This English Class Brings Us a Problem…. But Nice Problem :D

Mau Ikut bantu dan gabung berkegiatan menyenangkan berbagi ilmu di desa? Tidak jauh. Ada kampung-kampung tertinggal kehidupannya berjarak 5 km dari Kota Bandung.

Ceritanya, sudah berbulan-bulan Yayasan Odesa Indonesia membuat model-model pembinaan karakter untuk anak-anak kawasan Cimenyan. Salah satu model adalah kursus Bahasa Inggris. Kenapa bahasa Inggris dan bukan jenis lain? Jawabnya sederhana, karena Odesa Indonesia selalu mendasarkan tindakan pada basis kebutuhan. Kita kumpulkan informasi, kita serap partisipasi, dan kita cari cara yang paling mungkin untuk sebuah langkah yang bisa menjamin keberlangsungan. Terbukti, bahasa inggris memang diminati. Faktor kedua, dengan bahasa Inggris, usaha memasukkan nilai-nilai pendidikan pada warga untuk kalangan anak dan remaja justru tepat karena melalui bahasa Inggris ini tidak terdapat pengkotakan bidang keilmuan.

Dengan kata lain, Kursus Bahasa Inggris ini merupakan pilihan yang strategis untuk usaha “Pembumian dalam Kebersamaan” yang menjadi spirit dasar kegiatan Odesa Indonesia dalam setiap program. Kursus ini adalah pintu gerbang untuk pembinaan motivasi anak-anak. Seperti halnya kegiatan amal. Odesa mengedepankan charithy sebagai aksi permukaan, namun selebihnya usaha “pendidikan” lain dilakukan sebagai hal yang harus diutamakan.

Dengan berkumpul setiap Minggu, Odesa berkesampatan untuk mengajak mereka bermain, berdiskusi dan membangun imajinasi.

Kelas pertama sudah berbulan-bulan berlangsung di desa Sekebalingbing (lihat link youtube di bawah). Awal mula, Agustus 2016 lalu, pesertanya dimulai dari 12 orang, beberapa minggu kemudian terus naik, bahkan sampai dua bulan kemudian mencapai 40 anak. Meski pada ujungnya tinggal belasan, tapi belasan yang tangguh.

Satu hal yang masih mungkin ditarik lagi dari 40 anak ini adalah usaha lainSejak anak-anak kembali berkumpul dalam aksi amal, muncul pula pertanyaan sebagian dari anak-anak itu mempertanyakan keikutsertaan lagi belajar bahasa Inggris. Sebagian dari mereka masih minat dan ingin tetap kursus.

Adapun factor mengapa mereka ada yang gugur di tengah jalan, sejauh ini masalahnya tampaknya karena faktor-faktor sederhana, misalnya karena ada satu dua anak yang malas dan memilih bermain, lalu yang lain ikut-ikutan. Ada juga faktor yang paling terlihat, bahwa yang gugur dalam masa beberapa bulan kebanyakan laki-laki. Ada yang bilang disebabkan malu kalau dicampur satu kelas dengan perempuan, apalagi perempuan yang sebaya. Sedikit ditelusuri, ternyata laki-laki ada yang malu kursus sama perempuan karena minder dalam hal kecerdasan. Sebab dibuktikan memang kebanyakan peserta kursus yang pinter adalah kelompok perempuan.

Kegiatan terus dengan terus mencari model-model terobosan yang paling tepat untuk usaha kemajuan sumberdaya manusia. Salahsatu catatan keberhasilan dalam proses ini misalnya, jika sebelumnya dari anak-anak tersebut cita-citanya hanya berkisar pada : polisi, tentara, supir truk, kasir swalayan, kini mereka sudah ada yang bercita-cita jadi pilot, dokter, wartawan, penerjemah, bahkan menteri keuangan!
Karena melihat model kegiatan di kampung Sekebalingbing dan sekitarnya ini cukup bagus, maka kami membuka kursus serupa di titik lain, yaitu Desa Cisanggarung, sekitar 3 km dari lokasi pertama (1,5 Km dari Curug Batu Templek). Tempatnya di kantor Odesa, di tanah lembah nan hijau. Untuk itu, kami hanya menyediakan seorang sukarelawan pengajar, yaitu rekan Rachmy (Alumni Desain Interior ITB).

Setelah memasuki ajaran tahun baru berjalan, kami pun menggelar pertemuan. Kang Ujang Rusmana (ketua Gapotkan Cikadut) memberi masukan, sebaiknya sebelum kursus berlangsung siswa dan wali siswa dikumpulkan supaya jelas maksud kegiatannya. Masukan bagus. Kang Ujang pun membuat brosur undangan. Kurang 3 hari disebarkan sebagai penguat informasi lisan. Sebelum hari H pelaksaaan, kami berpikir bahwa peminatnya paling hanya 15-20 siswa. Itu pun sudah bagus. Jadi cukup ditangani satu guru dengan cara efektif permulaan dibagi 2 kelompok, kemudian pada proses beberapa waktu kemudian dibagi menjadi empat kelompok.

Tapiii….. dugaan kami meleset! Jauh meleset!

Minggu 30 Juli lalu, kantor Yayasan Odesa Indonesia dipenuhi para orangtua yang mengantarkan anak-anaknya untuk ikut kursus Bahasa Inggris!

Ya ampunn… sampai pembukaan pertama selesai, sudah sekitar 65 orang terdaftar!

O ya… yang menangani pendaftaran ini adalah anak-anak peserta kursus Bahasa Inggris dari desa Sekebalingbing!, Mereka bilang ingin bantu kami menyelenggarakan kursus serupa bagi teman-temannya dari dusun yang jauh. (Thanks God, our model works. Anak-anak ini sudah punya empati sosial :D)

Sampai kantor mau tutup, kantor kami masih didatangi ibu-ibu dari pelosok dusun yang ingin ikut mendaftarkan anaknya. Iya karena hari itu berbarengan dengan banyaknya turnamen sepakbola kampung.
Kami perkirakan, minggu depan pendaftar akan datang lagi. Jumlahnya bisa bertambah 20an anak! Ini baru Kampung Cisanggarung dan Sentak Dulang lho. Jika diperlebar sedikit saja, maka dipastikan akan lebih banyak.
Jelas…ini problem!…But nice problem yang harus dicarikan solusinya.
Terbayang perlunya tambahan volunteer yang bisa menangani anak-anak ini. Juga mungkin harus banyak fasilitas-fasilitas lain yang harus kami sediakan.

Bila di antara teman-teman yang ingin berperan dalam pembinaan anak-anak desa ini, bisa hubungi Odesa Indonesia. Email odesaindonesia@gmail.com Twitter @odesaindonesia

Anak-anak seperti biji.
Kita yang harus menyiraminya supaya tumbuh dengan baik menjadi pohon dan tumbuhan yang bermanfaat bagi dunia. Salam… [Budhiana Kartawijaya. Ketua Pembina Odesa Indonesia]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*