Fidel Castro dan Kelor

OLEH K.P. Nayar in Havana
Jajaran pohon kelor kini melingkupi kediaman Fidel Castro, sebagian lagi terlihat tumbuh di bagian luar kompleks tiga tahun kemudian. Seorang reporter yang lewat di kompleks di kawasan Havana ini melihat bahwa pohon kelor atau drumstick (buah kelor bentuknya panjang menyerupai stick pemukul drum-red) kesukaan Castro ini terlihat hijau saat musim panas, dan ketika hujan turun tak beraturan, pohon ini pun menjadikan pemandangan seperti fantasi.

Rakyat Kuba paling suka membicarakan dua jenis kesukaan Castro setelah pensiun: membuat keju dan kain sutra. Castro tak tertarik pada keju khas India (paneer), tapi kalau untuk soal memelihara ulat sutra dia pasti melirik India.

Che Guevara, simbol revolusi Kuba selain Castro, membawa 16 jenis bibit tanaman dari Brazil ke Kuba. Bibit kelor (Moringa Oleifera) dia bawa untuk pertama kalinya pada 1960-an, tapi pembudidayaannya masih terbatas pada petak kecil lahan di tengah pulau. Menurut ahli pertanian, kelor adalah satu-satunya dari 16 itu yang bisa tumbuh. Namun karena ditanam secara terbatas, tanaman ini tak pernah mendapatkan perhatian Castro.

Tertarik Memajukan Petani? Bantu mereka dengan Amal

Dia mengenal kelor tahun 2010, ketika Haiti diguncang gempa dahsyat yang dissusul banjir dan longsor, Castro merasa sangat prihatin terhadap penderitaan rakyat Haiti. Upaya-upaya pertolongan terhambat oleh korupsi dan inefisiensi, dan berbaur dengan infrastruktur yang kurang. Epidemi kolera pada Oktober 2010 menambah putus asa rakyat Haiti. Sedikitnya 50 nyawa melayang setiap harinya ketika epidemi ini mencapai puncaknya. Maka Castro memutuskan untuk berbuat sesuatu. Dia kemudian menelepon pendiri Cuba’s Finlay Institute, Concepcion Campa Huergo, dan meyakinkan dia bahwa rakyat Haiti memerlukan sesuatu program jangka panjang untuk mengatasi persoalan kelaparan kronis mereka.

Huergo dan karibnya, Ricardo Perez, menceritakan kepada The Telegraph rangkaian kejadian yang kemudian mendorong Castro mewujudkan obsesinya untuk membudidayakan kelor India. “Kepada Castro saya katakan bahwa untuk menjawab problem kemiskinan Haiti adalah kelor,” kata Huergo.

Dia menceritakan contoh bagaimana kalau Castro sudah antusias terhadap sesuatu isu. Dalam dua jam pemimpin tertinggi Revolusi Kuba itu membaca apapun tentang kelor beserta keistimewaan tanaman ini, dan kemudian menelepon balik Huergo.

“Tanaman ini jawaban untuk kelaparan,” tegas Castro yang piawai menebar sikap antusias ini.

Castro agak memarahi Huergo karena tidak memberitahu keajaiban kelor sejak awal.
Karena tidak lagi menjabat presiden dan tidak punya posisi formal dalam pemerintahan, Castro tak bisa mengeluarkan perintah untuk mendorong kampanye penanaman kelor. Dalam pembicaraan telepon itu, Castro Cuma menyarankan agar ada yang berangkat ke India mempelajari seluk beluk kelor dan membawa bibitnya ke Kuba.

Tanpa ragu sedikit pun, Huergo menyatakan siap pergi ke India melaksanakan tugas ini. Pada waktu itu, Huergo sudah 31 tahun menjabat direktur Institut Finlay, yaitu sebuah organisasi ilmiah yang bergerak dalam riset dan produksi vaksin, dan merupakan lembaga yang termasuk bereputasi tinggi dan prestisius di dunia.

Huergo sendiri tidak asing dengan India. Dia sudah mempraktikkan yoga selama 45 tahun. “Bagi saya, India itu seperti ibu. India mengajarkan saya semua aspek kemanusiaan.”

Dia mengunjungi India untuk pertama kalinya atas undangan Departemen Ayurveda, Yoga dan Naturopathi, Unani, Siddha dan Homoeopathi untuk mendiskusikan pengembangan vaksin homoeopati yang dikembangkan oleh Institut Finlay. Persentuhannya dengan kelor yang berkhasiat itu terjadi beberapa tahun sebelumnya melalui seorang ahli kelor Kanada.

Dilecut oleh Castro, dia balik ke India, pertama ke Tamil Nadu, kemudian ke Andhra Pradesh, dan akhirnya ke Kerala. Sepanjang perjalanan ini hanya kelor dan kelor yang ada di benaknya siang dan malam, baik ketika bangun maupun saat tidur. Seringkali dia mencari segenggam polong kelor, atau pergi ke restoran mencari menu dengan kelor. Tujuannya adalah untuk mencicipi varietas lokal yang cocok untuk dibawa ke Kuba.

Desember 2011 dia mendapat instruksi untuk membeli 100 ton bibit kelor untuk dikapalkan ke Kuba. Castro begitu gembira melihat kapal pertama tiba, dia langsung mengambil seporsi bibit untuk ditanamkan di dalam dan di luar kompleks kediamannya. Castro menunjukkan menanam kelor sebagai hobi pribadi. Pohon initernyata berbuah besar dan banyak. Media dan website Kuba menyiarkan foto-foto Castro yang terihat gembira merawat tanaman asal India itu.

Kuba kemudian menjadi produsen bubuk kelor dari daunnya. Huergo menggatakan, penggunaan bubuk kelor di dalam sup, kacang-kacangan dan gorengan mulai tumbuh di Kuba, didorong publikasi tentang kandungan nutrisinya yang sangat kaya.

Castro yang rajin menulis artikel untuk media Cuba, akhir-akhir ini banyak menulis tentang nilai dan khasiat tanaman asal India ini.




“Kelor, asalnya dari India, satu-satunya tanaman yang mempunyai setiap jenis asam amino. Dengan pola dan manajemen tanam yang baik, daun produksi daun hijaunya bisa mencapai 300 ton per hektare per tahun. Kelor punya belasan khasiat obat,” ujar pria berusia 90 tahunan ini.

Budidaya kelor adalah salah satu tonggak hubungan Kuba-India, yang mengabadikan nama Fidel Castro yang ulang tahun ke 90-nya jatuh pada 13 Agustus. [Penerjemah Budhiana K. Sumber Retiring? Try the Fidel stick)

Baca Hari-hari Terakhir Fidel Castro bersama Kelor
Baca Mengenal Moringa Kelor dan Manfaatnya
Baca Smart Farming: Odesa Garap Pendidikan Tani Remaja
Baca Unik, Remaja Desa Ini Semangat Bertani

5 Trackbacks / Pingbacks

  1. Warisan Kelor Fidel Castro Memperlihatkan Hasilnya – ODESA INDONESIA
  2. Kelor: Manfaat Gizi, Obat dan Solusi Stunting – ODESA INDONESIA
  3. Kisah Tukang Ojeg Ditolong Kelor Dua Kali – ODESA INDONESIA
  4. Kisah Tukang Ojeg Dua Kali Ditolong Kelor – ODESA INDONESIA
  5. Kelor di Negeri Yahweh – Odesa-Indonesia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*