Memaksimalkan Peran Jurnalisme Untuk Perubahan Sosial

Memaksimalkan Peran Jurnalisme untuk Perubahan Sosial.
Menjadikan Pena dan Kamera Sebagai Senjata

Oleh Faiz Manshur
Ketua Odesa Indonesia

Dulu kita mengidentikkan pena sebagai simbol dari praktik literasi. Sedangkan kamera sebagai simbol dari praktik tontonan.

Dalam ruang industri percetakan, pena dekat dengan praktik jurnalisme- yang secara umum melahirkan kesan positif.

Sedangkan kamera dekat dengan industri hiburan- yang secara umum melahirkan kesan negatif, atau setidaknya kurang bernilai.

Benar selalu demikian?

Nyatanya sekarang kita menyaksikan praktik jurnalisme tidak selalu literatif. Begitu juga sebaliknya.

Kalau Sultan Agung (1613-1645) salah seorang pencetus kitab Sastra Gending Kraton Mataram itu masih hidup di era sekarang, mungkin ia akan bilang, produk jurnalisme itu masuk kategori sastra, sedangkan alat (pena dan kamera) tergolong gending.

Kata Sultan Agung, untuk mewujudkan keselarasan sehingga melahirkan kreasi agung, kita harus mampu menjembatani hubungan dzat dan sifat dalam gerak seimbang-seirama.

Dengan logika seperti itu menjadi jelas, pena/kamera adalah senjata, sedangkan soal kreasi atau sifat, entah berdampak baik atau buruk, ditentukan oleh laku manusia.

Memaksimalkan Peran Jurnalisme untuk Perubahan Sosial
Memaksimalkan Peran Jurnalisme untuk Perubahan Sosial

Landasan ilmiah

Saya berbicara secara mendasar soal ini karena perihal informasi bukan urusan jurnalisme semata. Hakikat informasi itu berkait dengan survival of the species, alias menyangkut hidup-matinya makhluk.

Argumentasinya begini. Survive-nya spesies itu ditentukan oleh tiga elemen, energi, materi dan informasi. Ketiganya berlaku pada manusia, hewan dan tanaman.

Energi selalu membutuhkan materi, begitu sebaliknya. Untuk mengakses materi, saraf setiap spesies menyerap informasi.

Dalam diri tanaman misalnya, Charles Darwin (1809-1882) mengabarkan adanya sinyal listrik yang bekerja. Indikasi dari sinyal listrik atau isyarat kimiawi ini melahirkan pola interaksi.

Kesimpulannya, setiap tanaman melakukan berkomunikasi. Mereka saling berbagi informasi dengan dua tujuan, pertama survive, yakni akses materi (makanan) dan kedua, menghindari ancaman (situasi) bahaya stres dari cuaca hujan, serbuan angin, panas ekstrem dan lembab ekstrem.

Pengalaman lapangan

Terkait soal informasi pada manusia, saya punya pengalaman.

Tahun 2016 lalu, sebelum mendirikan Yayasan Odesa Indonesia, saya bersama teman-teman sering mewartakan realitas kemiskinan di Kawasan Bandung Utara -yang sebelumnya tak pernah diangkat oleh media mainstream.

Dampak dari praktik penyebaran informasi -baik tulisan maupun video- menarik banyak orang berempati pada banyak keluarga miskin.

Informasi yang baik disambut secara baik oleh orang-orang baik dengan aksi solidaritas sosial. Sejalan banyaknya wartawan yang meliput, lahir pula gerakan filantropi dalam bidang pendidikan, sanitasi dan ekologi.

Teman saya, seorang filmmaker, Vivian Idris  bilang, video memiliki efektivitas optimum karena bisa didengar dan dilihat secara bersamaan.

Video juga lebih bisa diterima semua lapisan masyarakat ketimbang produk tulisan.

Katanya, audiovisual bisa lebih efektif dalam meningkatkan retensi informasi, meningkatkan keterikatan emosional, meningkatkan partisipasi, dan efektif meningkatkan interaksi antara fasilitator dan peserta didik.

Tapi kembali pada fungsi, Vivian bilang, audiovisual adalah alat. Soal isi (negatif-positif/kuantitas-kualitas) bergantung produsennya.

Memaksimalkan Peran Jurnalisme untuk Perubahan Sosial
Memaksimalkan Peran Jurnalisme untuk Perubahan Sosial

Arah perbaikan

Sekarang kita mengenal istilah konten, maksudnya adalah hasil dari produk elektronik. Ada juga cara orang mencari nafkah dalam ruang industri dengan kreativitas dan kita sebut industri kreatif.

Sumber-sumber informasi di internet banyak yang tak produktif bahkan mengacau kehidupan yang dampaknya bisa menurunkan indeks kebahagiaan.

Akses teknologi memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk mewartakan apa yang terjadi, termasuk yang tidak terjadi.

Orang-orang bisa menulis dan bisa membuat video dengan ragam alasan.

Alih-alih untuk menetapkan garis produksi dengan tujuan memberi manfaat kepada publik, kantor berita mainstream pun terseret arus pada urusan serba cepat, heboh, tragis, sensasional, mengejutkan, termasuk hobi mengusung isu-isu private.

Sementara pada praktik penyebaran berita personal (nitizen) berjalan ugal-ugalan.

Cemas akan hal itu, Rolf Dobelli menerbitkan buku: Stop Reading the News (2019).

Ia punya alasan beragam agar warga dunia menyetop membaca berita. Alasan yang paling esensial adalah, banyak informasi yang tak relevan yang melahirkan ketidakbahagiaan.

Sekarang warga dunia dituntut selektif memilih, membatasi, termasuk menentukan kapan dan jenis apa informasi yang patut dibaca.

Jika tidak demikian, kita bisa dimangsa oleh virus-virus informasi yang memperburuk hidup.

Kembali pada hubungan informasi dengan makhluk, hewan dan tanaman punya cara menyeleksi informasi. Mereka sadar batas untuk kebutuhan energinya, bukan untuk kesenangannya.

Sekarang kita ajukan pertanyaan. Saat membaca atau menonton itu kita sedang memenuhi kebutuhan hidup atau memenuhi hasrat kesenangan?

Relevankah informasi itu untuk kehidupan kita? Apa dampak jika kita berhenti membaca berita?

Memaksimalkan Peran Jurnalisme Untuk Perubahan Sosial
Peran Jurnalisme Untuk Perubahan Sosial

Cipta-Ripta dan Akal-Budi

Sekarang kita mengenal istilah konten, maksudnya adalah hasil dari produk elektronik. Ada juga ruang bernama industri yang jika kita berekonomi butuh kreativitas.

Tentu dari semua praktik dan ekosistem itu arahnya kita sepakati agar setiap kreasi (cipta) menghasilkan produk (ripta) yang arah(visi)nya untuk menghasilkan nilai keadaban bermerek akalbudi (kecerdasan sekaligus kebaikan).

Pekerjaan seperti ini yang menurut Sultan Agung harus ditegakkan dengan ilmu dan perilaku yang taat aturan dan etika, mengindari nafsu duniawi alias jangan berorientasi materi semata, segenap tekadnya manunggal dengan hakikat ketuhanan (spiritual).

Pedoman ini dimaksudkan agar tekad luhur tak lepas kendali sehingga menghancurkan kehidupan.

Jauh sebelum Sultan Agung bicara seperti itu, sekitar 180 tahun sebelumnya, Syekh Siti Jenar mendorong agar manusia memiliki kebebasan dengan kreasi diri.

Ia bilang kepada murid-muridnya di Lemah Abang Cirebon, sejatinya ilmu yang sejati berada dalam kreasi diri.

Segenap kesempatan dan kehendak memusat-menyatu. Keluhuran ilmu lahir dari  perenungan yang hening dan tenang. []

Jurnalisme Solutif Mazhab Penting untuk Kemanusiaan

Jurnalisme untuk Keadilan Sosial

Video Cantrik Jurnalistik, Sarana Belajar Menulis untuk Perubahan Sosial

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja