Calon Gubernur Jawa Barat Belum Menunjukkan Komitmen Terhadap Rakyat Desa

Pemilihan Kepala Daerah Jawa Barat akan berlangsung pertengahan tahun 2018. Beberapa kandidat sudah mendaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum di Jawa Barat pada pekan pertama Januari 2018. Menurut Relawan Odesa Indonesia, Enton Supriyatna, dari Calon Gubernur Jawa Barat tersebut belum menunjukkan keseriusan dalam mengurusi masalah rakyat, terutama keberpihakan terhadap rakyat miskin dari keluarga petani di perdesaan.

“Sejauh ini para kandidat dan partai politik lebih fokus urusan koalisi. Komitmen dengan visi, program dan sikap politik terhadap nasib rakyat bawah di perdesaan belum terlihat. Padahal inilah yang paling mendasar,” kata Enton saat melakukan pendataan warga Lanjut Usia, terutama Janda dan Duda di Cikawari Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung, Senin 8 Januari 2018.

Di Kampung Cikawari itu, Enton Supriatna sedang berkegiatan sosial. Selain meliput masalah-masalah sosial perdesaan di Desa Tertinggal Mekarmanik, ia juga sedang mendata jumlah orang lanjut usia yang susah kehidupannya karena tidak mampu bekerja.

“Masalah di Cimenyan ini misalnya, tidak pernah menjadi perhatian. Padahal, Cimenyan ini mendapatkan dua jalur politik, yang pertama dari kewenangan bupati, yang kedua dari Gubernur sebagai bagian dari Kawasan Bandung Utara. Namun bertahun-tahun begini keadaannya,” kata Enton.

Dalam pandangan Enton, kampung-kampung Cimenyan kehidupan buruh tani dan petaninya sangat memprihatinkan. Jarak yang dekat, hanya antara 5-15 km dari Kantor Gubernur Jawa Barat, tetapi tidak pernah ada program terobosan. Dengan kata lain menurut Enton, dipastikan kawasan perdesaan yang lebih jauh pasti tidak terurus.

“Yang dekat saja tidak mendapatkan perhatian secara serius, apalagi yang jauh. Terlebih keadaan Cimenyan ini juga mempengaruhi masalah sosial Kota Bandung, misalnya soal tanah yang gundul sering mengakibatkan banjir di perkotaan Bandung,” jelasnya.




Enton mendesak kepada Calon Gubernur Jawa Barat agar masing-masing serius memperhatikan nasib rakyat kecil, terutama petani dan buruh tani yang menjadi mayoritas mata pencaharian warga Jawa Barat. Dengan mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) Enton menunjukkan, Indeks kebahagiaan rakyat Jabar berada di posisi ke-29 dari 34 provinsi di Indonesia. Terdapat banyak data yang menurut Enton cukup mencemaskan sebagaimana terlampir:

FAKTA HIDUP WARGA JAWA BARAT:
Data BPS/DINAS SOSIAL JAWA BARAT Tahun 2017 Menyebutkan:
1.083.117 Keluarga Pra Sejahtera (sangat miskin).
7.140.709 Keluarga Sejahtera I (Miskin).
Keluarga Status Fakir Miskin 4.852.520
1.873.861 Pengangguran.
3.095.547 Pekerja Tani Gurem.
16.359.878 Orang BAB Sembarangan.
135.787 Anak terlantar
2.592 Anak nakal
5.935 Korban Narkotika.
6.587Anak Balita Terlantar Jumlahnya
135.787 Anak Terlantar
211.940 Anak Jalanan
Anak Wanita dan Lansia Korban tidak Kekerasan, 260 kasus.
Orang dengan HIV/AIDS/HIV Patient, jumlahnya mencapai 18.106.
Wanita Rawan Sosial Ekonomi 4.852.250.
Penyandang cacat 128.615
Gelandangan dan Pengemis 12.282
Tuna Susila 5.271
2.618.048 unit Rumah Tidak Layak Huni. (Sumber: Bidang Perumahan Dinas Permukiman dan Perumahan Jawa Barat, 2014)

Lebih detail tentang keterbelakangan Manusia Jawa Barat kita bisa lihat dari besarnya putus sekolah. Pusat data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan, Pada periode 2016/2017 ini, di Jawa Barat terdapat 5.626 siswa SMA putus sekolah. Jumlahnya jauh melampaui Jawa Tengah 2.618 dan Jawa Timur 3.991.

Sementara pada level Pendidikan SMP, terdapat 8.635 siswa SMP yang putus sekolah. Ini jumlahnya sangat besar sekali di Banding Provinsi Jawa Tengah berjumlah 3.673 dan Jawa Timur 4.157. Lebih mengenaskan lagi, pada level pendidikan Sekolah Dasar, angka putus sekolahnya masih mencapai 4.697. di Jawa Tengah 2.205 dan Jawa Timur 1.808.

Tak berhenti di situ, ketika negara kita sedang giat-giatnya mengusahakan lahirnya generasi terampil dalam menyambut lapangan kerja, ternyata, di Jawa Barat angka putus sekolah SMK sangat besar. Jumlahnya mencapai 15.952. Bandingkan dengan Jawa Tengah 10.867 dan Jawa Timur 11.067.

Kemudian kita temukan fakta juga bahwa terdapat 4.756.375 Usia 7 –24 tahun tidak bersekolah.

Memang Provinsi Jawa Barat jumlah penduduknya lebih besar, namun jumlahnya tidak mencapai dua kali lipat dari jumlah penduduk atau jumlah angkatan sekolah di jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun kenyataannya, hampir semua angka putus sekolah melampaui duakali lipat dari Jateng dan Jatim.

Selain mengutip Sumber BPS, Enton juga menyatakan, Survei Indo Barometer (Mei 2017), lima masalah yang dikeluhkan warga Jabar: sulitnya lapangan pekerjaan (23,5 persen), mahalnya harga kebutuhan pokok (17,9 persen), kondisi jalan buruk (12,9 persen), banyaknya warga miskin (11,3 persen, dan kemacetan (5,3 persen).

“Kenyataan-kenyataan seperti itu seharusnya menjadi pemikiran serius para politisi, terutama Calon gubernur. Jangan hanya berkuasa tetapi tidak jelas kebijakannya,” kata Enton.-Mudris

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*