circle, hands, teamwork-312343.jpg

4 Tips dari Faiz Manshur Odesa: Agar Kegiatan Organisasi Kita Berdampak Berkelanjutan

Tulisan ini merupakan lanjutan dari wawancara saya (Agus Salim) dengan Faiz Manshur, melanjutkan tulisan sebelumnya tentang Strategi Kerjasama Dalam Organisasi Odesa Indonesia dan wawancara tentang  Persahabatan Yang Berkualitas Menghasilkan Kekuatan Organisasi  

Dalam pembahasan ini kita akan bicarakan soal tujuan berorganisasi dan bagaimana dari kegiatan organisasi yang kita jalankan tersebut memberi dampak atau manfaat yang berkelanjutan di masyarakat.

Dalam wawancara dengan Faiz Manshur ini kita akan dapatkan beberapa tema penting meliputi pentingnya fokus dalam mengambil gerakan, pentingnya memiliki “ekspoitasi” untuk tujuan produksi ilmu, dan alasan-alasan kita dalam mengambil keputusan dalam sebuah organisasi.

Kegiatan Organisasi Petani Odesa
Kegiatan Organisasi Odesa aktif mengajak diskusi dan aksi di kalangan petani Bandung Utara. Menghasilkan perubahan nyata.

1. Kegiatan Organisasi Membutuhkan Fokus

Anda mengatakan Odesa memilih gerakan yang fokus di lokal Kawasan Bandung Utara dan kurang tertarik membangun perluasan. Mengapa hal itu dipilih?

Soal lokal yang digarap selama masa panjang waktu itu penting dilakukan. Kita memilih itu tentu bukan bermaksud mengabaikan pilihan lain. Dalam setiap metode gerakan selalu ada kelemahan dan kelebihan.

Nah, kami di Odesa memilih fokus lokal karena memiliki dua target sekaligus, yaitu output yang sifatnya nyata jangka pendek dengan proses yang pendek dan outcome, yang sifatnya jangka menengah dan jangka panjang. Kalau kita pindah-pindah dalam pemberdayaan pasti kita hanya akan dapat output saja. 

Selain itu target kita dalam pemberdayaan masyarakat bukan sekadar perubahan masyarakat di lokal itu sendiri, melainkan supaya juga memiliki value yang sifatnya ilmu pengetahuan. Bagi saya, kegiatan apapun harus melahirkan ilmu pengetahuan dan kemudian berlanjut pada hikmah. Apalagi di Odesa yang memiliki banyak orang berilmu dan saya merasa perlu menjaga arus keilmuwan dari para senior saya itu untuk terus bermanfaat di masyarakat. 

Dari situ ada kerja di luar pemberdayaan yaitu pencatatan bahkan menyertakan kerja penelitian. Ini penting supaya nanti ada manfaat yang lebih luas bagi pihak luar yang belajar.

Supaya orang lain bisa mendapatkan urutan kronologi. Cara memetik hikmahnya bukan dari sekadar melihat hasil akhir tetapi mengetahui prosesnya. Dengan mempelajari proses orang bisa lebih mudah secara efektif untuk menarik kesimpulan yang nantinya akan ada empat kesimpulan:

1) bisa diterapkan di tempat lain melalui proses yang sama, 2) bisa diterapkan di tempat lain tetapi membutuhkan proses yang berbeda, 3) bisa diterapkan di tempat lain tetapi hanya sebagian dari seluruh rangkaian proses, 4) tidak bisa diterapkan karena semua keadaannya berbeda tetapi punya langkah lain untuk melakukan. 

Nah pilihan-pilihan itu adalah cara belajar yang baik. Selain alasan itu, fokus dalam pemberdayaan itu penting karena kami lebih mengejar kualitas atas hasil yang nantinya bisa menjadi pelajaran berharga.

2. Kegiatan Organisasi Perlu Pertimbangan Kuantitas dan Kualitas

Kegiatan Organisasi
Kegiatan Organisasi Odesa mengombinasikan Gerakan Sosial dan Bakti Sosial

Menghasilkan kualitas dalam pemberdayaan masyarakat itu seperti apa? Ukurannya…..

Karena inti pemberdayaan itu adalah pendidikan, maka butuh proses panjang dan selama masa menjalankan itu butuh konsentrasi dan pengelolaan secara rutin. Kualitas yang saya maksud ialah terciptanya kebiasaan baru yang baik. Karena kebiasaan ini juga berkait dengan kuantitas, yakni melibatkan banyak orang, maka targetnya harus mewujud menjadi tradisi.

Dari pencapaian tradisi itulah nanti kita akan lihat perubahan sosial yang namanya adalah transformasi sosial. Dari sinilah nanti akan muncul budaya baru. Proses semacam inilah yang membutuhkan waktu dan ketelatenan. Caranya sulit dan butuh stamina tinggi tetapi dari sisi hasil pasti bagus dan kami sudah merasakan itu.

Sedangkan yang berkuantitas biasanya hanya membantu tetapi dampaknya sangat pendek. Itu biasa dilakukan oleh kegiatan parsial bersifat bantuan sosial. Kalau yang saya sebutkan tadi mindsetnya lebih ke gerakan sosial. Hasil yang sifatnya kuantitas itu misalnya kita berikan bantuan beras pada orang miskin. Itu sudah gerakan baik dan memiliki dampak. Tetapi kalau beras 10 kg itu hanya menolong 15 hari. Setelah itu bagaimana? Nah saya kombinasikan gerakan amal seperti itu dengan pemberdayaan.

Misalnya dengan menanam tanaman seperti kelor, hanjeli, pepaya dan lain sebagainya. Kita berikan kail supaya orang bisa mengail sendiri. Pada orang yang kesulitan air kita alirkan air. Itu dampaknya panjang berkelanjutan. Apalagi jika disertai dengan edukasi hidup bersih sehingga warga tidak hanya mendapat air bersih tetapi hidup lebih sehat.

Kalau begitu jelas itu sesuatu yang berat…..

Ya. Tetapi kalau kita hanya mengikuti kebiasaan yang lain kapan kita akan dapat nilai lebih? Ada pepatah menarik dari kitab Al-Hikam (kumpulan hikmah-hikmah-Red) Karya Ibnu Athaillah . “Bagaimana mungkin kita meraih hal yang luar biasa kalau kebiasaan hidup kita biasa-biasa saja?” Falsafah ini menarik agar kita konsisten dengan hukum alam.

Apakah orang lain bisa mengikuti cara pandang gerakan Odesa Indonesia?

Kalau soal bisa atau tidak itu butuh dicoba dulu. Jangan bilang tidak bisa tetapi belum mencoba. Bisa atau tidak itu saya kira problem lain. Kalau teman-teman ingin berkegiatan dengan sekadar bakti sosial yang asas manfaatnya terbatas ya silahkan. Bahkan dilakukan di Odesa pun juga bisa karena kita tidak mempertentangkan strategi. Perbedaan strategi gerakan itu jangan dipertentangkan, melainkan untuk saling mengisi. Ada yang memakai gerakan derma saja tidak masalah.

Bahkan asal ikut kegiatan di Odesa seperlu blusukan ke desa-desa dan masuk hutan juga sudah baik, minimal akan ngerti tentang kenyataan hidup masyarakat desa, krisis ekologi, dan rupa-rupa kehidupan masyarakat lapisan bawah. 

3. Kegiatan Odesa Bersandar Pada Renungan yang Mendalam

 

Organisasi bermanfaat
Kegiatan organisasi Odesa mengondisikan para relawan untuk serius dalam praktik dan keilmuawan.

Kisah Menggembirakan Dari Penerima Beasiswa

Prinsip dasar yang membuat Odesa Indonesia serius dalam mempraktikkan gerakan sosial itu dasarnya apa?

Berdasarkan banyak pertimbangan hasil dari renungan panjang tentunya. Pertama, saya ingat ucapan almarhum Munir SH. Dua bulan sebelum beliau meninggal saya mewancarainya.

Di situ ada satu perkataan yang penting tentang Indonesia yang demokrasinya masih suram. Jika kita ingin memberikan keadilan bagi rakyat, terutama rakyat miskin, maka Indonesia membutuhkan aktor politik yang serius dalam politik elektoral.

Di situ aktor politik harus habis-habisan bertarung memperjuangkan demokrasi dan mengisinya agar demokrasi berguna dan bernilai bagi rakyat. Tetapi kita tahu sampai saat Cak Munir SH masih hidup belum ada indikasi nyata munculnya kualitas demokrasi.

Bahkan sampai sekarang di mana reformasi berjalan 25 tahun belum juga menggembirakan. Yang terjadi justru kita lihat indikasi kemunduran demokrasi. Karena itu Cak Munir SH bilang agar teman-teman dari gerakan pro-demokrasi ini serius dalam mengorganisir dan mendidik rakyat.

Nah, saya tertantang untuk semakin yakin bahwa demokrasi memang butuh pendidikan dan harus ada kelompok yang tidak bosan melakukan itu.

Alasan Kedua, sejak reformasi berjalan, aktivis gerakan sipil, terutama lembaga-lembaga LSM di Indonesia itu kurang optimal bekerja. LSM kita lemah. Kebergantungan dengan lembaga donor terlalu tinggi. Begitu tidak ada funding lalu berhenti. Selain itu, LSM di Indonesia juga hanya memilih segmen-segmen tertentu yang tentu tidak menyasar untuk sebuah solusi komprehensif.

Banyak berkegiatan dengan merek gerakan, tetapi mentalnya sama dengan bakti sosial. Anda bisa baca tulisan Meuthia Ganie-Rochman dan Rochman Achwan yang bicara kelemahan LSM di Indonesia secara makro dalam tulisan yang berjudul Inklusi dan Eksklusi: LSM dan Pengetahuan Sosial Kritis (2006). Tulisan ini berguna untuk kita renungkan karena secara baik memberikan evaluasi yang bijaksana tentang kerapuhan gerakan sipil dari lembaga LSM di Indonesia.

Alasan ketiga, saya percaya bahwa dalam proses perbaikan hidup di masyarakat itu tidak bisa instan. Membentuk pembaharuan itu butuh waktu panjang dan butuh mental sebagai pendidik yang kuat. Segenap kegiatan harus dilandasi kehendak dari ilmu dan untuk ilmu. Itu semua mensyaratkan sebuah laku gerakan yang isinya “belajar” dan “mengajar” tanpa henti.

Nah, kalau serius dalam pendidikan maka kita mesti serius dalam mendedikasikan waktu. Jangan bosan. Gerakan yang baik selalu mengombinasikan jiwa eksplorasi dan eksploitasi sekaligus. Dengan kata lain, Odesa Indonesia itu adalah sekolah informal, sebuah tempat untuk keilmuwan humaniora. Teori ini sebenarnya mudah kita dapatkan dari pengalaman pembangunan di Indonesia. Masyarakat kita tetap mengalami kemajuan bahkan tanpa peran negara.

Kita bisa misalnya mengambil pelajaran dari peran pendidikan informal pesantren atau lembaga pendidikan kultural adat. Pendidikan informal ini karena urusannya berkait dengan ilmu dan dijalankan secara konsisten pada akhirnya membentuk karakter yang mengkultur dan kemudian memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memiliki pegangan cara hidup. Dari situlah muncul kebaikan-kebaikan di masyarakat.

Inilah Esensi-Esensi Pergerakan Odesa Indonesia

4. Kegiatan Organisasi Mengombinasikan Eksplorasi dan Eksploitasi

Manfaat pepaya untuk kesehatan pencernaan
Kegiatan Organisasi Odesa Mengubah Tradisi Petani

Maksud eksplorasi dan eksploitasi?

Maksudnya kalau kita sudah suka ilmu pengetahuan jangan sekadar kecanduan mencari ilmu melainkan perlu kecanduan praktik sosial. Ilmu dan amal itu setali tiga uang, tak terpisahkan. Maksudnya juga kalau kita sudah memiliki kemampuan hidup karena kecukupan jangan hanya bereksplorasi ke sana kemari tetapi malas untuk melakukan sesuatu yang sifatnya produktif.

Ini evaluasi untuk kelas menengah kita. Hidup sudah cukup untuk pemenuhan dasar keluarga, maka jangan kemudian hanya sebatas menikmati hidup dengan merawat kesenangan dengan eksplorasi tanpa kenal terminal pemberhetian tanpa kenal rumah asalnya. Menikmati hal-hal yang baru memang mengasyikkan, tapi itu juga bagian dari nafsu yang harus dikendalikan.

Atau jika tidak mau mengendalikan nafsu atau hasrat dalam kebaikan, lebih baik hasratnya diarahkan untuk urusan pemberdayaan atau pendidikan. Masyarakat kita yang terbelakang membutuhkan peran kelas menengah untuk sebuah kemajuan. Kita harus mahir bekerjasama dengan rakyat kecil karena dari mereka ada kesempatan untuk meraih kemajuan. Orang yang sudah maju jangan terbang melayang-layang, lebih baik mendarat dan mengajak yang lain ikut terbang juga.  

Agar sensasi dalam eksplorasi itu berguna, maka harus dikombinasikan dengan praktik pemberdayaan dengan tujuan yang pasti, yakni memproduksi ilmu dari laku hidup. Lagi pula kenikmatan hidup bukan saja lahir dari sikap eksplorasi karena ada kenikmatan lain yaitu dari keberhasilan kita memproduksi sesuatu. 

 Lebih dalam soal eksploitasi itu bagaimana?

Dalam arti yang pas, eksploitasi adalah tindakan berproduksi. Itu berbeda dengan eksplorasi yang sekadar mengetahui sana sini tetapi hanya sebatas menghasilkan tahu. Kalau eksploitasi itu artinya berproduksi secara serius, sungguh-sungguh untuk memproduksi ilmu pengetahuan dari praktik atau laku hidup.

Ini penting karena kita yang sudah memiliki ilmu pengetahuan mestinya menjadikannya sebagai alat untuk mencapai kualitas sebagai produsen. Kita perlu membuktikan bahwa aset pengetahuan dalam otak itu bisa menghasilkan kreasi nyata dalam hidup.

Lawan yang tidak sungguh-sungguh ya itu eksplorasi, sekadar jalan-jalan, tamasya pengetahuan. Tahu banyak hal tetapi pada akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa. Kita ingin tahu banyak hal, tetapi sekaligus punya hasil yang baik.

Prinsip ini adalah hukum alam di mana usaha yang lebih serius tentu hasilnya akan lebih bernilai. Saya memilih yang serius karena saya percaya nilai. Dari situlah nanti kita lebih banyak kesempatan meraih makna.[]

Penulis: Agus Salim

Admin: Fadhil Azzam.

Strategi Pemberdayaan dan Membangun Organisasi Odesa Bersama Faiz Manshur

Mengenal Spirit dalam Pergerakan Odesa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja