Kelor Hebat Mesti direspon Cepat





Indonesia perlu kelor untuk menyehatkan rakyat
Pada September 2014, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa mengakui Moringa sebagai Tanaman Tradisional.Tanaman termasuk bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan yang baik. Pengakuan resmi lembaga internasional tersebut tergolong baru. Namun pada era 1990an, banyak lembaga riset atau para aktivis yang melakukan penelitian dan menemukan banyak kandungan luar biasa pada tanaman yang kita kenal Kelor ini.
nutrisi moringa e1499057650443
Salahsatu pengakuan dari PBB adalah bahwa pada tanaman kelor ini, daun Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa kelor memiliki sifat “antibiotik, antitrypanosomal, hypotensive, antispasmodic, anti-inflammatory, hypo-cholesterolemic, dan hypoglycemic”.




Dari beragam temuan peneliti di berbagai penjuru dunia, kita harus mengakui jasa awal dari seorang peneliti yang sudah bekerja sejak tahun 1981, Martin Price yang saat itu memulai menulis tentang manfaat dari Kelor sebagai tumbuhan yang bergizi tinggi. Tulisan-tulisan itu memicu lahirnya penelitian lebih lanjut.

Pada kurun waktu 2005 hingga 2017 ini memang sudah banyak sekali tanaman pertanian kelor. Di berbagai negara maju seperti Jerman, Perancis, Amerika Serikat, Israel dan lain sebagainya, tanaman kelor sudah meluas menjadi industri kesehatan. Mereka mampu mengolah daun dan bijinya sebagai suplemen makanan kesehatan. Sementara di negara-negara yang rawan kekurangan gizi seperti Somalia, Kenya, Senegal, Haiti, Kamboja dan lain sebagainya, kelor ditanam dalam rangka mengatasi kekurangan gizi.



Di negara-negara maju yang tergolong makmur, kelor menjadi makanan untuk mencegah penyakit akibat gaya hidup makanan modern, sementara di negara-negara terbelakang kelor menjadi solusi mengatasi masalah kekurangan gizi.

Indonesia Lambat Kelor
Orang Indonesia mengenal Kelor. Mereka yang cerdas dan mengambil jalan cepat memanfaatkan kelor sebagai tanaman bisnis; melayani banyak orang sakit. Bentuk serbuk, kapsul, dan jenis lain sudah mulai berkembang dengan kemasan herbal. Sementara mayoritas penduduk negeri ini sekalipun mengenal Kelor tetapi belum banyak yang mengetahui detail manfaatnya. Bahkan masih banyak yang mengenal “pohon Ajaib” ini hanya sebagai pengusir setan. Mereka yang gemar memakai jasa dukun untuk ilmu pengasihan, penglarisan, kekebalan pontang-panting lari takut dengan kelor karena kelor dianggap pantangan.

“Kelor memang untuk mengusir setan. Setan-setan yang sering mengganggu manusia di antaranya adalah kolesterol, diatebes, asma, radang teggorokan, gizi buruk dan lain sebagainya,” kata Budhiana Kartawijaya, Ketua Pembina Yayasan Odesa Indonesia yang bergiat mengatasi problem perdesaan di Kawasan Bandung Utara (KBU) ini.

Kehidupan manusia modern semakin problematis. Tetapi ilmu pengetahuan juga memberikan terobosan. Moringa (Kelor) merupakan tanaman yang baik untuk mengatasi kekurangan zat besi di mana 30% penduduk dunia saat ini mengalami penderitaan anemia, kata Dharini Krishnan, seorang ahli kesehatan India yang terus semangat berkiprah mengampanyekan Kelor.

Lisa Curtis, sukarelawan Kesehatan Desa dari Amerika yang pernah bekerja di Gedung Putih itu telah membuktikan melalui kegiatan risetnya. “Ya Tuhan, ini bisa dibilang tanaman bergizi paling tinggi di planet ini. Tumbuh sangat baik di tempat panas yang sulit tumbuh tanaman apapun seperti di Nigeria, Haiti, India, tempat- tempat yang sering mengalami kekurangan gizi tingkat tinggi,” katanya.

Curtis bukanlah relawan Peace Corps pertama yang menemukan Moringa/Kelor. Berbagai LSM telah mempelajari potensinya. Filipina menyatakannya sebagai sayuran nasional dalam upaya meningkatkan popularitas dan meningkatkan kesehatan.



Terdapat banyak kisah yang mengagumkan dari orang-orang sakit yang mendapatkan keajaiban setelah mengonsumsi kelor. Di Indonesia pun banyak yang merasakan hal tersebut. Untuk pengalaman kecil misalnya, mereka yang sakit gigi (radang gusi) akan segera sembuh setelah mengunyah daun Kelor. Orang yang kegemukan akan cepat teratasi lemaknya karena kandungan gizi kelor mampu mencukupi kebutuhan badan manusia. Mereka yang pernah mencoba mengonsumsi Kelor secara rutin pada bulan puasa misalnya, akan membuktikan bahwa tidak ada rasa lapar sepanjang pagi hingga senja.




Kelor memiliki kandungan gizi yang lengkap sehingga bisa membereskan kebutuhan perut. Ia mengandung gizi yang bisa digunakan sebagai “kekebalan” karena memang tubuh menjadi kebal dari beragam penyakit yang penyakit itu akibat kurang keseimbangan gizi.

Ketertarikan

Mereka yang tertarik dengan Kelor kebanyakan adalah orang yang sudah merasakan manfaat kesehatannya secara langsung, terutama para penderita yang tersembuhkan bersama Kelor. Tetapi bagi orang umum di Indonesia Kelor bukan hal yang menarik perhatian. Tetapi hal tersebut wajar karena setiapkali berurusan dengan tanaman orang akan bertanya: “buat apa ditanam kalau tidak jelas siapa yang akan membeli? Apakah Kelor menguntungkan? Berapa harganya?”

Ini persoalan yang biasa karena keawaman. Kelor semestinya dipahami sebagai makanan kesehatan sehari-hari, bukan sebagai obat penyakit. Biarlah soal pengobatan urusan medis para dokter. Tapi Kelor bisa membantu mendorong kesehatan dari pola makan sehari-hari. Itu yang terpenting. Bayi, ibu menyusui, olahragawan, pekerja berat dan siapa saja membutuhkan kelor agar kita mendapatkan efisiensi dalam urusan makan. Penyakit manusia kebanyakan dari perut dengan makanannya. Kelor bisa menyehatkan perut kita.

Mumpung belum tertinggal jauh, setiap pemerintahan di daerah mestinya menggerakkan tanam Kelor. Setiap dokter diberikan pengetahuan tentang Kelor. Siswa-siswa sekolah di desa mesti disediakan kelor setiap hari. Mereka semua akan sehat sehari-hari; semangat belajar dan lebih cerdas.-Faiz Manshur




Baca Mengenal Moringa Kelor dan Manfaatnya
Baca Kelor di Negeri Yahweh
Baca Hari-hari Terakhir Fidel Castro bersama Kelor

1 Trackback / Pingback

  1. Temuan-Temuan Baru tentang Kelor Perlu diperluas Publikasinya – ODESA INDONESIA

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*