Enton Supriyatna: Pilgub Jabar Mestinya Membahas Masalah WC

Pemilihan Gubernur Jawa Barat akan berlangsung pada pertengahan 2018 mendatang. Hiruk pikuk pencalonan masih berlangsung. Hampir semua pembicaraan masih terkonsentrasi pada masalah pasangan, pengusungan dan koalisi tanpa menghubungkan pada urusan rakyat bawah. Hal ini menurut Enton Supriyatna, Pegiat Sosial Yayasan Odesa Indonesia, harus diingatkan agar politisi mengabaikan tanggungjawabnya dalam mengurus mayoritas rakyat kecil yang hidupnya serba sulit.

“6 bulan ke depan kita akan menghadapi Pilgub. Apakah usung mengusung para calon ini ada urusannya dengan 4 juta keluarga atau 16 juta warga jawa barat belum memiliki sarana Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK) atau belum?. Hal seperti ini hendaknya menjadi pemikiran teman-teman politisi,” kata Enton saat mengawali pembicaraan pada acara dialog malam tahun baru, “Masa Depan Jawa Barat: Antara Modernisasi dan Keterbelakangan” di Pasir Impun, Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Minggu 31 Desember 2017.

Enton juga memaparkan bebeberapa hal mendasar lain yang menimpa Provinsi terbesar penduduknya di Indonesia ini. Antara lain soal indeks kebahagiaan yang peringkatnya ke 29. Ada pula data miris lain, seperti 1.083.117 Keluarga Pra Sejahtera (sangat miskin), 7.140.709 Keluarga Sejahtera I (Miskin), Keluarga ber-status Fakir Miskin mencapai 4.852.520.




Data-data seperti itu menurut Enton harus menjadi wacana penting dalam kegiatan politik sebab sejauh pengalaman dirinya mengurus rakyat bawah di Kawasan Bandung Utara (KBU) Enton melihat di berbagai tempat terjadi pembiaran terhadap nasib rakyat kecil, terutama dari keluarga petani miskin.

“Misalnya teman-teman Odesa Indonesia sekarang sedang mengusahakan saluran air untuk sebuah kampung yang warganya hidup tanpa air bersih. Mereka tinggal di bukit. Kemarau atau penghujan tetap sulit air. Untuk mengambil air bersih harus antre mulai jam 12:00 malam. Tidak punya WC, BABnya dibuang ke kali, mengalir ke kota. Ini sesuatu yang tidak terpikirkan teman-teman di kota, juga tidak dipikirkan oleh politisi dan sampai sakarang masih berlangsung,” jelas Enton.

Pemaparan data Yayasan Odesa Indonesia tersebut kemudian berlanjut pada pembahasan yang lebih detail melibatkan beberapa pemikir seperti Budayawan Herry Dim, Budayawan Hawe Setiawan, Ekonom Arief Anshory Yusuf,Ketua Lembaga Dakwah PBNU, KH.Maman ImanulHaq, Teknokrat ITB Basuki Suhardiman, dan lain sebagainya.-Khoiril.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*