Andini Putri: Ibu Petani Perlu Inovasi dalam Memasak

PASIR IMPUN. Memasak selain dituntut menghasilkan makanan enak juga harus menghasilkan makanan yang bergizi. Pendidikan kuliner pada keluarga petani perdesaan perlu dilakukan supaya keluarga lebih sehat; anak anak mendapatkan makanan yang bergizi, dan suami bisa bekerja lebih produktif.

Karena alasan tersebut, pada acara pergantian tahun baru 2018, Yayasan Odesa Indonesia mengadakan kursus memasak. Andini Putri (52 tahun), pegiat sosial bidang perempuan Yayasan Odesa Indonesia secara khusus membuka kursus memasak dengan menyertakan 22 ibu rumah tangga dari kampung Cisanggarung dan Sekebalingbing Desa Cikadut Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung.

“Mengubah model masakan perlu dilakukan karena kebanyakan warga perdesaan di Cimenyan kemampuan kulinernya kurang variatif. Kita perlu memberikan hal-hal baru dalam kuliner rumah tangga agar keluarga bisa makan enak dan bergizi,” kata pengelola Rumah Makan Dapoer Andini Palasari Bandung ini kepada odesa.id.




Andini mencontohkan, ketika memberikan instruksi kepada ibu-ibu untuk memasak ikan asin/pedak, beberapa peserta mengatakan, “digoreng”. Dari situ kemudian Andini memunculkan memasak jenis lain dengan model pesmol. Model masakan pedak ala pesmol ini tidak repot karena bahan bakunya sudah biasa dimiliki oleh ibu rumah tangga. Dengan memberikan bumbu sederhana, makanan pedak lebih enak dan bergizi karena ada tumbuhan yang dikonsumsi.

Peserta kemudian mengerti karena dengan pesmol rasa masakan lebih bagus dan lebih bergizi sebab saat makan pedak tersebut terdapat bumbu bergizi seperti bawang putih, bawang merah, bawang Bombay, cabe merah, tomat, cabe gendot, cabe hijau, dan gula murah.

“Saya ajarkan model memasak yang mereka tidak lakukan sebelumnya namun dengan catatan tidak boros biaya, dan bahan bakunya mereka gunakan saban hari,” ujar perempuan yang dikenal aktif bergiat sosial bersama suaminya ini.

Masakan Baru Kelor

Ada juga ide baru lain untuk mengubah kebiasaan kuliner. Andini mengajak ibu-ibu memasak daun kelor. Ia instruksikan kepada peserta dua jenis masakan, sayur lodeh dan ca daun kelor. Saat instruksi ada seorang ibu yang bilang, takut keracunan. Tapi setelah diajak bersama, dan kemudian menciipi hasilnya dia bilang, “kok enak banget. Kangkung pun lewat.”

Menurut Andini hal baru seperti ini memang harus dicoba secara langsung. Masak bareng makan bareng. Dan dari pengalaman tersebut akan membentuk model masakan baru.

“Dengan pendekatan yang baik hasilnya akan membaik. Buktinya kita ajak masak Kelor yang sebelumnya ditakutkan, sekarang mau. Kita juga menjelaskan manfaat gizi, terutama pentingnya vitamin, kalsium dan sejumlah manfaat dari kuliner berbahan baku kelor Kelor. Dan yang terpenting dalam memasak adalah soal kebersihan,” jelasnya. Mudris/odesa.id

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*