Kelemahan Pikir Petani

OLEH FAIZ MANSHUR. Ketua Yayasan Odesa Indonesia

Catatan itu penting. Saking pentingnya tidak boleh telat. Pada sebuah catatan yang memilih “ruh” juga tidak bisa lahir dari ingatan. Karena itu setiapkali merasa mendapatkan pengalaman lapangan harus cepat segera dicatat. Itulah cara kita membangun strategi pengetahuan, yang buahnya bisa dimanfaatkan orang lain.




Berikut ini adalah rangkuman kami dari lapangan. Bertemu setiap waktu dengan petani-petani (atau lebih tepatnya kaum buruh tani) dalam rentang setahun di perdesaan kawasan Bandung Utara, khususnya Kecamatan Cimenyan. Saya mencatat secara khusus terhadap pola pikir masyarakat, terutama berkaitan dengan kelemahan-kelemahannya. Kelemahan menjadi objek penting yang dibahas karena kami punya tujuan untuk evaluasi. Dengan itu serta-merta saya tegasnya tiada niatan untuk mengatakan tidak ada kelebihan dalam masyarakat petani itu. Bukan itu maksud saya. Soal kelebihan saya juga mencatatnya, tapi akan saya kumpulkan ulang dan menjadi tulisan dalam bentuk lain.

Daftar kelemahan pola pikir ini juga bukan merepresentasikan keseluruhan problem. Sampai detik ini, barangkali inilah yang bisa saya sampaikan. Lain waktu bisa disambung.

Lain daripada itu perlu saya sampaikan juga bahwa objek studi ini memang berurusan dengan masyarakat tani, atau yang disebut Bung Karno sebagai Kaum Marhaen –sebagaian juga menghinggapi golongan setengah tani setengah dagang atau golongan masyarakat setengah tani setengah pelaku jasa transportasi. Bisa jadi problem ini sebenarnya juga menghinggapi golongan masyarakat jenis lain.

HANYA MENGENAL JANGKA PENDEK (tidak mengenal jangka menengah dan jangka panjang). Contoh: saya punya barang, belilah segera.Tidak pernah dipikir nilai perkalian, misalnya berusaha menyediakan banyak sehingga berpikir strategis jangka menengah, atau mengolah barang (dalam jangka lebih panjang) agar bernilai lebih sehingga melipatkan penghasilan. Tipikal orang miskin berpikir adanya itulah yang ia harus dapatkan. Soal sejam kemudian harus mencari lagi bukan urusan. Orang miskin tidak punya pemikiran pentingnya efektivitas.




MENJUAL JAM KERJA (bukan menjual kemampuan diri). Contoh, kerja sehari saya minta uang sekian. Tidak bisa menghitung apa yang dihasilkan dalam waktu sehari. Bahkan tidak peduli item waktu secara detail dari yang disebut sehari. Asal waktunya habis, maka ia meminta upah tanpa perlu bertanggungjawab misalnya, pada waktu yang terbuang. Jika bekerja lalu terjadi hambatan ia tidak merasa bertanggungjawab menghilangkan komitmen.

MENYUKAI PEROLEHAN YANG DILAKUKAN (tanpa peduli komitmen memberikan hasil bagi orang lain). Contoh prinsip yang dianut adalah, yang penting saya bekerja, soal hasil tidak memuaskan bukan urusan saya. Dengan kata lain kerja sebagai yang dijual. Nilai dari hasil kerja tidak pernah dipikirkan.

MERASA BENAR DENGAN KEBIASAAN (tanpa pernah mencoba hal lain untuk menjadi “luar biasa”). Contoh pola pikir yang dianut adalah, apa yang saya lakukan itu sudah benar. Bekerja dengan cara itu dan hasilnya seperti ini. Ketika diberikan wacana baru merasa sulit dan mustahil dilakukan. Malas mencoba hal yang baru bahkan yang lebih efektif dan maksimal karena dianggap sulit.

HANYA MAU MENERIMA YANG MUDAH DAN MENYENANGKAN (tidak mau berpikir setiap hal ada resiko atau ada syarat yang harus dipenuhi. Contoh, seseorang mau menerima pinjaman modal, tetapi tidak mau memenuhi tanggungjawab pelaporan dengan pencatatan secara rutin. Orang terbelakang ini berpikir yang diucapkan dari sesuatu yang akan menguntungkan itulah yang diingat dan dikejar, sedangkan sesuatu yang memberatkan, seperti sarat dan tanggungjawab kurang diperhatikan.

KELUAR RUMAH MEMBAWA BEBAN PROBLEM (bukan untuk mengatasi persoalan di luar). Urusan rumah tangga (oikos/kebendaan) menjadi beban sehingga setiap urusan dengan orang lain selalu fokus mengarahkan untuk penyelesaian internalnya. Bahkan untuk urusan yang bukan menyangkut problem keluarganya sering dijadikan ajang untuk mengurusi problem keluarganya. Keluh kesah rumah tangga kemudian sering membuat diri seseorang akan dianggap negatif oleh orang lain.




MENYAKINI SESUATU YANG TIDAK DIKETAHUI SESUNGGUHNYA (lari dari kenyataan yang seharusnya diatasi). Contoh, orang lain bisa baik ekonominya karena bla…bla…bla…..padahal dia tidak tahu latarbelakangnya mengapa orang lain kaya. Sementara dirinya merasa kerdil dan malas memproses menjadi maju. Contoh, merasa yakin tanah yang dimilikinya menghasilkan ekonomi secara baik karena beranggapan hanya tanah yang luas yang bisa mensejahterakannya. Tanah kecil dirinya tidak diolah. Padahal orang lain yang sukses selalu memproses dari yang tiada menjadi ada, dari yang kecil menjadi besar.

MELETAKKAN KELEMAHAN PADA MODAL MATERI (tidak pernah mengenal beberapa jenis modal ilmu pengetahuan dan pengalaman). Orang miskin hanya mengenal materi/uang yang menjadi penentu kemajuan, padahal materi yang banyak pun bisa susut jika tidak memiliki ilmu dan pengalaman mengelola. Banyak orang punya tanah luas habis karena tidak bisa mengelola. Orang bermodal ilmu dan modal uang bisa membeli tanah, orang miskin justru menjual tanah. Tanah habis tenaga dijual. Tenaga tak ada, hidupnya terpuruk penuh beban pikiran.

DIBERI REZEKI DENGAN KEPERCAYAAN KHIANAT (tidak berpikir rezeki datang karena faktor kepercayaan). Contoh, seseorang merima order pekerjaan atau pesanan. Ia menganggap itu rezeki sehingga diterima dengan senang tanpa beban. Karena dianggap rezeki, ia mengabaikan kepercayaan dan melayani seenaknya tanpa merasa perlu meningkatkan kepercayaan. Begitu kepercayaan dari orang lain hilang, ia terhenti rezekinya karena ordernya raib.




Demikian, mari kita cari solusinya….[]
Baca Mengubah Keadaan Petani
Baca Ilmu Hitung untuk Petani
Baca Cara Menilai Keterbelakangan Petani

1 Trackback / Pingback

  1. Perihal Kemiskinan Budaya – ODESA INDONESIA

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*