Mengemas yang Tak Mengemis

Oleh BUDHIANA KARTAWIJAYA. Ketua Pembina Odesa Indonesia.

SELAMA Ramadan, puluhan lembaga pencari dana mengkampanyekan zakat, infaq, sadaqah dan wakaf. Mereka menggunakan berbagai media: cetak, radio, televisi, media sosial, dan pesan instan (instant messenger) seperti Whatsapp, Telegram, Line dan lain-lain. Pesan-pesan itu umumnya mengajak calon donor untuk memberikan sebagian kecil hartanya untuk disumbangkan kepada fakir miskin, anak yatim, atau membangun fasilitas sosial seperti membangun fasilitas mandi cuci kakus (MCK), bedah rumah, membangun rumah sakit, bahkan untuk membeli kapal selam! Ada juga yang menggunakan dana ini untuk sembako, bea siswa, pengobatan, atau bencana alam.

Satu hal yang umum, pesan-pesan itu menampilkan penderitaan calon penerima bantuan. Penerima hak (mustahiq), digambarkan sedih, lusuh, rumahnya setengah mau ambruk, Pokoknya, pesan-pesan itu menggelitik rasa iba calon pendonor. Lebih jauh lagi, menggunakan ayat untuk mengingatkan kewajiban ZIS, bahkan ada yang menggunakan ayat-ayat ancaman. Islam memang keras terhadap mereka yang tidak mau membayar zakat, tidak peduli kondisi sosial ekonomi umat. Pendek kata, umumnya para pencari dana itu “menggugat” nurani calon donor.

Tapi lain jika kita menyaksikan video Nas Daily tentang zakat (klik di sini). Nas Daily adalah video blog (vlog) yang dikelola Nuseir Yassin. Dia pemuda muslim Palestina warga negara Israel. Nas artinya “manusia” atau “umat manusia” (ingat Surat An-Nas). Dalam vlog berdurasi empat menit lebih itu, Nuseir mengungkapkan dahsyatnya zakat. Dia menggambarkan besarnya (magnitude) zakat dengan cara membandingkan donasi Bill Gates yang mencapai 30 miliar dolar, Warren Buffet (26 miliar dolar), dan Andrew Carnegie (10 miliar dolar). Nuseir mengungkapkan, ada donasi yang jauh lebih besar dari yang disumbangkan ketiga orang kaya dunia itu.

Apa itu? Zakat!

Dia menyebutkan, tahun ini ada setengah triliun dolar zakat yang terkumpul. Itu selama Ramadan. Dia tidak menyebutkan sumbernya, tapi saya percaya tim dia sudah melakukan riset untuk mencapai angka setengah triliun dolar. Jadi Nuseir berhasil menggambarkan magnitude zakat dengan cara membandingkan (komparasi). Selain itu, diksi yang dia gunakan untuk menggambarkan besaran zakat adalah dengan menyebutnya “setengah triliun dolar”. Dia ingin memberikan persepsi jumlah yang berbeda dari orde miliar dolar. Padahal setengah triliun itu sama dengan 500 miliar!

Hal berikutnya adalah, Nas Daily tampaknya tidak ingin zakat itu dipandang sebagai instrumen belas kasihan. Ada dua cara yang dia kemukakan: 1. Memberikan landasan rasional tentang pentingnya zakat. 2. Menghindari stereotype atau stigma mustahiq (beneficiaries).

Landasan Rasional

Saya yakin Nas Daily punya tim ekonom di belakangnya. Nuseir menjelaskan mengapa kesenjangan terjadi. Dia menggambarkan bahwa uang mengendap di bank, dan tak pernah keluar dari bank. Itu yang menyebabkan yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Ini sesuai dengan prinsip Qur’an agar harta itu jangan beredar di kalangan itu-itu saja (Al Hasyr [59]: 7). Agar harta itu keluar dari bank, dari bawah bantal, dari lemari-lemari besi, maka keluarkan 2,5%! Maka uang donasi itu akan mengalir kepada kaum miskin. Dana itu akan menjelma menjadi fasilitas hak dasar : makanan, dana pendidikan, fasilitas kesehatan dan lain-lain.

Menghindari stereotype

Kebanyakan media yang bekerja menggali donasi menggambarkan calon penerima bantuan sebagai sosok lemah. Para mustahiq sering diperlihatkan kepada publik sebagai sosok yang sedih, sengsara, dengan rumah mau ambruk, hidup menggelandang, cacat, muram dan sebagainya. Video Nas Daily tampaknya menghindari stereotype dan stigmatisasi orang miskin. Tidak ada kekumuhan yang muncul. Selain itu wajah-wajah penerima pun terlihat ceria. Persepsi yang ingin dibangun adalah: “Jangan berduka, hari esok pasti lebih baik karena ada zakat yang menolong kalian!” Dus, Nuseir tidak ingin menggambarkan mustahiq sebagai “the others”, dan ekstrem-nya mereka bukan “sampah masyarakat”. Mereka adalah manusia yang punya dignity sama.

Video Nas Daily ini lebih menyentuh sisi intelektual ketimbang emosional. Dia jugamemberikan isnpirasi untuk berbuat melalui kombinasi storytelling, gambar dan video. Imbauan Nuseir juga bisa mendorong orang berbuat, atau istilahnya call to act. Nas Daily memilih platform media sosial Facebook karena unsur kemudahan untuk memperluas audiens, dan mudah di-viralkan. Video Nas Daily memberikan kesan bahwa pembebasan kemiskinan adalah program milik audiens, bukan program si lembaga filantropi. Jadi publik adalah “owner” gerakan. Nueri mengemas tapi tidak mengemis.

Saya tidak bermaksud menyalahkan media yang mengharu biru untuk memancing donasi kebaikan, karena taktik itu juga terbukti bisa memancing orang-orang baik untuk berbuat. Istilahnya call to act. Platform-platform filantropis seperti kitabisa.com, atau gerakan-gerakan medsos filantropis individu (berbagi nasi, dari pada ngemis, dll) bisa menggerakkan warga kota untuk berdonasi. Tapi kebanyakan mengharu biru yang viral bisa menyebabkan donor fatigue : Sang donor letih, karena setiap saat menerima pesan-pesan mengharu biru dari berbagai lembaga, via medsos-nya, atau via WA-nya.

Sahabat saya, almarhum AE Priyono, seorang pencetus Civic Islam membedakan istilah kebaktian sosial dengan gerakan sosial. Kebaktian sosial adalah kedermawanan responsif. Orang merasa sudah melakukan kebaktian sosial dengan memberikan donasi. Sedangkan gerakan sosial tidak berhenti pada memberi sumbangan, tapi mencari tahu apa akar masalah dari persoalan itu, serta mencari jalan keluar. Video Nas Daily mendorong gerakan sosial. Wallahualam…***

Tinggalkan Balasan