Krisis Ekonomi Butuh Inovasi Tani Model ini

Krisis ekonomi butuh inovasi. Wabah Pandemi Covid-19 yang menimpa kelompok buruh tani membutuhkan tindakan konkret. Tani pekarangan adalah solusi penting saat ini. 

Kesulitan pekerjaan sejak mewabahnya pandemic Covid-19 bulan Maret 2020 benar-benar menyulitkan kehidupan buruh tani. Ada yang memilih menganggur sambil terus berharap bantuan pemerintah, ada pula yang memilih cara baru mengatasi situasi dengan inovasi. Irmawati (21 tahun) memilih jalan realistis dengan melakukan tindakan nyata, bertani di halaman rumahnya.

“Lima bulan lalu, Yayasan Odesa Indonesia menawarkan kepada saya agar memulai usaha. Lahan di sekitar rumah bisa dimanfaatkan untuk menanam sayuran. Saya diberikan bantuan 100 polybag dan benih sayuran. Dan sekarang sudah lebih 600 polybag. Setiap minggu selalu ada panen,” kata Irma, Senin 30 November 2020.

Irmawati tak sendiri. Bersama 10 ibu rumah tangga di Kampung Waas Desa Mekarmanik Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung tersebut sejak bulan Juli 2020 lalu memulai usaha baru tersebut. Irmawati menceritakan, saat memulai usaha banyak orang belum bisa menerima karena kebanyakan buruh tani di sana terbiasa bertani di ladang luas. Perlahan tapi pasti, keadaan pun berubah.

“Banyak orang yang kurang menerima pekerjaan ini karena alasan misalnya, takut hasil panennya tidak ada yang membeli. Soalnya biasanya mereka menjual saat musim panen tiba satu tahun 2 kali. Sementara kalau tani pekarangan itu memanennya bisa kapan saja. Ada juga yang merasa ribet karena harus mengumpulkan tanah dan pupuk,”tutur Irma.

Ragam keuntungan

Keuntungan budidaya pertanian pekarangan ini menurut Irma adalah soal waktu kerja. Ia bisa menggarapnya di tengah waktu luang. Suaminya juga mendukung karena selalu punya waktu. Dengan kata lain, pekerjaan tani pekarangan tidak mengambil waktu kerja yang sudah biasa dilakukan di ladang. Keuntungan kedua, hasil panen bisa rutin karena jadwal tanam mudah diatur. Hal ini berbeda dengan tani di ladang yang biasanya menunggu musim hujan baru menanam dan panen massal.

“Panen dari kebun pekarangan memang kecil, tetapi hasil sayurannya lebih bagus karena terawat. Dan panennya rutin. Setiap minggu bisa dapat pemasukan,” katanya.

Keuntungan ketiga adalah keluarga petani pekarangan tidak lagi perlu belanja sayuran. Kalau biasanya Irma dan ibu rumah tangga lainnya mengeluarkan uang khusus untuk sayuran Rp 10.000, sekarang tidak lagi keluar uang. Dengan kata lain, sepanjang 30 hari, otomatis keluarga Irma menghemat pengeluaran uang Rp 300.000.

Irmawati juga menceritakan tentang problem kerja di kalangan perempuan buruh tani di kampungnya. Menurutnya, hambatan utama adalah karena para buruh tani hanya bisa bekerja di ladang dengan perintah, tidak ada usaha memulai usaha dan menerapkan cara kerja lain untuk menghasilkan uang. Ketika pihak Yayasan Odesa Indonesia mendorong petani melakukan model pekerjaan baru pada akhirnya mereka mulai membuka diri.

“Kalau dibimbing terus menerus ya ternyata bisa memulai hal baru. Jadi kami ingin lebih lanjut diberikan bimbingan,” kata Irma.

Inovasi Pertanian

Menurut Pendamping Ekonomi dari Yayasan Odesa Indonesia Basuki Suhardiman, tani pekarangan adalah inovasi yang paling realitis diterapkan pada keluarga petani yang memiliki lahan pekarangan. Sekalipun kegiatannya berskala kecil, tetapi bisa menjadi solusi memperbaiki sumberdaya manusia di perdesaan.

“Ekonomi yang efektif itu kalau lahir dari tradisi. Petani punya modal karena kebiasaan menanam di ladang. Hanya saja mereka akan terus kekurangan karena panen satu tahun hanya dua kali. Dengan kebiasaan baru tani pekarangan mereka bisa memanen secara rutin dengan durasi mingguan,” kata pegawai Teknologi Informatika Institut Teknologi Bandung yang lebih 4 tahun mendampingi para buruh tani di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung tersebut.

Basuki yakin bahwa model pertanian yang relevan dengan kehidupan pekerjaan para petani akan membentuk kebiasaan positif. Hal ini bisa menjadi solusi mengatasi kemiskinan. Sebab menurutnya, akar dari kemiskinan itu sendiri disebabkan oleh akses ilmu dan pemanfaatan kesempatan. Ketika pendampingan menemukan cara yang realistis kemajuan pun bisa dicapai.

“Sebelumnya kami juga membangun model bisnis pertanian dengan pembibitan kelor. Ada belasan pembibit kelor yang ekonominya meningkat setiap bulan hanya dengan memanfaatkan halaman rumahnya. Mengatasi kemiskinan dengan target pendapatan Rp 300 hingga 700ribu perbulan merupakan langkah penting yang harus dilakukan untuk penduduk Indonesia saat ini.”[]

DATA TAMBAHAN MATERI DARI ODESA BISA DIBACA DI

Strategi Menggerakkan Tani Pekarangan 

Tani Pekarangan Menjawab Problem Kemiskinan

Efektivitas Tani Skala Rumah Tangga

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan