KH. Fuad Affandi: Petani Miskin, untuk Apa Perguruan Tinggi?

SETIAP tanggal 16 Oktober diperingati sebagai Hari Pangan Sedunia. Organisasi Pangan Dunia, Food and Agriculture Organization (FAO) pada tahun 2020 ini mencanangkan empat seruan utama dengan istilah, grow, nourish, sustain, dan together. Secara kontekstual pesan tersebut mengajak kita semua menumbuhkan banyak tanaman yang bergizi untuk kesehatan dan dilakukan untuk kelestarian planet bumi.

Berbicara masalah pangan, tak lepas dengan pertanian. KH. Fuad Affandi, Pengasuh Pesantren Al-Ittifaq Rancabali Kabupaten Bandung punya cara tersendiri memaknai hari pangan sedunia. Selama ini Al-Ittifaq dikenal sebagai pesantren agribisnis yang berhasil. Mandiri dengan tanaman pangan. Berikut wawancara Faiz Manshur dengan KH. Fuad Affandi yang akrab disapa Mang Haji itu, Jumat (16/10/2020).

Mang Haji, Perserikatan Bangsa-Bangsa berpesan agar kita lebih banyak menumbuhkan tanaman pangan bergizi untuk kelangsungan hidup manusia. Dan itu harus dilakukan secara bersama-sama. Bagaimana Anda menilai pesan PBB tersebut?

Mungkin PBB melihat melihat manusia di dunia ini susah diajak menanam. Jadi baguslah itu. Terus saja diperintahkan. Kalau saya kan bukan pemerintah, tapi pelaksana. Dengan petani pun tidak memerintah menanam. Kegiatan petani di daerah saya sudah berjalan. Kalau saya memerintah tanam malah dianggap orang gila. Makanya saat ada bibit kelor datang saya ndak menyuruh petani. Saya tanam sendiri. J

elaskan saja apa manfaat kelor. Nanti kalau sudah tahu juga pada nyari bibit sendiri dan makan.

Jadi, menurut Mang Haji, pesan tersebut lebih cocok untuk yang bukan petani?

Ya. Itu terlihat pesan mendorong kepada orang-orang yang tidak mau menanam seperti wartawan, dan orang-orang kota yang lebih banyak menikmati makanan enak, tapi tidak mau menyentuh tanah dan takut cacing. Padahal dunia pertanian itu berkah, artinya satu tindakan menghasilkan berganda-ganda kebaikan. Misalnya kita urus satu tanaman. Yang bergantung pada tanaman itu ada sekian banyak makhluk hidup di dalam tanah. Sekian hewan di utara juga tertambat pada tananan. Udara jadi segar, akar tanaman juga menghasilkan air yang baik. Jadi kenapa kita tidak mau menanam?

Dengan kata lain Mang Haji mewajibkan semua orang untuk mengurus tanaman?

Ya karena setiap hari kita butuh sumber makanan. Dan hewan juga kita butuhkan juga memerlukan tanaman. Kita harus ingat sejarah hidup manusia zaman dulu yang sengsara urusan tanaman di daerah padang pasir. Usaha keras manusia untuk hidup adalah menanam. Bahkan untuk menghidupkan tanaman harus berjuang dengan irigrasi. Nabi dan para raja di Mesir kuno urusannya juga berhubungan dengan air dengan bendungan. Nah di negara kita pertanian buruk karena air yang melimpah tidak disyukuri dengan merawat. Banyak irigrasi mati dan akibatnya petani sengsara.

Mang Haji optimis kalau pertanian baik hidup rakyat akan baik?

Ya. Dan bukan hanya memperbaiki kehidupan petani. Kamu bisa membayangkan kalau pertanian berhenti? Mau makan apa itu orang? Bagaimana hewan bisa berkembang tanpa tanaman? Makanya kalaupun tidak bisa bertani, minimal seringlah berhubungan dengan petani. Jadi orang kota jangan mau enaknya saja. Coba tengok saudara di desa. Temui, ajak musyarawah, bantu mereka. Misal membantu benih baru. Membantu teknologi baru yang cocok. Membantu cara mengemas. Membantu cara mendesain produk dan seterusnya. Termasuk juga harus dibantu cara berjamaah, alias beroganisasi. Jadi kita membantu petani, nanti otomatis petani akan menolong kita dengan hasil panennya.

Kalau panen melimpah harga jadi lebih murah. Artinya dengan majunya petani, orang kota juga dapat berkah. Begitu. Dan pesan saya, ingatlah, bahwa makanan yang terbaik itu makanan yang cepat busuk karena kerja perut kita adalah membusukkan makanan. Lebih baik makanan segar. Itu artinya kita harus lebih banyak mengonsumsi makanan dari hasil pangan lokal. Tanam yang macam-macam karena sumber gizi juga berasal dari beragam jenis.

Ada banyak petani miskin dan sengsara. Mengapa?

Sebentar. Yang melarat dan sengsara itu bukan hanya petani. Ada juga kelompok non petani. Ini disebabkan kita sebagai bangsa tidak bersyukur. Jadi kalau petani sengsara itu artinya rakyat. Rakyat urusannya dengan negara. Jadi jangan kemudian petani sengsara otomatis petani yang tidak bersykur. Ini urusan bersama. Yang pertama harus sadar bersyukur ya pemimpinnya. Saya sebagai kiai bersyukur saja tetangga dan saudara saya masih mau menanam. Karena itu pemerintah yang memimpin harus bersyukur bahwa masih ada orang mengurus bumi.

Wujud syukurnya ialah kesediaan mengurus, memberdayakan, membantu. Petani saya tidak sengsara karena ada organisasi, ada pihak luar yang membantu. Harus ada mak comblangnya. Nah itu kalau ada petani sengsara karena belum ketemu pihak lain di luar petani. Ingat, apapun tidak bisa jalan sendiri, tidak bisa maju sendiri. Pemerintah harus bersyukur kalau punya petani. Selagi masih ada yang mau mengurus tanah negara harus melihat itu sebagai potensi, disyukuri dengan cara dibantu, diberdayakan.

Dengan kata lain, Mang Haji ingin bilang pihak non-petani harus aktif terlihat dalam memperbaiki pertanian?

Wajib. Seperti tanaman yang baik harus beragam. Hidup ini harus beragam dan berjalin secara baik. Ini bumi harus diurus. Siapa yang masih bersedia mengurus bumi ya itu yang harus diperhatikan dengan penuh rasa syukur. Berjamaah itu bukan hanya saat pengajian, tapi saat ada di ladang.  Berjamaah bukan saat makan, tapi berjamaah saat menanam. Jamaah petani jangan hanya sekumpulan petani, tapi butuh wartawan seperti kamu. Butuh politisi yang ngerti anggaran tapi sering bingung mau dikemanakan itu anggarannya. Nah itu petani harus disambungkan.

Dosen-dosen yang membantu pesantren dan petani saya juga jadi berguna karena mereka kemudian memahami masalah hidup pertanian dan mengusakan bantuan dengan cara yang tepat. Makanya itu organisasi Odesa Indonesia sudah bener. Urus itu petani yang miskin-miskin supaya tidak menyengsarakan kita semua. Buat apa ada perguruan tinggi mewah-mewah di Bandung tapi mengurus petani kecil saja tidak mampu. Apa manfaat ilmu kalau tidak untuk amal memperbaiki keadaan?

Memang banyak bantuan yang tidak tepat?

Oh, kalau itu sudah biasa. Karena pemerintah atau orang kota itu sering tidak paham keadaan di lapangan. Petani butuh A bantuan yang datang B. Itu namanya tidak nyambung. Harus punya hubungan baik, bersmusyawarah sebelum bertindak.

Kelemahan petani yang Mang Haji lihat?

Kepemimpinan dan kebersamaan. Dan pemimpin yang baik itu yang mengerti kebutuhan. Memimpin petani juga membutuhkan arah. Jangan hanya tujuannya sukses menghasilkan panen lalu kaya. Kalau sudah kaya mau apa? Kalau saya jawabannya jelas ingin sejahtera dengan pendidikan yang baik, hidup teratur dan bareng-bareng hidup berkecukupan bersama. Ngaji alias belajar itu yang utama. Saya tidak berpikir menjadi sukses bertani hanya urusan harta. Buat apa saya kaya kalau tetangga dan saudara saya miskin? Membagi hasil kepada mereka? Tentu bisa. Tetapi dari pada membagi hasil usaha lebih baik membantu ilmunya. Dengan demikian sekarang terwujud maju bersama-sama.

Mang Haji dulu miskin?

Kalau itu jangan tanya. Namanya orang kampung, statusnya misbo….alias miskin dan bodo. Tapi saya ini santri, percaya segala hal harus dengan ilmu. Bodoh tidak apa-apa yang penting sadar terus mau belajar sampai tua. Pemimpin yang baik mesti memberikan arah tujuan hidup. Bersyukur dari keberhasilan tani dengan mengembangkan ilmu dan teknologi. Jadi petani jangan kolot tidak mau menerima teknologi atau ilmu baru. Kemudian harus disiplin dan kerja keras. Akhlak atau etosnya dibenahi karena menyangkut dengan kepercayaan. Kalau suka bohong nanti tidak ada orang percaya. Kalau tidak percaya dagangan ndak laku.

Sekarang Mang Haji sudah kaya?

Iya. Cucu saya kalau masuk truk ndak cukup. Jumlahnya banyak. Santri saya ribuan. Petani saya banyak sekali. Setiap hari juga ada tamu. Bagaimana saya harus bilang diri saya miskin?

Uang Mang Haji berapa sekarang?

Nah itu saya tidak pernah tahu. Saya suka uang, tapi males menghitungnya. Lagian ndak penting itu uang saya atau bukan. Yang penting saat butuh ada. Ini saya mau ke pekanbaru. Ndak perlu mikir tiket, cucu saya yang ngurus. Uang di saku cuma Rp 200.000.  Banyak banget kan? Banyak lho. Dulu tahun 1975 saya punya uang Rp 60.000 sudah bisa beli tanah. Nah sekarang Rp 200.000 bisa juga beli tanah. Dapat 10 karung buat tanam sayuran di pekarangan.

Ini krisis ekonomi akan panjang. Apa sikap Mang Haji?

Berduka dan bersyukur. Berduka karena yang sengsara belum tentu kita bisa membantu, bersyukur karena keadaan apapun kita harus melakoni hidup. Terlalu banyak mencela dan mengutuk keadaan bukan solusi. Lagi pula setiap hal ada hikmahnya. Salahsatu hikmahnya banyak orang mau menanam. Kalau akibat Corona udara makin segar dan kemarau tidak terlalu larut, kemudian kita syukuri dengan banyak menanam pohon, tentu udara akan lebih baik. Bukankah kesejahteraan kita juga ditentukan oleh udara? Nafas kita butuh udara, dan menanam pohon memperbaiki hal itu.*** Sumber naskah apakabar.news

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*