Fotografi dan Pembangunan Karakter Anak Desa

“Siapa yang mau jadi fotografeeerrr….?”
Anak-anak itu diam kebingungan.

Fotografer itu apa sih? Apa bedanya dengan tukang poto? 😀
Minggu 15 Oktober, Yayasan Odesa mengundang fotografer Itali, Stefano Romano untuk jadi pengajar tamu di kursus Bahasa Inggris kampung Cisanggarung, Cimenyan.




Kang Stef, begitu dia minta dipanggil, pun larut dengan aktivitas anak-anak pada hari minggu 15 Oktober 2017 di Kantor Odesa Indonesia, Kampung Cisanggarung, Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung tersebut. Awalnya anak-anak agak kaku kedatangan “guru dakakan itu”. Maklum banyak di antara mereka yang baru kali ini ketemu bule. 😀 Tapi lama-lama suasana pun cair dan penuh tawa. Ini karena Stef sendiri sangat pinter menciptakan suasana akrab dalam hitungan menit dengan tegur sapanya yang hangat.

Stef datang menjelaskan secara ringkas apa itu fotografer. Dan anak-anak pun melihat isi buku serta mendiskusikan karya Stef berjudul “Kampungku Indonesia”. Sebuah buku kumpulan foto karya Stef yang bercerita tentang kampung dan manusia Indonesia dengan koleksi ratusan foto pilihan yang menawan.

Kursus Bahasa Inggris Odesa Indonesia ini sejak awal dirancang untuk membuka imajinasi anak-anak, bahwa dunia ini luas. Jadi bukan mengejar target “cas, cis, cus” melainkan lebih pada usaha character building. Itulah mengapa pengenalan profesi atau pekerjaan misalnya, diperluas supaya anak-anak tidak hanya berimajinasi secara terbatas, misalnya hanya sebatas bercita-cita menjadi sopir truk, polisi, kasir indomaret, melainkan lebih luas dari itu.

Selama setahun proses wawasan pengetahuan ini sudah berjalan, dan hasilnya anak-anak banyak mendapatkan pilihan, seperti profesi dokter, pramugari, dosen, wartawan, penyuluh pertanian. Dengan kedatangan stef, satu profesi fotografer menambah wawasan mereka.




Pendidikan karakter sangat lekat dengan usaha memperkaya wawasan, ilmu pengetahuan dan pergaulan. Hadirnya bule seperti Stef bagi orang Kota bukan luar biasa. Namun bagi anak-anak desa yang kursus di Odesa Indonesia, nilainya sangat lain. Kita melangkah pada usaha pentingnya anak-anak harus terbiasa bertemu dengan warga belahan dunia lain, dan tidak boleh minder berhadapan dengan siapapun. Ketika berbicara, tatap matanya, jangan menunduk. Ketika berdiskusi, berani bertanya. Persaingan di dunia akan semakin keras dan terbuka. Modal dasarnya: tidak boleh minder. Berkawanlah dengan warga dunia.

Menjadi warga dunia bukan berarti melupakan kampung. Sebab, kata Stef, kampung adalah jiwanya Indonesia. (Budhiana Kartawijaya) #stefanoromano #fotografer

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*