Kerusakan Alam dan Kemiskinan Petani

You are currently viewing Kerusakan Alam dan Kemiskinan Petani

Oleh Faiz Manshur. 
Ketua Yayasan Odesa Indonesia.
IG Faiz Manshur
 IG Odesa Indonesia

Kerusakan alam dan kemiskinan petani merajalela di seluruh penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia. Harus ada langkah perbaikan. Keterlibatan kelas menengah diperlukan. Apa saja yang harus dilakukan? 

Kita sering mengabaikan hubungan antara kerusakan alam dengan kemiskinan. Padahal itu sangat berkaitan. Memang ada pandangan yang memperlihatkan bahwa kekuatan Sumber Daya Alam tidak selalu berkorelasi dengan kesejahteraan manusia. Namun kita bisa mengajukan pertanyaan lebih lanjut, “bagaimana kalau manusianya lemah dan alamnya rusak?”

Lingkungan hidup kita di seluruh Indonesia telah banyak berubah. Jauh berbeda dengan era 1970an, bahkan dengan tahun-tahun 1990an pun kontras berbeda. Tanah pertanian mengalami krisis akibat penggunaan panjang. Kelelahan tanah menyebabkan degradasi nitrogen yang akut. Tanah pucat pasi karena mengalami pesakitan. Udara dan air juga mengalami krisis.

Kerusakan Alam Pertanian Bandung Utara
Kerusakan Alam Pertanian Bandung Utara

Matahari tak lagi optimal bekerja memproduksi fotosintesis sehingga tanaman pertanian semakin sulit berkembang. Ternak petani turun produktivitasnya, pupuk semakin sulit, hasil panen pun susut dari waktu ke waktu.

Kemiskinan di kota memiliki fakta objektif yang sama. Orang-orang miskin perkotaan berada di dalam keadaan rumah yang sempit, air yang tak lancar, sampah yang menumpuk, pendidikan yang asal-asalan dan sejumlah kesempitan lain yang membuat kesempatan mereka semakin susah mengembangkan diri.

Kemiskinan lingkungan memiskinkan ekonomi. Hal ini karena terhubung pada persoalan pekerjaan. Pekerjaan semakin tidak terikat atau jam kerja semakin pendek. Penghasilan pun semakin tak jelas. Daya beli lemah, daya sosial semakin susut, dimensi spiritual manusia juga terpengaruh. Tak heran kalau kemudian indeks kebahagiaan juga rendah.

Indonesia mengalami persoalan akut karena dari 270 juta jiwa penduduk, jumlah orang dalam keadaan sangat miskin melampaui lebih 9 juta jiwa, lalu mereka yang menyandang orang miskin jumlahnya mencapai 27 juta jiwa dan lebih dari 115 juta jiwa dalam keadaan rawan miskin. Naasnya lagi, mayoritas warga negara yang bermasalah dengan kemiskinan dan kerusakan lingkungan itu adalah mereka yang berhubungan dunia pertanian.

Belajar Pertanian Bersama Mang Toha

Melihat realitas objektif ini sesekali kita membicarakan persoalan hidup dari pada persoalan alam, atau lingkungan tempat kita mengembangkan diri. Di antara kita, terutama kalangan terpelajar mesti mengambil peran memperhatikan lingkungan karena inilah jantung persoalan ekonomi, sosial, kultural. Membekali diri dengan ilmu-ilmu dasar sangat diperlukan seperti perubahan iklim, erosi, banjir, sampah, tanaman, satwa, tanah, air, udara, energi, ekologi dan ekosistem.

Membekali diri itu maksudnya belajar dengan cara non-formal dan tidak perlu sekolah formal. Sekolah formal hanya menghabiskan waktu untuk berteori, sementara sekolah non formal dengan literatur yang melimpah dari intenet dan praktik di lapangan kehidupan sangat efektif menumbuhkan pengetahuan. Kita harus mencari kesempatan dengan meluangkan waktu membaca, berdiskusi dan terhubung dalam praktik komunitas berkaitan dengan lingkungan hidup.

Skenario seperti itu penting dijadikan agenda kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Selama ini banyak orang, termasuk kalangan terpelajar acuh dan gagap menghadapi persoalan karena tidak punya bekal paradigma dan tidak memiliki pengalaman langsung dalam urusan lingkungan. Kalangan terpelajar misalnya, sangat jarang memiliki perhatian terhadap masalah di atas. Bahkan politisi banyak yang kurang melek terhadap isu-isu lingkungan.

Belajar bersama alam

Di luar itu, urusan hidup kita juga telah jauh terjebak pada ruang sempit urusan ekonomi yang didominasi oleh nalar homo economicus. Keterjebakan ini paling tidak bisa dilihat pada setiap pembicaraan lingkungan selalu berhadapan dengan urusan kepentingan ekonomi. Seakan-akan urusan hidup hanya urusan ekonomi, dan kemudian pilihannya dipersempit pada pertanyaan, apakah kita boleh merusak lingkungan karena alasan ekonomi.

Padahal kenyataan rusaknya alam juga merugikan ekonomi itu sendiri. Terdapat juga gumpalan data, pada lingkungan yang rusak, ekonomi juga porak-poranda -sehingga kegiatan ekonomi itu sesungguhnya tidak menguntungkan. Terdapat juga fakta selalu ada cara menjalankan ekonomi tanpa harus merusak lingkungan.

Kerusakan Alam membutuhkan peran petani memperbaiki
Kerusakan Alam membutuhkan peran petani memperbaiki

Menciptakan paradigma untuk memperbaiki lingkungan adalah kebutuhan mendasar bagi Indonesia. Di organisasi kami, Odesa Indonesia, sejak tahun 2016 mengambil peran dalam bidang pertanian yang aktivitas di dalamnya sangat lekat berurusan dengan bencana alam yang puluhan tahun rutin menimpa kota Bandung. Dan kabar baiknya, proses perbaikan itu bisa dijalankan para petani, termasuk kalangan kelas menengah dari perkotaan.

Kami menghadapi kerusakan alam yang akut. Salahsatu sumbernya dari praktik alihfungsi lahan. Alih fungsi lahan yang rusak itu untuk pertanian monokultur sayuran. Alam mengalami kerusakan, dan masyarakat pun demikian. Bumi telah sakit, dan kehidupan masyarakat pinggiran kota Bandung juga sakit. Di atas bumi yang sakit ini kami yakin sulit mewujudkan kehidupan yang sehat. Terdapat bukti kerusakan ekologi merusak kehidupan warga.

Banyak Salah Urus di Kawasan Bandung Utara

Sebagai ilustrasi pembuktian, di Kecamatan Cimenyan terdapat kemiskinan di kalangan petani. Tak cukup itu, mereka menderita karena kesulitan air untuk pertanian dan juga untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Saat musim kemarau, air ngadat bahkan macet. Saat musim hujan air keruh mengalir karena sarana penampungan dan infrastruktur pengairannya buruk. Di lain pihak banyak lahan kering akibat praktik pertanian yang salah urus. Pohon hilang, sumber air pun hilang. Lebih jauh lagi tanah petani hilang dijual ke warga kota. Terutama tanah yang punya sumber air bersih dimiliki orang kota, menjadi sumber usaha bisnis dialirkan ke kota Bandung, sementara warga petani terlewati begitu saja.

Wawasan lingkungan hidup adalah kata kunci. Kami mencoba melakukan itu, bekerja dengan kemampuan parsial bersama warga masyarakat. Lama-kelamaan yang parsial itu mengumpul menjadi item yang bisa dijalankan secara integratif. Muncullah kesimpulan bahwa ekologi harus diselamatkan melalui jalan pertanian. Para petani mesti bekerja dengan pola pertanian yang lebih baik. Salahsatunya ialah menanam pohon besar yang itu menghasilkan buah-buahan.

Bumi Pucat Petani Melarat. Apa yang harus kita lakukan?

Tahun 2016 lalu, petani di Cimenyan sangat minim menanam pohon buah. Atas dasar diskusi bersama petani, kami mengusahakan bantuan bibit buah. Sedikit demi sedikit program berjalan. Karena petani semakin banyak yang tertarik sementara Yayasan kurang banyak menyediakan bibit, sebagian dari petani rela membeli bibit sendiri. Learning by doing berjalan.

Sebagaimana saat kita menggali ilmu pengetahuan (jenis apapun) tiada banyak bermanfaat jika tidak terhubung pada problem kehidupan. Lagi pula kalau kita mencari ilmu tanpa tujuan pasti, ilmunya tidak akan menghasilkan produksi tindakan.

Terjadinya ilmu yang bermanfaat menurut saya juga dipengaruhi bagaimana saat kita mencarinya. Dan menurut saya akan sangat baik jika kaidah penggalian ilmu pengetahuan ini disandarkan pada urutan, 1) memahami realitas objektif dari kenyataan hidup yang kita alami, 2) Mampu mengklasifikasikan realitas objektif tersebut sehingga mampu memperlihatkan letak problem dan potensi serta kemungkinan-kemungkinan serendipity-nya, 3) menganalisa dengan ragam sudut pandang, 4) bisa membuat kesimpulan secara objektif, dan ke 5), adalah menguji atau memverifikasinya sehingga nanti bisa melahirkan gagasan baru yang sampai pada tahap tertentu kita bisa menjalankannya sebagai tindakan perubahan.

Dengan cara itu kita punya modal membangun sebuah aksi untuk tujuan kebaikan karena setelah kita bekerja dalam verifikasi tantangan selanjutnya adalah kita harus mampu menjawab tiga pertanyaan, yakni, 1) apa yang kita lakukan?, 2) mengapa kita melakukan itu?, dan ke 3) bagaimana kita melakukannya?.

Fokus perhatian

Kita perlu memusatkan perhatian pada kerusakan alam pertanian di lingkungan pertanian di seluruh Indonesia. Tentu saja urusannya bukan sekadar memperbaiki alam dengan cara mekanis. Prosedur terbaiknya melalui jalan organik yakni kemampuan mengumpulkan para petani, berbicara dengan mereka dan membangun imajinasi bersama tentang hal-hal yang baik untuk kehidupan mereka.

Praktik menjadi bagian penting bagi kita yang menginginkan perubahan. Kepemimpinan dengan visi lingkungan harus kuat tetapi saat bersamaan harus fleksibel supaya mudah diterapkan oleh para petani. Jangan sampai kita memperbaiki lingkungan sebagai aktor sinterklas, atau seperti perilaku politisi atau pejabat dinas yang menjadikan gerakan penghijauan sebagai even. Itu cara konyol dan hanya memuaskan satu pihak, sementara pihak petani tidak tertolong dan lingkungan tetap rusak. Cara terbaik adalah menjadi petani sebagai agen perubahan sosial.

Apa saja yang perlu kita dorong dalam situasi sekarang ini?

1). AIR YANG CUKUP. Mengusahakan petani mendapatkan kecukupan air baik di ladang maupun di rumahnya. Air adalah surga. Tanpa air semua akan menjadi neraka. Mencarikan sumber air baru, merawat dan menggunakan secara efisien menjadi tugas mendasar perbaikan lingkungan pertanian. Irigrasi harus diperbaiki dan mencari jenis tanaman yang tidak boros air juga diperlukan.

2) PUPUK ORGANIK. Bukan kita membantu membelikan pupuk bermerek organik. Juga bukan terus memasok dengan pupuk kimia yang telah lama merusak kualitas tanah. Petani harus bisa memproduksi pupuk yang berasal dari lokal mereka. Ternak domba dan ayam dioptimalkan. Sebisa mungkin hindari pupuk sapi karena metana-nya juga bagian dari problem lingkungan. Lagi pula ternak sapi untuk petani pulau Jawa cenderung irasional di mana pakan menjadi persoalan mendasar. Domba menjadi pilihan terbaik untuk petani kecil. Dan kemudian petani mesti memulai memproduksi pupuk kompos dedaunan bersumber dari dedaunan.

Menyuburkan Tanah Jangka Panjang: Menutup dengan Kompos dan….

Pupuk Terbaik Menyuburkan Tanah

3). MENYEHATKAN TANAH.  Tanah telah sakit. Ini adalah sesuatu yang tidak banyak diketahui orang bahwa keadaan tanah pertanian telah sakit lama sehingga sekarang sekarat. Kita mesti bahu-membahu memberikan penjelasan kepada para petani tentang keadaan tanah yang telah sakit. Kebanyakan dari petani berpikir pragmatis butuh pupuk, dan itu yang dimaksud adalah pupuk kimia. Hanya sesaat kesuburan itu berjalan, selanjutnya tanah Kembali sekarat. Kita tidak mungkin terus menerus membangkitkan mayat hidup untuk keberlangsungan kehidupan. Kita harus menyehatkan lahan dengan cara pandang baru, selain pupuk juga memilih jenis-jenis tanaman yang beragam karena pada intinya yang harus diusahakan dalam menyehatkan tanah ialah Kesehatan lingkungan sekitarnya. Di situlah kita bicara keanekaragaman hayati.

Agroekologi Odesa

4) KEANEKARAGAMAN HAYATI. Menjaga tanaman yang sudah ada itu diutamakan. Jangan mudah menebang poho. Pohon yang sudah ada dijadikan aset. Jika tanaman kurang beranekaragam, terutama kurang buah-buahan atau pohon daun penghasil herbal maka harus secepatnya menjadi perhatian.

Keanekaragaman hayati di dalamnya memuat jenis tanaman pendek, menengah dan tinggi. Dalam setiap lahan pertanian keadaan ini harus dijaga karena kalau sudah menjadi gurun pasir para petani akan sengsara.  Pepohonan beragam juga diarahkan dalam rangka panen. Sebab jika pohon itu beragam tetapi hasil panennya seragam seperti misalnya petani hanya bisa memanen kayu, niscaya pembalakan akan terjadi.

Harus ada tanaman penghasil kayu yang boleh pada masa 5-7 tahun ditebang. Tetapi petani harus juga memiliki hasil panen sayuran. Sistem tumpang sari dibutuhkan di tengah ladang. Demikian juga tanaman herbal baik dari pohon semacam kelor, jahe, daun afrika dan seterusnya wajib dimiliki. Sebab inilah modal besar bagi masyarakat untuk mendapatkan sumber pangan. Dan lebih dari sekadar hanya menggasilkan sayuran, petani juga harus mendapatkan panen buah dan biji.

Buah-buahan adalah surga yang bisa menyehatkan masyarakat tahpa harus membeli. Komoditinya pun meningkatkan ekonomi dan urusan pemasaran bukanlah hal yang sulit selagi orientasi pertanian kita adalah pangan dan market lokal. Dan tanaman penghasil biji seperti jengkel, petai penting dikembangkan.[]

Inilah Solusi Pertanian di Lahan Kritis Kawasan Bandung Utara

Agroekologi Odesa, Perbaikan Pertanian dan Lingkungan Hidup

This Post Has 3 Comments

Tinggalkan Balasan