Kelor untuk Mengatasi Kekurangan Gizi Zambia

Salahsatu kisah gerakan budidaya tanaman Kelor (Moringa Oleifera) yang patut mendapat perhatian terjadi di Zambia, Afrika. Dalam satu tulisan yang menarik dari reporter BBC News, Saran Stolarz berjudul “Mungkinkah Pohon Ajaib Bisa Membantu Mengakhiri Kekurangan Gizi di Zambia?” (17 April 2015) tersebut mengulas kiprah Steven Putter dalam mengatasi problem kekurangan gizi di Zambia melalui gerakan budidaya Kelor.




Steven adalah direktur Eksekutif Imagine Rural Development Initiative. Sejak tahun 2013 ia tergerak menjawab problem kekurangan gizi dengan menanam Kelor di Zambia. Latarbelakangnya karena Steven memerlukan sebuah bentuk kegiatan bertujuan kecukupan gizi dengan memanfaatkan tanah, tanaman, dan manusia yang ada.

Oleh Steven, Kelor dianggap bukan segala-galanya, tapi Kelor yang memiliki kandungan gizi yang cukup baik yang mampu menjadi solusi yang tepat menjawab problem gizi. Dalam rangka melaksanakan program tersebut, ia bermodal dana sendiri sebesar $ 250.000 (£ 170.000), bantuan investor lain, dan hibah $ 20.000 dari pemerintah Swedia.

“Bayangkan jika kita menanam 1.000 pohon di setiap sekolah di Zambia, mungkin harganya $ 2 juta, namun apa hubungannya dengan bisa menghapus kekurangan gizi?” katanya.

Keyakinannya akan pengetahuan kandungan gizi yang baik membuat ia rela melaksanakan kegiatan Budidaya Kelor karena dirinya dan keluarganya sudah mengonsumsi Kelor dan berhasil memperlihatkan perbedaan dalam setahun; anak-anaknya tidak sakit-sakitan, mata lebih terang dan lebih banyak energi.



Terobosan Pangan

Di Zambia sendiri ada tanaman Jagung yang menjadi andalan, tapi oleh Steven diragukan sebagai pemenuhan gizi karena Jagung hanya sedikit memiliki gizi.

“Dengan Jagung, Anda mendapatkan keamanan pangan, yang bagus karena memberi sepiring makanan di depan orang-orang” kata Steven, “tapi bahasa itu perlu diubah dari ‘keamanan pangan’ menjadi ‘jaminan gizi’.”

Dalam tulisan tersebut juga dituangkan, minyak Kelor sangat bernilai; sudah lama menjadi bahan baku pembuatan parfum di Mesir Kuno, Yunani Kuno, dan kekaisaran Romawi. Pohon Kelor tahan dalam situasi kering. Daunnya bisa dimakan karena mengandung kekayaan protein, mineral dan vitamin, A,B dan C. Selain itu Kelor bagus untuk pakan ternak. Sedangkan bubuk dari biji kelor mengandung sifat anti bakteri dan punya kelebihan lain untuk memurnikan air.

Menata Ekonomi

Melihat kondisi Zambia yang begitu memprihatinkan, Steven menilai negara itu harus ditata ulang ekonominya dari ketergantungan pada penambangan. Memang dari hasil tambang mampu menghasilkan ekspor 70% namun bagian terbesar dari tambang milik warga Asing sehingga warga Zambia tidak merasakan manfaatnya.

Austen Ngwani yang terlibat dalam program pertanian Kelor di Wilayah Copperbelt, di barat laut Zambia meyakini bahwa negara itu membutuhkan diversifikasi. Supaya Zambia bisa berkembang harus pindah dari kegiatan sektor pertambangan ke arah pertanian. Dengan diversifikasi pertanian itu ia percaya bisa mengekspor hasil dengan cara sendiri dan memperkuat mata uang negaranya.

Menurut Steven Kelor yang dikembangkan di Zambia sangat potensial berkontribusi pada ekonomi karena tingkat pengembalian investasi yang sangat tinggi, mencapai $ 60.000 per hektar per tahun.




Dalam tulisan itu juga dijelaskan, proyek tersebut memperjakan 60 orang dengan merawat enam juta tanaman Kelor. Produk Kelor seperti suplemen teh atau makanan lain dijual di Zambia dan sebagian diekspor ke negara lain seperti Inggris, China dan Afrika Selatan.

Pada tahun 2015 itu juga Steven ingin segera mengembangkan peternakan dan aquaponik menggunakan tangki air untuk pertumbuhan tanaman dan pengembangbiakan ikan. Sebab ia berpendapat pemberian Kelor pada ikan memiliki hasil yang menakjubkan karena berhasil meningkatkan pertumbuhan ternak hingga 15%.

Sekalipun dalam program tersebut bukan tanpa hambatan tetapi ia yakin bisa akan potensinya karena Kelor bisa menjadi produk ekspor bernilai jutaan dolar untuk Zambia.

“Ada airnya, ada tanahnya, ada orangnya, mengapa tidak? Sekarang tinggal butuh kemauan dan ketekunan,” katanya. [Ina. Sumber

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan