Mengapa Kita Perlu Mempelajari Ajaran Saminisme? ( Bagian 1)

Mari belajar tentang ajaran saminisme.- Kalau Anda sedang butuh tambahan ilmu pengetahuan untuk cara-pandang dan sikap hidup, maka penting kita memetik kebijaksanaan dari orang Samin dengan ajaran Saminisme-nya. Dari sisi sejarah Saminisme  jelas “sanad”-nya. Dari sisi sosial ia mudah didapatkan elemen-elemen dan saripatinya. Dari sisi spirit Saminisme memiliki nilai yang sebagian besar masih relevan, sebagian lain butuh direlevankan dan sebagian lagi bisa ditinggalkan karena dari sisi konteks memang sudah “tidak tertolong” lagi. 

Ajaran Samin Surosentiko
Faiz Manshur Bersama Mbah Lasio di Klopoduwur. Mempelajari ajaran Saminisme.

Latar Belakang Ajaran Saminisme

Paham Saminisme berasal dari seorang tokoh pergerakan nasional bernama Samin Surosentiko yang nama kecilnya Raden Kohar. Lahir di Blora Jawa Tengah 1859. Ia lahir dari kalangan priyayi yang peduli dengan nasib rakyat dan lingkungan hidup.

Pada masa kecil hingga remaja, Samin Surosentiko mendapatkan pendidikan dari orang tuanya, Raden Surowijoyo (Samin Sepuh), seorang ningrat yang dikenal progresif dalam membela petani dengan melawan pemerintahan Hindia Belanda.

Samin Surosentiko tumbuh dalam keluarga yang berjiwa sosial dan memiliki jiwa kepemimpinan dengan sikap kemanusiaan yang tinggi. Memasuki usia 20-an tahun ia mulai sadar ada yang tidak beres dalam kehidupan masyarakat.

Melihat realitas sosial kemiskinan dan ketidakadilan, ia tak bisa berdiam diri. Dari situlah ia merasa tergerak untuk belajar dengan banyak guru untuk mendapatkan ilmu kebijaksanaan hidup dan perjuangan hidup. 

Ia juga mempelajari dari kisah hidup bapaknya yang berjuang dengan senjata tetapi mengalami kegagalan. Ia juga mengetahui cerita tentang kegagalan perjuangan Pangeran Diponegoro dengan perjuangan bersenjatanya. 

gerakan samin surosentiko
Ajaran Saminisme perlu dipelajari oleh penggerak sosial.

Metode Gerakan Praktis Ajaran Saminisme

Memasuki usia 30 tahun Samin semakin risau karena penderitaan rakyat semakin merajalela. Banyak tanah petani dan hutan yang biasanya mudah digarap oleh petani menjadi semakin sulit karena kebijakan-kebijakan baru dari pemerintah Hindia-Belanda. Semakin rakyat tertekan, semakin ada kehendak melawan.

Karena tidak memungkinkan menggunakan perlawanan bersenjata, ia mencari cara lain, yakni dengan mengedepankan persaudaraan yang dijalankan secara praktis menjalankan kegotong-royongan dalam himpunan Sedulur-Sikep. Dengan kata lain, Samin Surosentiko menggunakan metode penguatan masyarakat sipil; mendidik petani untuk memiliki cara pandang hidup dan menggunakannya sebagai metode perjuangan menghadapi pihak eksternal yang menindas. 

Saminisme ajaran
Ajaran Saminisme

Sepanjang 18 tahun menjadi guru kemasyarakatan, Samin Surosentiko mendapatkan banyak pengikut. Ribuan keluarga merasa nyaman dengan perhimpunan yang mengutamakan persaudaraan dan kegotong-royongan itu. Pada masa ini juga perlawanan terhadap Pemerintah Hindia-Belanda mulai berlangsung dengan cara menghindari pajak dan tidak mentaati aturan-aturan pemerintah.

Dari sinilah kemudian orang-orang Sedulur-Sikep atau Wong Samin dianggap memusuhi pemerintah. Samin Surosentiko yang semakin kuat pengaruhnya itu akhirnya dibuang ke Sawah Lunto tahun 1907. 

Samin yang berusia 48 tahun saat itu sedang matang sebagai tokoh masyarakat harus menjadi pekerja paksa untuk menggali lubang tambang  batu-bara. Di Sumatera Barat itu, Samin bersama 9 teman dekatnya menjadi orang buangan yang dirantai kaki dan tangannya (orang rantai) selama 7 tahun.

Ia berhenti bekerja karena meninggal dunia akibat penderitaan panjangnya. Atas perjuangan inilah mestinya Pemerintah Republik Indonesia perlu memberi kehormatan Samin Surosentiko sebagai Pahlawan Nasional.

Samin bukanlah suku (sekalipun sekarang resmi dilabeli suku) tetapi lebih merupakan sebuah ajaran hidup. Gagasan Saminisme bukan ideologi yang rumit, melainkan cara pandang yang simpel sekaligus fleksibel.

Tetapi sekalipun Saminisme hanya ajaran tutur-tinular komunal, tetapi secara sainstifik memungkinkan kita menariknya sebagai ilmu sosial karena di dalamnya memuat unsur ontologi, epistemologi dan aksiologi. 

Apa yang perlu kita pelajari dan bagaimana kita mempelajari Saminisme? (Bersambung bagian 2)

Penulis: Faiz Manshur

Admin: Fadhil Azzam.

Tulisan Lain Faiz Manshur Tentang Samin: Pesantren Sarang dan Kisah Samin Blora

VIDEO YOUTUBE: Membangun Organisasi Yang Solid dan Strategi Pemberdayaan Masyarakat Desa

Menjalin Persahabatan Yang Berkualitas Diperlukan dalam Organisasi

Menjalin Kerjasama Yang Baik untuk Memperkuat Organisasi

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja