Mitos Kemiskinan yang Tak Kunjung Hilang

Oleh Faiz Manshur. Ketua Odesa Indonesia.

Mengapa kemiskinan terus dipersoalkan?

Karena masyarakat manusia bukan masyarakat hewan yang secara natural kekastaannya sebatas urusan “keamanan untuk kelangsungan survivalnya”. Di dalam masyarakat manusia jauh lebih kompleks. Setiap komune memiliki kekastaan dan di dalam kekastaan itu pula individu manusia berlomba memicu dirinya untuk meninggalkan yang lain, menjadi lebih sukses, menjadi lebih makmur, menjadi lebih mentereng.

Kemudian pada sisi lain, orang-orang yang tak punya imajinasi lebih jauh itu berkutat dalam dunia sempitnya. Punya fokus menggarap sesuatu tetapi tiada berkembang seperti pertanian atau kerajinan rumah tangga di desa yang puluhan tahun dijadikan sumber ekonomi tetapi tak mampu membiayai anak-anaknya lulus perguruan tinggi. Lalu terpuruklah mereka secara turun menurun. Lama-kelamaan kekastaaan ekonomi itu dianggap wajar dalam sebuah negara bangsa.

Orang-orang miskin harus diurus bahkan oleh konstitusi negara. Tetapi bukankah negara Indonesia sampai sekarang tak mampu mengatasi kemiskinan? Dari Kementrian hingga para kades pembangunannya tidak mengarah pada masalah ini. Banyak biaya keluar tetapi masalah kemiskinan, baik ekonomi, pendidikannya, maupun kesehatannya tidak terlayani.

Pemerintah hobi mengeluarkan anggaran besar dan hanya sedikit perubahan yang terjadi. Artinya antara biaya dengan dampak yang ditarget selalu irasional. Dana desa yang dipegang oleh kades tidak banyak mengubah keadaan pada usaha perbaikan orang miskin. Ketiadaan perubahan bukan saja dalam jumlah angka, melainkan pada urusan-urusan kesejahteraannya terutama pada dua hal yang mendasar, yakni pendidikan dan sanitasi.

Mengapa itu terjadi?

Kita bedah persoalan lama yang sampai sekarang belum tuntas di masyarakat, yaitu perihal mitos dalam kemiskinan.

Mitos dalam konteks yang lebih luas menyediakan sejumlah untuk pengayaan ilmu pengetahuan,-tentu saja dengan catatan bahwa kita bersikap kritis, artinya objektif dan bisa memilah-milah antara yang rasional dan irasional, antara yang bermanfaat dan mubazir, dan seterusnya. Banyak ilmuwan di bidang sejarah, antropologi, bahkan filsafat mengembangkan mitos sebagai objek kajian penting.

Naasnya, mitos justru sering dijadikan cara pandang. Sadar atau tidak, banyak sekali persoalan konkret yang mestinya dijawab dengan beragam ilmu pengetahuan malah dilihat dengan cara pandang mitos. Salahsatunya adalah kemiskinan. Ketika guliran ilmu pengetahuan begitu melimpah untuk melihat kemiskinan, tetap saja orang berpendidikan sekalipun menggunakan mitos sebagai cara melihat.

Dengan menerapkan mitos melihat kemiskinan dampaknya kemudian orang tersebut masuk dalam kubangan sikap a-sosial. Padahal kemiskinan yang sejatinya adalah perkara sosial itu diselesaikan dengan strategi sosial.

Mitos adalah cara pandang yang tidak berdasar, alias tidak ilmiah atau tidak benar. Apa saja mitos terhadap kemiskinan tersebut.

  1. Orang miskin itu takdirnya miskin. Tuhan telah mengatakan demikian. Padangan ini kuat dalam orang-orang beragama sehingga dalam peran sosialnya mereka bisa berdalih macam-macam untuk cuci tangan dari masalah kemiskinan. Semetara pada sisi yang lain setiap agama kuat menganjurkan seseorang untuk terlibat dalam solidaritas sosial mengatasi kemiskinan orang lain. Selain pandangan dari sisi teologis seperti itu, kemiskinan juga sering dilihat sebagai takdir sejarah. Banyak orang yang sok berpikir historis, dengan memberikan bukti serampangan dan tak menjawab persoalan dengan mengatakan, “pada setiap sistem zaman selalu ada kemiskinan. Itu artinya kemiskinan adalah perkara takdir sejarah kehidupan. Kesimpulannya? Dibiarkan saja.
  2. Banyak orang menilai kemiskinan akibat kemalasan. “Orang itu malas maka miskin’ katanya, sambil menunjukkan kisah tentang orang kaya yang karena bekerja keras lalu terhindar dari kemiskinan. Tetapi pada saat yang bersamaan tidak menunjukkan bukti sampingan bahwa terhadap banyak orang miskin bekerja keras tetap miskin bahkan hingga keturunannya. Cara pandang mengatakan orang miskin sebagai pemalas selain tidak berdasar valid karena digeneralisasikan dalam kemalasan, juga keliru karena yang dilihat sebenarnya dampaknya, bukan kemiskinannya itu sendiri. Jadi selain keliru akibat generalisasi, juga keliru dalam melihat sebab dan faktanya. Selain dua hal tersebut muncullah blaming the victim (menyalahkan korban). Dengan menyalahkan korban, seseorang itu bisa lepas tanggungjawab sosialnya.
  3. Selain dua hal yang utama mendominasi dalam jagat pemikiran kehidupan ini, saya memasukkan satu mitos lagi, yakni cara melihat dari kebudayaan. Diam-diam sering terjadi pandangan bahwa kelompok masyarakat tertentu, suku atau bangsa, bahkan sub-etnik, termasuk juga dikaitkan dengan agama. Cara pandang ini lagi-lagi bukan melihat esensi kemiskinan itu sendiri, melainkan mencari penyebabnya secara serampangan.
  4. Dan harus dicatat pula, bahwa ada kecenderungan dari orang Indonesia yang memang cuek,a alias antipati pada kemiskinan. Biasanya orang tersebut mengatakan,” kemiskinan kan tanggungjawab negara.” Habis itu dia lepas urusan dan orang miskin tetap tidak diurus oleh negara. Dan dia pun tidak berani memprotes pemerintah yang tidak berhasil mengatasi kemiskinan. Secara tidak langsung dia juga menggunakan mitos, yaitu mitos bahwa negara berhasil mengurusi orang miskin, padahal tidak kenyataan di lapangan kita nyata sungguh praktik pemerintah tidak serius.

Ketiga perkara di atas adalah bagian dari problem penting yang harus dijawab. Kelas menengah kita yang sekalipun mendapat pendidikan yang baik belum tentu memiliki bekal yang baik dalam memandang realitas sosial. Butuh ilmu sosial yang mestinya diperluas. Tidak harus sekolah formal, melainkan penting mengembangkan wacana sebagai selingan tetapi berguna.

Satu hal yang paling mendesak dalam mengubah pemikiran ini adalah memasok sebanyak mungkin ilmu sosial yang kritis kepada kalangan terpelajar. Semua mahasiswa di setiap jurusan mesti memiliki bekal pengetahuan kemiskinan terkait dengan struktur masyarakat. Pendek kata, studi kemiskinan struktural harus menjadi bagian penting perbaikan kualitas manusia di Indonesia karena cara pandang sangat menentukan tindakan/amal seseorang.

Dengan perangkat cara pandang kritis, niscaya akan muncul tanggungjawab sosial yang lebih besar. Sebab sekalipun filantropi di masyarakat Indonesia cukup kuat, tetapi kita juga melihat kualitas gerakan filantropi itu sebatas menyebar bantuan pada orang miskin.

Padahal yang dibutuhkan adalah tindakan mengubah keadaan. Dan melempar uang kepada si miskin adalah cara yang masih terus dilakukan tanpa pernah meningkatkan kualitas sosial dengan mengambil model gerakan lain.

Banyak zakat, infak, sedekah, berbagi yang pada akhirnya hanya menggugurkan kewajiban agama sebagai “orang yang telah melakukan perintah agama.” Soal kemudian orang miskin justru makin kuat mental “tangan di bawah” tidak pernah dibicarakan lagi, apalagi diatasi dengan eksperimen model-model pendampingan.

Orang Indonesia punya jiwa sosial. Tetapi jiwa sosial tidak cukup jika ingin tindakan sosial kita berkualitas. Sebagaimana dalam urusan banyak hal, bukan sekadar kualitas tindakan yang diutamakan. Juga bukan ilmunya yang kuat sedangkan tindakannya lemah. Dalam bahasa arab ilmu dan amal itu conjunctive (terhubung tak bisa dipisahkan). Bertindak tanpa ilmu salah, berilmu tanpa bertindak juga menyalahi pakem ajaran. Banyak orang beramal tanpa ilmu sehingga lahirlah kebiasaan.

Kebiasaan buruk bisa lahir dari tindakan baik, seperti niat berderma karena supaya mereka menghormati kita. Berbagi karena kepentingan narsis. Berbagi sekadar karena ikut-ikutan. Iya, toh apapun berbagi juga baik, tapi kebaikan yang belum tentu mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Kalau cara pandang kita minimalis sebatas berbuat baik, barangkali kita tidak perlu bersekolah, tak perlu membaca buku, tak perlu berdiskusi dengan para ilmuwan. Sebab banyak perbuatan baik yang dilakukan oleh hewan. [Faiz Manshur. Catatan diskusi kursus ilmu politik Odesa November 2020]

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan