Strategi Menggerakkan Tani Pekarangan

Tani Pekarangan adalah gerakan penting bagi kelangsungan hidup rumah tangga. Pada keluarga miskin yang memiliki pekarangan, kegiatan pertanian kreatif ini sangat baik untuk menjawab problem ekonomi, kesehatan dan lingkungan. Sekarang saatnya kita berpikir dan bertindak serius. Jangan sampai orang miskin yang masih memiliki pekarangan itu tidak melaksanakan kegiatan potensial ini.

Yayasan Odesa Indonesia menggerakan Tani Pekarangan sejak awal tahun 2017 karena beberapa kemudahan bisa didapat, antara lain mudah dilakukan, dan langsung berhubungan menjawab problem gizi dan ekonomi.

Ada tiga model kegiatan Tani Pekarangan yang dijalankan Yayasan Odesa Indonesia untuk menjawab problem kemiskinan. Pertama, jenis pembibitan kelor dengan tujuan sumber tambahan gizi dan penyebaran bibit komersil. Kedua, jenis tanaman anekaragam sayuran sistem polybag dengan tujuan konsumsi harian para petani. Jika hasil panen mengalami kelebihan, barulah mereka bisa menjualnya. Ketiga, Tani Pekarangan diterapkan pada kebun/ladang terdekat dengan tujuan untuk konsumsi dan penjualan sekaligus.

Manfaat tani pekarangan

  1. Mendapat sayuran secara langsung dari halaman rumahnya. Otomatis keluarga miskin akan berkurang pengeluarannya. Kebanyakan keluarga miskin setiap hari membelanjakan Rp 8.000-10.000 perhari (Rp 240.000-Rp 300.000) untuk sayuran. Jika mereka mau menanam sayuran sendiri, tentu saja anggaran itu bisa digunakan untuk belanja memenuhi kebutuhan lain. Jika surplus hasil panen bisa mudah menjualnya ke warung terdekat. Dengan kata lain sisi kesejahteraan ekonomi meningkat.
  2. Keluarga pra-sejahtera bisa mendapatkan gizi dengan keanekaragaman sayuran secara fresh dan juga bisa dalam bentuk sayuran organik. Dengan demikian lebih sehat.
  3. Keluarga Pra-sejahtera lebih belajar disiplin menjaga lingkungan dan biasanya lingkungan tani pekarangan akan menjadikan situasi lebih segar keadaannya.

Hambatan Tani Pekarangan:

  1. Ketiadaan inisiatif keluarga pra-sejahtera karena model tani pekarangan saat ini membutuhkan kebun dengan penataan model. Untuk efiensi waktu dan efektif ruangan, model tani pekarangan saat ini membutuhkan rak atau brak dari bambu  supaya lahan sempit bisa berdaya guna untuk sekian tanaman. Model tani pekarangan zaman sekarang berbeda jauh dengan tani pekarangan era 1980an yang lebih banyak memanfaatkan tanah kebun.
  2. Ketiadaan wawasan tentang praktik Tani Pekarangan menyebabkan banyak orang tidak menjalankan.
  3. Minimnya akses informasi benih dan juga tidak mengenal sistem tanam polybag.
  4. Kebanyakan orang miskin berpikir upahan (pragmatisme) sehingga ketika harus bekerja produksi tetapi tidak mendapatkan upahan akan menganggap sebagai kerugian.
  5. Banyak orang merasa berat menjalankan karena mereka lebih banyak memikirkan kesulitannya tanpa membandingkan dengan perolehan hasilnya yang lebih besar.
  6.  Ayam berkeliaran seringkali menjadi hambatan utama warga perdesaan. Kasus ini membutuhkan tindakan kolektif bersama.

Solusi Gerakan Tani Pekarangan.

  1. Keberhasilan pelaksanaan Tani Pekarangan secara berkelanjutan membutuhkan pendamping, bahkan pemimpin karena misi kegiatan ini meliputi tiga dimensi sekaligus, yaitu kesehatan, ekonomi dan lingkungan. Para pengurus Yayasan Odesa silih berganti mendampingi para petani agar berkomitmen mencoba setahap demi setahap dengan tanpa memperberat pekerjaan mereka. Durasi kerja misalnya dengan kewajiban mengurus tanaman pada satu jam pagi hari dan satu jam sore hari.
  2. Memberikan modal polybag, paranet untuk pengendali ayam dan benih.
  3. Ikut memberikan solusi atas problem pra-pelaksanaan seperti memastikan ketersediaan air untuk penyiraman dan kecukupan pupuk.
  4. Memastikan bahwa tujuan pertanian pekarangan utamanya untuk sumber pangan bergizi sehari-hari.
  5. Menjadikan kegiatan sebagai kebiasaan, sekaligus memastikan tidak menganggu pekerjaan utama mereka.
  6.  Menjamin kepastian manakala hasil panen melimpah para petani punya solusi menjualnya.

Mengawal Misi Gerakan:

Tani pekarangan bukanlah kegiatan seremoni model Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) untuk tujuan lomba 17 Agustus, melainkan sebagai strategi mendasar menjawab problem keluarga pra-sejahtera.

Perkakas dasar gagasannya adalah untuk kekuatan pangan. Problem mendasar rakyat Indonesia adalah rendah konsumsi sayuran, termasuk pada keluarga petani karena sistem tani ladang durasinya dua bulan panen. Kebanyakan petani hanya menikmati hasil panen sayur tanpa belanja pada rentang satu minggu semasa panen. Selebihnya tetap menjadi konsumen.

Dengan target kesuksesan berlangsungnya tani pekarangan secara berkelanjutan, dampak satu tindakan tersebut bisa menyasar pada tiga bidang, yakni gizi dan kebersihan lingkungan (kesehatan), peningkatan ekonomi, dan juga meningkatnya etos kerja.

[Dokumen disarikan dari evaluasi kegiatan tani pekarangan. Sumber pengalaman dari Toha, Ujang Rusmana, Yayan Hadian, Huda]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*