Menjahit Kumis Kucing

Hari ini saya ke Pondok Buah Batu. Sebuah kampung di ujung utara Kabupaten Bandung, persis di dekat Hutan Arcamanik. Saya menemui Pak Nanang Yusuf, ketua Kelompok Tani Pondok Buah Batu. Seperti biasa, setiap pekan, selalu saya menyempatkan ke Pondok Buah Batu untuk urus kegiatan pertanian dan pendidikan anak-anak desa di sana.Tidak ada yang penting pada hari ini sebenarnya karena kami sudah begitu rutin urusan harian soal-soal pengembangan pertanian dan sumberdaya manusia desa.




Tetapi saya memang selalu tertarik untuk ke kampung Pondok Buah Batu itu. Sejak pertama kali saya ke sana, terasa lain dari kampung-kampung sekitarnya. Rumah-rumah penduduk belum banyak yang modern. Banyak rumah panggung. Pepohonan tegalan pinggir hutan begitu alami. Saat mendung di tengah siang mendadak suasana seperti magrib. Begitu kita masuk ke ladang pada jam 14:00 pun sudah terasa sore. Misalnya saya berada di Pondok Buah Batu sampai jam 15:00 dan kemudian masuk kota Bandung (berjarak -+ 10 Km), saya merasa seperti perjalanan turun subuh. Di atas perbukitan terasa malam, di perkotaan masih siang.

Hari ini saya menuntaskan janji sebelumnya kepada Pak Nanang, sedikit urusan membantu petani kopi yang sedang butuh modal; memberi masukan-masukan umum soal pengelolaan keuangan modal lunak, mesin pemotong rumput dan juga soal sistem pembagian beras murah. Semua kegiatan ekonomi yang jauh dari musim panen raya kopi tujuannya untuk memotong kesulitan petani dalam urusan uang agar terlepas dari jeratan rentenir. Itu sesuai dengan yang diharapkan para petani.

Selain itu kami juga membicarakan perihal urusan agama, terutama kegiatan mengaji Pak Nanang. Banyak warga di kampung-kampung kawasan Cimenyan yang butuh waktu dari Pak Nanang untuk mengajar ngaji, tetapi selama ini Pak Nanang masih punya tanggungan beban ekonomi. Bukan ekonomi keluarganya, melainkan urusan masjid, urusan orang sakit, pendidikan dan lain sebagainya. Belum lagi dia harus mencicil kreditan mobil yang belum lunas. Karena alasan itu pula, beberapa tahun belakangan kegiatan ngaji Pak Nanang di Kampung-kampung luar Pondok Buah Batu; hanya bisa fokus mengurus masjid dan masyarakat di Pondok Buah Batu.

Pemandangan Kampung Dekat Hutan Arcamanik
Pemandangan Kampung Dekat Hutan Arcamanik

Beban bisa kita kurangi dengan membantu menyelesaikan masalah kredit mobilnya yang masih kurang 15 juta. Ada pengurus Odesa-Indonesia (Dosen ITB) yang memberikan kemudahan mengurangi beban dengan membayarkan cicilan mobil colt terbuka yang serba guna itu. Serba guna karena selain bisa mengangkut dagangan, pupuk, juga rutin mengantar orang sakit ke puskesmas atau rumah sakit. Dengan sekadar membantu menyelesaikan urusan domestik ini, keinginan Pak Nanang memenuhi panggilan-panggilan ngaji di banyak kampung lain bisa terlaksana lagi.

Mulai awal Desember 2016 ia akan kembali mengajar keliling setiap hari. Ada 12 masjid yang meminta dirinya mengajar. Tetapi dari sisi hitungan hari, agaknya hanya bisa terpenuhi 7 masjid,-dengan rumus setiap asar mengajar di satu masjid di beberapa kampung antara lain, Merak Dampit, Cicayur, Pasanggrahan, Cikawari (atas), Parabonan.

“Sekarang saya lebih semangat menemui jamaah-jamaah. Soalnya tidak hanya urusan ngaji. Kita bisa juga berdakwah kebaikan di bidang ekonomi,” terangnya.

Pada kesempatan itu Pak Nanang dan Istrinya juga menceritakan kisah hidup anak-anak dan ibu-ibu desa yang sulit urusan ngaji. Kebanyakan di kampung-kampung itu belum ada guru ngaji. Kalaupun ada seringkali sebatas membaca Qur’an. Untuk pelajaran-pelajaran yang terkait dengan urusan muamalah masih minim. Beberapa anak-anak di kampung sebelah yang ingin ngaji di masjid Nurul Iman Pondok Buah Batu bersama Pak Nanang juga kesulitan karena medan begitu sulit ditempuh. Jaraknya mencapai 2 km. Kalau hujan kesulitan. Tidak ada angkutan umum. Terutama ibu-ibu dan anak-anak tidak bisa memakai motor. Akibatnya mereka sulit sekolah, termasuk mengaji.

Di mata teman-teman Odesa-Indonesia, sosok Pak Nanang ini cukup menarik. Selain kapasitas Ilmu Agamanya yang mumpuni (setidaknya dengan bekal nyantri 6 tahun dan khatam Ihya Ulumudin) cukup menyakinkan dalam hal pengajaran. Belum lagi minat bacanya yang kuat. Ia suka membaca, tetapi karena tidak ada bacaan makanya jarang melakukan. Sekarang dengan bantuan buku dari teman-teman Odesa-Indonesia, Pak Nanang kembali menjadi kutu-buku. Setiap malam dan pagi ia selalu menyempatkan membaca. Hasil pantuan saya, satu buku rata-rata diselesaikan dalam waktu 2-3 hari. Ini sudah cukup.Yang penting rutin.

Lain urusan ngaji, pendirian perpustakaan di Pondok Buah Batu juga akan segera dirintis. Masjidnya yang belum sempurna tidak masalah. Odesa-Indonesia akan segera memulai merintis kegiatan literasi untuk warga, terdiri dari segmen anak-anak, remaja, ibu-ibu dan bapak-bapak Kelompok Tani. Buku-buku pun harus segera kami kumpulkan dan tak lupa kami Odesa-Indonesia akan mengirimkan guru/trainer ngaji dan guru bahasa Inggris untuk memperkuat kapasitas pendidikan anak-anak.

Sedangkan Pak Nanang menyiapkan rak bukunya. Nanti di masjid itu juga akan jadi kegiatan rutin pendampingan kegiatan pertanian, ekonomi, wirausaha dan lain sebagianya. Masukan lain yang sudah diverifikasi adalah kegiatan ekonomi ibu rumah tangga. Di kampung Pondok Buah Batu tidak ada satupun orang yang bisa menjahit.

“Tak Aya. Mau jahit kain kafan saja harus ke bawah (Ke Kota Bandung)” kata Ummi, Istri pak Nanang.




“Baik kalau begitu. Kami akan carikan mesin jahit dan mengirim trainer,” jawab saya. Nanti di halaman masjid ada pelatihan menjahit. Saya juga menambahkan wacana, jangan sampai orang desa tidak punya kemampuan produksi. Sebab kalau tidak punya kemampuan produksi sedikit-sedikit akan beli. Dan itu artinya yang untung orang kota. Orang desa yang banyak menghabiskan waktu di rumah semestinya harus rajin berproduksi dan dijual ke kota. Dengan begitu ada keseimbangan ekonomi karena kita bisa menjual barang dari desa dan membawa pulang bahan belian dari kota.

Sebelum saya pulang, saya melihat-lihat lahan pembibitan kopi. Ada sekitar 50.000 bibit kopi hasil kerja cerdas dan kerja keras Pak Nanang. Bibitnya bagus-bagus, dan oleh Odesa-Indonesia diurus bersama Pak Nanang untuk dibagi-bagikan gratis kepada petani yang minat budidaya kopi. Karena saya sudah melihat ada ruang kosong dari bibit kopi yang terjual, saya spontan bilang, “ini yang satu petak tanah buat pembibitan kumis kucing. Jangan sampai nganggur.”

Saya bilang ke Pak Nanang sudah saatnya kita punya bibit kumis kucing untuk mendampingi tanaman kopi (selain pisang dan pohon kelor) agar petani kopi punya penghasilan bulanan. Sedikit menghitung kemungkinan tempat, saya bilang, “ini lahan kosong bisa untuk menampung 100.000 bibit Kumis Kucing dalam Polibag. Nanti kita bagikan untuk petani. Hasil panennya nanti kita urus.”

Jadi hari ini urusan saya di desa itu adalah ngaji menjahit kumis kucing. ” -Faiz Manshur. Pegiat Odesa-Indonesia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*