Peringatan Hari Menanam Pohon Nasional 28 November 2020

Setiap tanggal 28 November, Indonesia punya hari penting dalam bidang ekologi, yaitu hari menanam pohon secara nasional. Peringatan hari menanam pohon ini juga dekat dengan peringatan Hari Pohon Sedunia yang rutin diperingati pada 21 November.

Yayasan Odesa Indonesia yang bergiat dalam bidang Ekologi, Literasi dan Sanitasi pada tahun 2020 memperingatinya dalam bentuk aksi menanam pohon kelor, membagi bibit kopi, durian dan pete.

Pelaksaan kegiatan di kampung Pasir Kiara Desa Cikadut Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Hadir juga Mitra kegiatan kali ini bersama Satgas Citarum Harum sektor 22 yang dipimpin Serka Suyanto.

Pada kegiatan ini, Yayasan Odesa Indonesia menanam 300 pohon kelor di salahsatu ladang petani binaan. Kebun ini merupakan bagian dari ladang kelor yang keempat yang secara khusus dikelola untuk pembibitan kelor dan juga menjadi bagian produksi teh kelor.

Menanam Kelor sebagai usaha memperoleh gizi dan memperbaiki tanah agar lebih subur. Juga mencegah erosi di Kawasan Bandung Utara. Menanam pohon bukan saja tugas petani, melainkan menjadi kewajiban semua manusia

Selain itu, ada sumbangan bibit durian berjumlah 100 pohon sumbangan dari Ibu Siti Yanti Komariah, seorang pembibit tanaman herbal dari Sport Jabar Arcamanik yang disumbangkan untuk para petani Cikadut.

Sementara Ujang Rusmana yang mengelola pembibitan kopi, pada peringatan Hari Menanam Pohon Nasional ini memulai membagikan 20.000 bibit kopi Arabica kepada petani di desa Mekarmanik dan Desa Cikadut. Pembibitan yang dikelolanya telah menghasilkan 25.000 ribu bibit kopi dan pembagiannya akan diselesaikan sepanjang bulan desember tahun 2020.

Selain itu mengabarkan kepada masyarakat luas, bahwa Yayasan Odesa Indonesia terus menerima bantuan donasi bibit tanaman buah untuk melanjutkan kegiatan aksi tanam pohon di Kawasan Bandung Utara.

BERIKUT ADALAH SIARAN PERS YAYASAN ODESA INDONESIA

UNTUK PERINGATAN HARI MENANAM POHON NASIONAL 2020:

Pohon adalah solusi bagi kehidupan. Air dan Udara lahir dari jumlah pohon. Manusia butuh air, dan air membutuhkan pohon sebagai pohon membutuhkan air. Banyaknya bencana banjir juga disebabkan hilangnya pohon. Demikian juga dengan kualitas udara juga banyak bergantung pada jumlah pohon. Kalau satu pohon besar rata-rata menghasilkan 1 kg oksigen setiap hari dan manusia membutuhkan setidaknya 0,5 kg oksigen setiap hari, maka setiap manusia membutuhkan dua pohon yang besar.

Selain itu, manusia dan satwa membutuhkan pohon untuk konsumsi sehingga ketersediaan pohon yang menghasilkan buah-buahan bisa memenuhi kebutuhan pangan.

Di hampir semua daerah di Jawa Barat kulitas lingkungan hidupnya sangat buruk. Dari tahun ke tahun tidak pernah mengalami perbaikan secara nyata. Hal itu terlihat Indeks Kualitas Lingkungan Hidup terburuk secara nasional yang terus-menerus berada tiga besar wilayah. Memang masalahnya adalah percepatan modernisasi dan pertumbuhan penduduk, namun kita tahu pemerintah juga punya program yang terus menyedot anggaran milik rakyat. Mengapa kinerjanya tidak pernah menghasilkan prestasi perbaikan? Ini yang patut dipersoalkan oleh Anggota DPRD.

Di Kawasan Bandung Raya, Bupati Bandung, Bandung Barat maupun Walikota Kota Bandung sangat minim bekerja menyelamatkan lingkungan hidup dengan penanaman pohon. Apalagi kota Bandung, sangat minim berkontribusi dalam hal gerakan menanam pohon.

Jika ingin serius memperbaiki lingkungan dengan program tanam, semestinya dalam penyelamatan lingkungan Kota Bandung ini mengalokasikan minimal 1 juta pohon untuk masa bakti kepala daerah selama lima tahun. Di Kota Bandung, selain problem alih fungsi lahan juga masih ada ribuan hektar lahan kosong berpencar-pencar yang masih bisa menampung pohon.

Kawasan Bandung Utara bak Kawasan Padang Pasir. Lebih 25.000 hektar ladang pertanian monokultur ini menjadi penyebab banjir. Harus berubah dengan pertanian agroforestry. Tanam buah-buahan dan kelor.

Kota Bandung mesti juga peduli pada kawasan luar Kota Bandung karena urusan banjir dan udara tidak mengenal batas zona administrasi pemerintahan. Kontribusi kota Bandung dalam hal polusi melebar ke banyak wilayah karena itulah Pemkot Bandung mesti menyebarkan tanaman ke banyak tempat di luar Kota Bandung.

Demikian juga Kabupaten Bandung mestinya menanam pohon minimal 2 juta pohon setiap tahun sehingga dalam masa bakti 5 tahun bisa menanam 10 juta pohon. Bahkan di Kawasan Bandung Utara saja untuk tiga kecamatan, Cimenyan, Cilengkrang dan Cileunyi membutuhkan setidaknya 4 sampai 5 juta pohon. Pasalnya, Kabupaten Bandung ini berpotensi menggerakkan lebih massif tanaman karena terdapat potensi lahan pertanian yang luas dan petani yang bisa menjadi aktor penanam pohon agroforestry. Selain itu Kabupaten Bandung juga masih memiliki banyak lahan kosong di pinggir jalan yang kekurangan pohon.

Sangat disayangkan, selama 10 tahun Pemkab Bandung minim memperhatikan masalah ini. Bahkan dengan tanpa dosa membiarkan banyak erosi di Kawasan Bandung Utara yang juga menjadi sumber banjir di Kota Bandung.

Begitu juga kabupaten Bandung Barat. Di sana banyak pembangunan wisata dan hunian sehingga mesti memikirkan lahan-lahan yang kosong agar ditanami pohon. Untuk Kabupaten Bandung Barat mestinya setiap tahun mampu menanam satu juta pohon sehingga dalam masa lima tahun bisa menanam 5 juta pohon. Tak terkecuali Kota Cimahi, masih ada peluang untuk memperbaiki kualitas udara dengan menanam pohon setiap tahun berjumlah 20.000 pohon sehingga dalam masa lima tahun terdapat 100.000 pohon.

Bupati Bandung dan Bupati Bandung Barat juga harus mulai melek masalah pertanian ramah lingkungan. Sebab selama ini kedua bupati tersebut juga berperan merusak lingkungan karena  mendorong pertanian sayuran secara monokultur dan tidak punya program pertanian agroforestry.

Yayasan Odesa Indonesia mengambil aksi ekologi,literasi dan sanitasi. Salahsatu peran pokoknya adalah menggerakkan pertani menanam pohon buah-buahan, kelor, sorgum, dan hanjeli.

Yayasan Odesa Indonesia memahami bahwa untuk memaksimalkan kerja penghijauan membutuhkan strategi khusus. Untuk aksi massal jelas membutuhkan biaya besar. Belum lagi dalam usaha pendampingan kerja di masyarakat. Berikut ini beberapa masukan inovatif dari Yayasan Odesa Indonesia untuk kerja Pemerintahan:

  1. Satu desa satu pembibitan. Dana pemerintah kabupaten maupun dana desa bisa mendorong pembibit agar saat kegiatan menanam pohon bisa mendapatkan akses terdekat dan bisa memurahkan bibit. Salahsatu alasan pemerintah minim melakukan gerakan tanam pohon karena alasan belanja. Tetapi dari tahun ke tahun tidak pernah mengusahakan pembibitan sendiri.  Dengan memiliki pembibitan sendiri, pemerintah juga bisa menyesuaikan jenis-jenis tanaman yang akan ditanam, terutama jenis tanaman buah.
  2. Selama ini pemerintah hanya menyebarkan bibit tanaman kayu sehingga banyak petani yang menolak. Kalaupun petani menerima bibit tanaman kayu, otomatis dalam waktu 3-5 tahun pasti ditebang kembali sehingga mengurangi jumlah pohon. Lain halnya jika yang diberikan adalah bibit tanaman buah. Hasil buahnya yang dipetik, bukan kayunya.
  3. Dalam gerakan penghijauan pemerintah tidak pernah menyatu dengan petani, padahal aktor lingkungan yang paling berurusan dengan pohon adalah petani. Kebijakan model top-down yang instruksional sudah bukan zamannya lagi karena petani lebih mengerti tentang kebutuhan tanaman di area pertaniannya. Banyak petani menunggu bibit buah tetapi pemerintah hanya menyediakan bibit kayu, itupun jumlahnya sangat sedikit.
  4. Pemerintah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat mesti menguasasi model pertanian agroforestry dan tidak terus menerus mendukung pertanian monokultur. Usaha perbaikan pertanian agroforestry selain menguntungkan petani dari sisi ekonomi juga akan lebih banyak memberi dampak perbaikan lingkungan.[]

Selamat hari menanam pohon nasional.

Bandung, 28 November 2020

Faiz Manshur

Ketua Yayasan Odesa Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*