Problem dan Potensi Lokal Perdesaan di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung

Catatan faktual kondisi perdesaan di kampung-kampung Kecamatan Cimenyan Kab.Bandung.
Oleh Faiz Manshur Ketua Odesa-Indonesia.

Catatan ini kami susun berdasarkan pengalaman lapangan sehari-hari dari kiprah kerja kerelawanan sosial Odesa-Indonesia di Kawasan Bandung Utara (KBU) di 22 kampung pada Desa Cimenyan, Desa Cikadut, Desa Mekarmanik, Desa Mandala Mekar, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung.




Cimenyan merupakan kecamatan yang dekat dengan Metropolitan Kota Bandung namun terisolir bukan karena jaraknya dari Ibukota Kabupaten (Soreang), melainkan akibat buruknya pelayanan Publik Pemerintahan Daerah Kabupaten Bandung. Sebab di Kecamatan lain di Kabupaten Bandung yang dekat dengan Soreang terdapat fenomena buruk yang kondisinya sama dengan kampung-kampung di Kecamatan Cimenyan.

Dibuatnya catatan ini sebagai tujuan untuk menemukan solusi perbaikan pada individu, keluarga dan kultur dengan jalan transformasi sosial agar para petani dan buruh tani berubah ke arah hidup yang lebih baik. Penting dibaca oleh Peneliti, Mahasiswa yang akan KKN, Pemerintah Desa, Pemerintah Kabupaten Bandung, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Menteri sosial, Presiden Nawa Cita Jokowi. Untuk kemajuan Republikanisme Indonesia #CommonGood #CivicVirtue.

#ProblemIndividu #ProblemKeluarga #ProblemKultur #PotensiLokal

PROBLEM INDIVIDU:

1. Mayoritas Kepala dan ibu rumah tangga berusia di atas 40 tahun tidak lulus SD.

2. Mayoritas Kepala dan ibu rumah tangga berusia di atas 25 tahun lulusan SD.

3. Mayoritas Kepala dan ibu rumah tangga berusia di atas 17 tahun lulusan jebolan SMP.

4. Mayoritas individu remaja pra nikah usia 12 tahun hanya lulus SMP.

5. Minoritas yang mengenyam pendidikan SMA.

6. Sangat susah mencari individu mendapat Pendidikan Tinggi. Kalaupun ada bekerja di luar desanya.

7. Jarang individu terutama pemuda yang merantau dan kembali ke kampung halamannya sehingga minim ada transfer pengetahuan dan pengalaman dari luar yang dibawa masuk ke desanya.

8. Para perantau kebanyakan keluarga transmigran “spekulan”. Di Lampung mereka mengelola pertanian yang sama dengan kampung halamannya. Pulang membawa hasil yang tak memadai.

9. Tidak mendapatkan dorongan belajar atau sekolah lebih tinggi dari orang tua karena kesulitan ekonomi.

10. Tidak ada peran negara dalam membangun kapasitas warga secara merata. Kalau ada pelatihan SDM biasanya dimonopoli oleh relasi dekat dari kades/perangkat desa. Ada istilah muncul “tukang ikut pelatihan”. Hal ini dikarenakan terdapat motif mendapat uang sehingga program pelatihan lebih dijadikan ajang mencari uang upahan. Di luar itu, Desa-Desa di Kecamatan Cimenyan tidak mendapatkan pengetahuan-pengetahuan pemberdayaan/pendampingan dari LSM.

11. Pemborosan pesta perkawinan dan sunatan anak yang sering mengorbankan tanah atau ternak dengan kecenderungan memaksakan diri berlebihan untuk pesta kesenian sehari semalam atau sampai dua hari dua malam.

12. Terjebak pada arus kultur pragmatis. Tidak memiliki beberapa pilihan pemikiran strategis (jangka pendek, menengah dan panjang).




PROBLEM KELUARGA

1. Petani dengan luas tanah 1/4 hektar tidak adaptif dengan ilmu pengetahuan.

2. Buruh tani berpenghasilan antara Rp 500-720 untuk menghidupi 3-4 anggota keluarga.

3. Rumah kecil 4x 6, 5×7, 6×8 sudah menua dan kayu-kayunya lapuk. Atap bocor. Dapur buruk, tidak ada MCK atau MCK sangat buruk, biasanya menyatu dengan kandang ternak.

4. Pekarangan terdapat pemakaman. Tanah tidak bisa menjadi lahan. Kuburan diinjak-injak.

5. Perkawinan usia dini. Umur 14-16 tahun, dikawinkan dengan pemalsuan usia.

6. Pangan tidak tercukupi. Konsentrasi hidup sehari-hari hanya mengejar beras. Lauk tidak bergizi.

7. Pakaian buruk dan tidak sehat. Jarang berganti pakaian.

8. Saat terdesak urusan di luar pangan, hutang kepada rentenir menjadi solusi.

9. Ternak sering gagal karena untuk biaya hidup di luar pangan (Contoh jual sapi untuk modal tanam sayuran. Sayuran gagal sapi tidak kembali).

10. Kambing dijual untuk biaya anggota keluarga yang sakit. Sekalipun punya Kartu Indonesia Sehat (KIS), tetapi mayoritas tidak bisa memanfaatkan kartu tersebut karena selain minim pengetahuan juga tidak mampu menanggung ongkos biaya transportasi dan makan sehari-hari selama mengurus keluarga yang sakit.

11. Tanah dijual untuk perkawinan atau untuk membeli kendaraan (motor), beralih menjadi tukang ojeg atau pedagang kecil.

12. Buruh tani tidak punya tanah kecuali pekarangan sempit. Tidak ada ilmu pengetahuan kelola tanah pekarangan. Penghasilan labil (rata-rata hanya bekerja 8-12 hari) kerja dengan penghasilan Rp 60-70 ribu untuk buruh tani laki-laki dan Rp 40-50 ribu untuk buruh tani perempuan.

PROBLEM KULTUR
1. Tidak ada kepemimpinan struktural yang dalam urusan sosial kemasyarakatan. Birokrasi menjadi sarana aktualisasi status sosial para pejabat desa dan pejabat pemda untuk lebih dilayani ketimbang melayani.

2. Tidak ada kepemimpinan informal seperti kepemimpinan keagamaan yang membumi dan mengkultur dengan penananam nilai-nilai etik dan etos. Ada beberapa pesantren lebih melayani siswa dari luar Cimenyan. Ustad-ustad sebatas berperan sebagai guru ngaji, bukan sebagai tokoh kultur Ajengan/Kiai yang mampu memobilisasi kegiatan sosial.

3. Urusan sosial kemasyarakatan bergantung pada RT/RW/Kades dengan kapasitas kepemimpinan yang terbatas. Hampir semua “arus keuntungan” dari negara masuk ke domain oikos/rumah tangga dan kerabatnya. Watak politik lebih bercorak oligarkhis.

4. Gotong-royong berjalan dengan kelemahan yang merata. Kemiskinan membuat tenaga kerja susah dialokasikan untuk pekerjaan sosial karena tersita untuk kerja dalam rangka memenuhi kebutuhan pribadi/keluarga. Urusan sosial lemah karena kuatnya monetisasi/komersialisasi tenaga.

5. Peran orang kota yang memiliki tanah di desa-desa Cimenyan sebatas memperlakukan warga desa sebagai kuli rendahan. Mereka lebih suka menarget keuntungan pribadi tanpa memperhatikan aspek sosial. Kalaupun berbuat baik sebatas memberikan pekerjaan upahan atau membantu derma/charity pada tataran satu keluarga, bukan level kewargaan secara massal.

6. Pengetahuan rasional tidak masuk melalui forum-forum rutin sehingga mistis/takhayul tidak bergeser.[]



MENGGALI POTENSI LOKAL CIMENYAN

1. Mayoritas tanah di Cimenyan sangat subur untuk jenis ribuan jenis tanaman. Tanah merah, tanah hitam atau tanah bebatuan memiliki unsur kesuburan yang berbeda-beda sehingga beragam varian jenis tanaman bisa dilaraskan dengan kondisi tani. Lokasi kemiringan lahan perbukitan juga menjadi sesuatu yang potensial karena secara otomatis mengamankan kehidupan tanaman, tidak ada ternak umbaran dan tidak banyak kehadiran manusia sehingga pertanian lebih aman.

2. Mayoritas warga memiliki waktu luang dan banyak kesempatan untuk bekerja. Perlu perbaikan mindset target kerja; tentang nilai waktu mulai dari setiap menit, jam dan hari. Mereka punya banyak waktu tapi sering terbengkelai. Pendidikan disiplin waktu akan membuat mereka mengalami perubahan besar. Kesempatan waktu dalam ruang domestik ini besar peluangnya untuk membumikan tradisi produksi ketimbang ke arah jasa atau perdagangan.

3. Sebagian dari petani berusia di bawah 45 tahun memiliki tenaga yang tangguh untuk bekerja “otot”. Mayoritas tenaga petani terbiasa dengan kerja keras. Kelemahannya biasanya mereka hanya berpengalaman tentang apa yang pernah mereka kerjakan. Peran pengarah harus optimal dalam mengawal setiap pekerjaan secara detail.

4. Kekurang pengetahuan justru membuat mereka senang belajar hal-hal baru dengan catatan melalui cara kombinasi antara praktik dengan teori. Petani akan senang dengan ilmu pengetahuan yang baru manakala apa yang kita sampaikan sudah memiliki hubungan dengan pengalaman mereka sehari-hari. Sebagai contoh untuk urusan tanaman baru jenis herbal/tanaman obat mereka hanya akan bertanya apa manfaat, usia, dan cara menjualnya. Sementara untuk urusan cara tanaman dan perawatan petani sudah memiliki modal pengetahuan mencapai 60% sehingga dalam hal pelatihan tinggal up-grading praktis yang sangat mudah.

5. Pengalaman baru mengatasi persoalan membuat mereka cepat percaya untuk mengubah perilaku baru. Inilah yang membuat Odesa-Indonesia memilih jalur pendampingan, praktik mengubah kebersamaan daripada sekadar pemberdayaan model singkat semacam training. Semua wacana harus terhubung dengan keadaan/urusan petani. Praktik dan teori juga harus membumi dalam artinya memahami secara mendalam akar-akar problem masyarakat.

6. Mudah didorong untuk mendapatkan pendidikan selagi tidak membebani ekonomi. Mayoritas kepala keluarga sadar bahwa kelemahan hidupnya disebabkan oleh minimnya pendidikan. Mereka tidak semangat menyekolahkan anaknya karena beberapa sebab, di Cimenyan di sebabkan oleh 3 hal mendasar; 1) membebani anak berjalan kaki berkilo-kilo meter dengan panas/hujan, 2) terbebani uang saku dan transportasi yang menggerus semua penghasilan, 3) dibayang-bayangi oleh kenyataan lulusan SMA sekalipun keadaan ekonominya tidak membaik.

7. Tidak terlalu banyak informasi kriminal seperti pencurian atau penjarahan. Kalaupun ada cerita tentang kehilangan panen sejauh ini tidak menjadi problem paling utama. Pelakunya bisa dideteksi dan tidak mewabah menjadi “tren” di kalangan warga yang memiliki nalar preman. Sejauh ini pencurian lebih pada domba atau sapi pada musim menjelang Idul Adha.

8. Kegotong-royongan mudah digerakkan dengan catatan ada kepemimpinan dari luar. Merujuk pada fakta sekian puluh kampung yang digarap Odesa-Indonesia, mayoritas warga tidak bisa bergotong-royong secara aktif karena tenaga kerja mereka adalah total untuk mencari uang harian sehingga upah (monetisasi tenaga) menjadi hal yang lumrah. Faktor kepemimpinan yang lemah di kalangan RT/RW dan Kades juga mendukung kelemahan gotong-royong. Maka edukasi gotong-royong dengan cara melibatkan orang luar dengan aksi “membumi dalam kebersamaan” menjadi hal yang sangat penting dilakukan secara rutin di desa-desa Kecamatan Cimenyan. Warga sangat semangat kalau dipimpin oleh orang luar dan permusuhan di antara mereka pelan-pelan bisa dicairkan dengan cara memberikan sikap teladan menekankan kepenting umum.

9. Keunggulan nalar mereka untuk menjauhi konsumsi ( hidup hemat) cukup baik dengan catatan tersedia barang konsumsi yang mudah dibuat skala rumah tangga. Tentu hal ini bisa berjalan dengan catatan kita memberikan solusi kemandirian produksi yang mudah dilakukan dan tidak membebani kebutuhan sehari-hari.




SOLUSI MENDESAK

-Kebijakan struktural pemerintah harus segera mempercepat akses kesehatan agar warga sehat dan optimal bekerja. Puskesmas keliling harus maksimal dan mampu melayani pemeriksaan dan pengobatan gratis. Banyak Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang tidak berguna karena ketidakmampuan warga membawa orang sakit ke Rumah Sakit.

-Kebijakan struktural Pemerintah dengan membangun Sekolah SMP dan SMK Agribisnis di dua tempat, yaitu di Desa Mekarmanik dan Desa Cimenyan bagian utara.

-Pendidikan informal untuk pertanian skala rumahan/terbatas dengan penyediaan bibit, peralatan tepat guna dan ilmu pengetahuan budidaya, pasca panen dan marketing.

-Pendidikan informal mendukung kapasitas individu siswa dari anak-anak balita, SD, SMP, SMA.Kualitas pendidikan di sekolah-sekolah Desa Cimenyan tergolong rendah karena itu harus diback-up pendidikan luar sekolah dari kalangan pengajar yang bermutu. termasuk penting menggiatkan literasi dan pembangunan perpustakaan level RW.

-Beasiswa anak-anak SMP dan SMA untuk kelangsungan sekolah mereka baik di desanya. Dan lebih utama beasiswa biaya total tanpa membebani lagi orang tua dengan mengirim anak-anak desa ke luar daerah; disekolahkan pada sekolah yang unggul sampai tamat.

-Kredit lunak sekaligus pendidikan ekonomi/usaha untuk kalangan petani dan buruh tani serta pemuda agar mendapatkan kesempatan menciptakan usaha-usaha baru.

-Pelayanan pendampingan dan pemberian modal usaha dari kalangan swasta untuk memberikan edukasi-edukasi di berbagai bidang, terutama pertanian, kewirausahaan, perdagangan, dan ketrampikan produksi industri rumah tangga. Penting pula kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari para mahasiswa terjun ke Kawasan Desa-Desa Cimenyan.




-Perlunya peran jurnalis untuk menyuarakan persoalan-persoalan warga agar problem-problem yang tersembunyi tersebut terangkat ke permukaan dan mendorong tindakan kepada pemerintah sekaligus memicu aksi sosial dari warga yang peduli.

-Aksi-aksi sosial derma/charity pangan dan sandang untuk keluarga miskin (terutama orang lanjut usia) guna mengurangi beban hidup. Kebutuhan mendasar seperti beras, minyak goreng,makanan bergizi dan pakaian sangat penting. Demikian juga perlu aksi sosial pembangunan sarana Mandi, Cuci dan Kakus (MCK) komunal untuk level RT-[]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*