Sadar Manfaat Kesehatan, Warga Kota Bandung Tanam Kelor

Kelor menjadi pilihan penting dalam urusan pangan karena di desa banyak orang gizinya kurang baik, terutama pada kelompok keluarga Pra-Sejahtera (Sangat Miskin) dan Sejahtera I (Miskin) yang jumlahnya lebih 40% menghuni republik Indonesia ini. Banyak di perdesaan warga Indonesia yang terserang penyakit endemik, kanker, tuberkulosis (TB), stroke dan hipertensi.

Di luar itu, Kelor juga sangat baik bagi orang kota yang kelebihan gizi (tidak seimbang) sehingga sering terkena penyakit kolesterol, jantung, diabetes mellitus, dll.

Odesa Indonesia yang sejak tahun 2016 berkiprah menggarap persoalan perdesaan di pinggiran Kota Bandung itu kemudian mencari ide untuk penyelesaian masalah kesehatan. Kita bergiat karena persoalan kemiskinan akibat ketimpangan ekonomi dan sosial. Di tengah keadaan seperti itu kita harus berpikir menemukan jalan keluar karena masalah kesehatan hampir semuanya bermula dari masalah internal tubuh, lebih konkret lagi masalah perut. Maka, selain ide kebersihan lingkungan dan pola hidup, Indonesia butuh pangan yang berkualitas tinggi, dan kita menggali sumbernya,” kata Faiz Manshur, Ketua Yayasan Odesa Indonesia.




Kelor dalam pandangan Relawan Odesa Indonesia bukan satu-satunya tanaman andalan. Sebab menurut Faiz Manshur tidak ada satupun jenis tanaman yang gizinya lengkap. Tetapi kelor menyediakan banyak hal yang bisa menjadi solusi perbaikan gizi secara murah, mudah. Manfaat dari tanaman Kelor itu sendiri oleh Faiz Manshur digagas bersama dalam setiap waktu pertemuan atau diskusi chat di grup WhatsApp para pengurus Odesa Indonesia. Ide besarnya ditambatkan pada lembaga Internasional Food and Agriculture Organization (FAO). Karena menjadi bagian penting rekomendasi dunia, Faiz Manhsur dkknya tidak ragu mengampanyekan hal tersebut.

“Kita ambil gerakan yang sudah teruji di berbagai negara. Pengalaman-pengalaman lembaga dunia itu banyak memberikan catatan-catatan yang bagus. Internet menyediakan segalanya sehingga saya dan teman-teman yang bukan petanipun mudah melakukan inovasi mendorong petani membudidayakan kelor,” jelas Faiz.

Dari berbagai sumber di sahih di internet, Kelor dikenal mengandung gizi yang baik. Di dalamnya memuat kandungan B-vitamin, Vitamin C, Besi, Magnesium, Vitamin A, Seng dll. Kelor selain dikenal anti bacterial juga anti oksidan. Ini sangat baik untuk menyeimbangkan gula darah. Itu artinya sangat tepat mencegah peradagan, termasuk di dalamnya juga sangat baik dalam mengatasi kolesterol, dan masalah jantung.

Menurut Faiz Manshur, arah pembudiayaan Kelor ini yang utama dimaksudkan untuk memperbaiki gizi bukan sebagai obat. Adapun seringnya pengalaman warga perdesaan yang mengonsumsi kelor lalu sembuh hal tersebut oleh Faiz dianggap sebagai bagian dari perbaikan gizi itu sendiri.Sebab menurutnya, gerakan perbaikan pangan yang sehat lebih bagus sebagai pencegahan ketimbang solusi medis setiap orang sakit di bawa ke rumah sakit.

“Ini masalah penyakit lebih banyak disebabkan oleh gizi yang tidak seimbang. Negara bisa bangkrut kalau warganya mudah sakit, sedikit-sedikit puskemas, sedikit-sedikit BPJS. Jadi kalau makanan baik setidaknya akan mengurangi penyakit di kalangan petani. Karena itu soal makanan ini bukan segala-galanya, sebab di perdesaan masalah sanitasi dan pola hidup belum begitu bagus,” kata Faiz.

Setahun mengusahakan bibit Kelor, Yayasan odesa Indonesia melalui grup Tanaman Obat Cimenyan (Taoci) telah berhasil mendidik 7 petani membibitkan biji kelor menjadi bibit tanaman yang siap tanam. Sebelumnya Odesa Indonesia membibitkan melalui stek/batang. Namun karena kebutuhannya sangat banyak sementara bibit stek tidak mudah didapat, maka solusinya adalah membuat program pembibitan dari biji.

“Hasilnya bagus. Petani pembibit punya penghasilan yang terus meningkat. Bibit-bibit mulai disebar di perdesaan,” kata Faiz.

Orang Kota Bandung tanam Kelor
Namun menurut Faiz Manshur, kebanyakan peminat bibit kelor ini justru warga perkotaan, sementara di perdesaan ada banyak hambatan karena tujuan pertanian yang belum banyak dimiliki petani. Di perkotaan, Kelor banyak diminati karena warga kota sudah memiliki pengetahuan tentang manfaat. Karena itu orang kota di Bandung, mulai banyak yang menanam. Sementara di petani geraknya lamban karena Odesa Indonesia harus memberikan pendidikan terlebih dahulu. Menurut Faiz Manshur, warga perkotaan Bandung yang menanam Kelor itu biasanya dari kalangan kelas menengah. Ada dokter, jurnalis, seniman, dan kalangan profesional serta PNS.

“Tidak masalah. Ini soal proses. Kita terus jalankan tujuan ini karena menurut saya, setiap tindakan baru memang butuh ilmu. Petani diberi pengetahuan baru juga mau,” katanya.Agus/odesa.id

BACA Kelor Dari Cimenyan Bandung
BACA Jual Bibit Kelor



Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*