Pertanian Indonesia Masih Zaman Damarwulan

Bicara masa depan bangsa, maka yang paling membutuhkan keseriusan perhatian adalah bicara pertanian. Sebab menurut Basuki Suhardiman, basis Sumber Daya Alam Indonesia merupakan modal besar. Selain itu, produksi pertanian merupakan jalan paling realistis untuk kemajuan bangsa dibanding mengejar ketertinggalan pada teknologi atau bidang lain. Hal yang menyebabkan pertanian Indonesia terbelakang disebabkan karena negara tidak pernah serius dan tidak mau tahu mengatasi problem mendasar yang dihadapi para petani.




“Banyak bicara pertanian tetapi tidak pernah menyentuh masalah mendasar, terutama di kalangan petani bawah. Kalaupun sudah tahu biasanya solusinya tidak tepat. Pendidikan pertanian harus serius masuk ke kalangan petani, terutama untuk meraih produktivitas yang baik,” katanya saat bincang diskusi dengan para petani di Pasir Impun, Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Sabtu 29 Juli 2017.

Menurut Basuki, pertanian di Indonesia terpuruk sebab dari presiden ke presiden tidak pernah serius memberikan pendidikan pertanian kepada petani. Salahsatunya contoh keterbelakangan petani misalnya, petani masih merumput model Damarwulan, alias ngarit dalam memenuhi kebutuhan pakan ternaknya.

“Itu jelas tidak efektif. Negara-negara maju sudah mahir memproduksi pakan ternak secara efektif. Negara kita belum. Negara-negara maju sudah mahir mengolah satu persatu spesies tanaman pangan dan tanaman obat, negara kita tidak menyelenggarakan hal itu secara serius. Paling-paling hanya gerakan tanam, gerakan penghijauan, tetapi rakyat tidak mendapatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup untuk mengawal produksinya,” terangnya.

Dalam pandangan Basuki Suhardiman, saat ini petani membutuhkan banyak pengetahuan yang mendasar tentang jenis tanaman beserta manfaatnya, pengolahan pasca panen, dan juga model ekonomi yang harus dikembangkan dalam ruang lingkup produksi domestik. Karena alasan tersebut, Basuki dan kawan-kawannya di Yayasan Odesa Indonesia menggiatkan serius pendidikan melalui pendampingan langsung di kalangan petani Cimenyan, sebuah kecamatan di perbukitan sebelah utara Kota Bandung. Ia pun menyerukan agar orang-orang dari kalangan akademisi yang memiliki ilmu pengetahuan untuk mulai mengedepankan tanggungjawab sosial berbagi ilmu kepada para petani.




“Kepada petani tidak harus ilmu pertanian yang diajarkan. Ilmu berhitung, ilmu berpikir, ilmu bisnis, ilmu sosial, ilmu politik, ilmu bahasa dan seterusnya dibutuhkan untuk mendukung kemajuan warga desa yang rata-rata pendidikannya hanya lulusan SD,” ujarnya.-Khoiril.

Baca Odesa Dirikan Organisasi-Organisasi Petani Cimenyan
Baca Kelemahan Pikir Petani
Baca Cara Menilai Keterbelakangan Petani
Baca Petani: Yang Pintar Yang Terpuruk



Be the first to comment

Tinggalkan Balasan