Bakul Peuyeum Pak Ada Ada Aja…..

Saat saya dalam perjalanan menemui petani sayur di perbukitan Cikawari Tutupan Cimenyan Kabupaten Bandung (Kamis 24/11/2016) tiba-tiba muncul seseorang memanggul dagangan. Saya perhatikan, rupanya saya pernah bertemu dengan bapak ini di tempat lain. Sayang saya lupa bertanya namanya. Begitu mendekat….

“Eh, nama bapak siapa?” tanya saya.

“Pak Ada,” jawabnya.

“Ada? Ada atau adak? Adak siapa lanjutannya?,” tanya saya setengah memaksa.

“Ada aja….tidak ada lanjutannya,” jawabnya tertawa.

“Ya sudah. Saya mau beli lagi peuyeumnya. Dua kilo ya pak,” pesan saya.




Saya tidak kaget kalau ada orang di kawasan Cimenyan ini yang namanya memang hanya satu kata. Dan itu sering saya buktikan di KTPnya. Misalnya Toha, Amah, Damin, Ayi, Entar, Iis, dan lain sebagainya.

Pak Ada, Penjual Tape Keliling Cimenyan.
Pak Ada, Penjual Tape Keliling Cimenyan.

Pak Ada dengan cekatan membungkuskan dua bungkus peuyeum (tape) untuk saya. Saya mau membeli peuyeumnya karena pedagang ini tergolong bersih. Saat mengambil peuyeumnya, Pak Ada memakai sendok garpu, tidak memakai tangan. Sebelumnya saya pernah saya punya pengalaman membeli peuyeum yang diambil dari tangan kosong penjualnya. Mengambil makanan untuk orang lain dengan tangan bersih pun terkadang risi, apalalagi jika tangannya kotor. Tapi Pak Ada lain. Sekalipun bakulan ndeso, ia tergolong pembersih. Penampilannya pun tergolong bersih.

Pak Ada ini bakul peuyeum yang lebih memilih berjualan di bukit-bukit perdesaan kawasan Cimenyan. Ia berasal dari Kampung Cibanteng. Setiap hari berjalan kaki yang jaraknya mencapai 6 km. Pergi-pulang bisa menempuh perjalanan 12 km. Ia terbiasa berkeliling di kampung-kampung di dekat Puncak Bintang Kab.Bandung seperti Kampung Pesanggrahan, Merak Dampit, Cikawari, Cikawari tutupan, dan lain-lain. Jalan setapak diperbukitan yang becek ia susuri pada musim hujan. Sedangkan pada musim panas ia akan bertarung dengan sengatan terik matahari.

“Bapak kenapa jualan tidak ke bawah (kota),” tanya saya.

“Di kota banyak yang jual. Susah laku. Kalau di atas cepat habis. Jam 12 siang juga habis.”
Pak Ada menceritakan, belanja ragi Rp 20.000. Belanja singgkong Rp 250.000 untuk 100kg diolah menjadi peuyeum 60 Kg. Kayu bakarnya Rp 30.000. Peuyeum dijual Rp 10.000 per kg. Dapat uang Rp 600.000 dalam setengah hari dengan catatan mau mikul ke puncak bukit dengan kepayahan. Apalagi saat musim hujan. 600 ribu dikurangi modal 300 ribu.-Faiz Manshur.



Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*