Ilmu Hitung Usaha Tani untuk Petani

ILMU USAHA TANI: Salahsatu pendidikan untuk petani adalah menghitung dan menggambar. Ini dua hal yang mendasar dalam rangka up-grading pengetahuan. Perhitungan usaha sering kali lemah, dan menggambar kegiatan usaha juga tidak pernah dilakukan. Itulah mengapa setiapkali Odesa-Indonesia ditantang investasi bisnis atau permodalan kepada petani, biasanya akan terhambat oleh perhitungan. Bahkan beberapakali program pembangunan meleset karena antara gambar/desain dan perhitungan tidak sinkron.

Odesa-Indonesia menemukan kelemahan menghitung dan menggambar pada kalangan petani secara mayoritas. Sebagian besar hanya mampu menghitung sekian persen untuk perencanaan, sedangkan detailing perhitungan atau desain sangat lemah. Itulah mengapa perhitungan usaha sering lemah. Keliru menghitung mengakibatkan irasionalitas.

Para petani kebanyakan bekerja dengan idiom-ideom seperti, “yang penting mah kita kerja dan makan,” atau “kalau dihitung bakal sedikit hasilnya.”




Ungkapan-ungkapan tersebut tentu bukan paradigma dalam pengertian keilmuan, melainkan semata cara pandang dari alam hidup petani yang belum mendapatkan pengetahuan lebih maju. Petani bukan “mengimani” cara pandang itu, tapi karena memang tidak mendapatkan cara baru. Jarang ada pendidikan informal soal perhitungan.

Setiapkali turun ke kampung-kampung perdesaan di Cimenyan, Basuki Suhardiman selalu menekankan perhitungan untuk bisnis, dan gambar/desain untuk bakal proyek. Berkali-kali pembicaraan itu ditekankan, tetapi bukan lantas petani langsung bisa menerapkan. Bahkan sekalipun sudah diajari dengan pendampingan 1 sampai 2 kali terkadang tidak semulus yang dibayangkan. Karena itu, usaha pendampingan pengetahuan perhitungan ini harus serius dan telaten. Odesa-Indonesia tidak mungkin mengandalkan satu orang trainer seperti Basuki Suhardiman. Butuh relawan yang siap menjadi “guru” perhitungan dan desain/gambar untuk setiap program dan proyek yang akan dilaksanakan oleh petani.

Pendidikan informal atau Sekolah Usaha Pertanian menjadi penting. Saya membayangkan, Odesa-Indonesia harus memulai penjadwalan khusus program Sekolah Usaha Tani ini supaya lebih efektif. Misalnya ada kelas khusus dengan 4x pertemuan selama satu bulan. Setiap pekan 5-10 orang petani di bawah bimbingan odesa berkewajiban untuk belajar.

Dengan modal ilmu pengetahuan ini barulah nanti setiap program kredit atau investasi bisa diturunkan. Sama seperti saat Odesa Melakukan budidaya tanam Kopi. Mereka yang belum bisa bertanam kopi harus masuk mengikuti forum diskusi, kemudian setelah mereka mengerti detail penanaman kopi, barulah petani kemudian menerima bantuan bibit. Hasilnya tentu lebih bagus dari petani yang asal tanam.

Sudah ada bukti, di Pondok Buah Batu para petani mau mengubah beberapa hal yang mendasar soal pasca panen kopi. Sungguh, petani banyak yang suka ilmu pengetahuan. -Agung Prihadi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*