karena mendapatkan suasana baru berurusan dengan petani-petani desa.



Dekat dan tidak boros biaya(karena hanya berjarak 4-14 km dari Kota Bandung), tidak menyita waktu (karena bisa dilakukan setengah hari) dan punya jaringan yang mengakar di kampung-kampung Cimenyan Kabupaten Bandung. Itulah resepnya mengapa kita bisa melaksanakan program ini secara rutin dan berkelanjutan.

Setiap waktu mendapat hal yang baru, setiap saat mendapatkan ilmu pengetahuan karena kita bisa menyerap pemikiran-pemikiran para petani dan orang-orang desa. Dan jangan lupa, setiap hari pula kita tertawa ngakak karena banyak humor yang kami dapatkan.

Budhiana Kartawijaya (Wartawan Senior/Litbang Harian Pikiran Rakyat) sekarang mulai naik motor sendiri menyusuri jalanan terjal. Enton Supriyatna (Pemimpin Redaksi Galamedia) mengorganisir petani sayur yang akan menanam kopi. Ir.Didik Harjogi (Dosen Politeknik ITB) ke basis baru di kawasan Puncak Bintang. Basuki Suhardiman (Dosen ITB) dan Faiz Manshur mengurus persiapan gudang dan alokasi mesin tepat guna untuk petani.

Setahap demi setahap bangunan gerakan itu diwujudkan dengan pendampingan kepada petani-petani di perdesaan Cimenyan, yang dekat dengan Metropolitan Bandung tetapi terpuruk dari derap pembangunan negara dan tertinggal dari gegap gempita modernisasi. Sinyal ponsel yang susah, jalan-jalan rusak, tingkat pendidikan yang rendah, perkawinan dini, petani hidup miskin, dan sejumlah kenyataan hidup yang getir orang-orang tua desa adalah fakta yang membutuhkan solusi.

Bukan ilmu yang tinggi, bukan teknologi mutakhir, bukan pula pandangan intelektual yang melangit yang diterapkan Odesa-Indonesia. Odesa-memilih jalan “membumi dalam kebersamaan” karena dengan cara itu maka solusi akan lebih tepat diterapkan.

Kombinasi amal-sosial, pendampingan, pendidikan dan kebijakan publik senantiasa terus dilaraskan dengan masalah-masalah mendasar rakyat. Problem ekonomi selalu hubungkan dengan urusan pendidikan. Urusan pendidikan senantiasa berkait dengan masalah infrastruktur. Masalah infrastruktur juga berkait dengan urusan negara dan juga mentalitas warga dan kepemimpinan sosial. Begitu seterusnya.



Setiap hari kita pemetaan persoalan, setiap hari pula kita diskusikan bersama masalah-masalah tersebut dan dicari solusi praksisnya melalui gerakan bersama.
Semangat ini mungkin laras dengan apa yang pernah diungkapkan Sastrawan W.S Rendra dalam Sajak Lisongnya.

“…..
Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.
…….”

Kata “membeli rumus-rumus asing” oleh Ws Rendra di tahun 1970-an terang ditujukan untuk mengkritik pemerintah yang saat itu gandrung terhadap kebijakan ekonomi dan pembangunan (developmentalisme) gaya Barat. Asing yang dimaksud Rendra dalam sajak itu adalah luar negeri, terutama Barat. Sementara untuk saat ini kata asing bisa dilebarkan dengan pengertian “asing”: (terasing/teralienasi) tidak cocok untuk rakyat.




Banyak teknologi yang sering diberikan pemerintah kepada para petani tetapi tidak berguna karena sesuai dengan kebutuhan petani. Ada banyak model pemberdayaan tetapi nyatanya tidak menghasilkan gerakan yang massif karena tidak menawarkan stimulus yang tepat. Petani butuh bibit kopi yang diberikan bibit jagung. Petani butuh penyuluhan pemasaran yang datang penyuluhan budidaya. Banyak sumbangan sapi hilang karena programnya “terasing” dari kultur subsistem petani desa. Tidak ada perbankan yang nyambung dengan siklus ekonomi petani sehingga petani memilih rentenir. Lingkungan hidup rusak karena banyak strategi penghijauan tidak menyatu dengan gerakan ekonomi petani. Petani terasing dengan usaha-usaha orang kota sehingga kalaupun ada kemajuan yang terjadi di desa itu rupanya hanya memajukan ekonomi orang kota dengan penguasaan tanah-tanah, pembangunan villa-villa dan kawasan wisata yang tak memberikan dampak kemajuan bagi orang-orang desa di kawasan Cimenyan Kabupaten Bandung.

Semua itu disebabkan oleh “keasingan” model pemberdayaan. Karena alasan itulah prinsip pergerakan Odesa-Indonesia lebih memperhatikan kebutuhan-kebutuhan petani, tingkat penyerapan pengetahuan, dan juga kapasitas manusia. Urus sumberdaya manusia, agar alam bisa dikelola secara baik.-Sadur Sentosa.



Tinggalkan Balasan