Memaknai Gerakan Lemah Abang Syekh Siti Jenar

Memaknai Gerakan Lemah Abang Syekh Siti Jenar

Lemah Abang adalah sebuah sejarah penting yang tak terpisahkan dari keislaman dan budaya di tanah Jawa. Kemunculannya pada tahun 1500 tahun silam bersamaan dengan tumbuhnya gerakan dakwah Walisongo, terutama oleh Syekh Siti Jenar, seorang ulama kenamaan yang merupakan saudara dari Sunan Gunung Jati Cirebon dan merupakan mertua dari Sunan Kalijaga.

Dalam buku “Syekh Siti Jenar” karya Agus Sunyoto, Lemah Abang bukan hanya sekadar nama tempat, tetapi juga mengacu pada sebuah gerakan sosial dan keagamaan yang cukup signifikan dalam sejarah Jawa. 

Dalam konteks filosofis yang dijelaskan oleh Agus Sunyoto dalam bukunya “Syekh

Keadaan tanah berwarna merah (Lemah Abang) bisa dimaknai untuk hikmah kehidupan.

Siti Jenar,” istilah “Lemah Abang” memiliki makna yang dalam dan simbolis. Kata “lemah” berarti tanah, dan kata “abang” berarti merah. Jika digabungkan, “Lemah Abang” secara harfiah berarti tanah merah.

Pemaknaan Lemah Abang 1

1. Tanah Merah (Lemah Abang):

Tanah dalam konteks ini melambangkan asal-usul manusia, mengingat dalam banyak tradisi spiritual dan agama, termasuk Islam, manusia diyakini diciptakan dari tanah (lemah). Merah melambangkan kehidupan, darah, dan energi vital. Merah juga sering dikaitkan dengan keberanian dan semangat.

2. Sumber Kehidupan:

Tanah merah adalah jenis tanah yang subur dan produktif, mampu menumbuhkan berbagai jenis tanaman. Ini melambangkan potensi dan kemampuan untuk menciptakan dan menopang kehidupan.

3. Simbol Transformasi dan Kesuburan:

Tanah merah sebagai simbol transformasi bisa diartikan sebagai tempat di mana benih-benih spiritual dan ajaran-ajaran baru bisa tumbuh dan berkembang. Ini mencerminkan ajaran-ajaran Syekh Siti Jenar yang menawarkan pemahaman spiritual baru yang berbeda dari ajaran-ajaran mainstream pada masanya.

4. Kehidupan dan Kematian:

Merah juga bisa melambangkan darah yang mengalir dalam tubuh manusia, menghubungkan konsep tanah merah dengan siklus kehidupan dan kematian. Dalam filosofi Jawa dan ajaran Siti Jenar, ini mungkin mengingatkan akan siklus reinkarnasi atau kehidupan setelah mati, dan kesatuan dengan alam semesta.

Esai Masyakat Ingsun Faiz Manshur membahas Lemah Abang Syekh Siti Jenar

Pemaknaan Lemah Abang 2

Sedangkan Faiz Manshur Ketua Odesa Indonesia memiliki pandangan sebagaimana ditulis dalam esainya di koran Gala, “Kepribadian Masyarakat Ingsun,” konsep “Lemah Abang” yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar memiliki makna filosofis yang mendalam.

“Lemah” berarti tanah, dan “abang” berarti merah. Kombinasi ini merujuk pada tanah merah, yang dalam konteks ajaran Syekh Siti Jenar memiliki arti simbolis sebagai berikut:

1.  Kehidupan dan Kematian:

Tanah merah (lemah abang) melambangkan siklus kehidupan dan kematian. Tanah adalah asal mula manusia dan tempat kembalinya setelah mati. Ini mencerminkan kesadaran mendalam akan asal-usul manusia dan keterhubungannya dengan alam.

2. Kesadaran Spiritual:

Warna merah melambangkan kehidupan, semangat, dan energi. Dalam konteks spiritual, merah juga melambangkan darah, yang menghidupkan tubuh. Jadi, tanah merah berarti kesadaran akan kehidupan yang penuh semangat dan energi yang bersumber dari kesatuan dengan Tuhan.

3. Keterhubungan dengan Alam:

Lemah abang mengingatkan manusia akan keterhubungan mereka dengan alam. Ini mengajarkan bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam dan menghargai bumi sebagai tempat berpijak dan sumber kehidupan.

4. Kesetaraan dan Kesederhanaan:

Tanah merah adalah lambang kesetaraan, di mana semua manusia berasal dari tanah yang sama tanpa memandang status sosial. Ini mencerminkan ajaran Syekh Siti Jenar tentang kesederhanaan dan kesetaraan di hadapan Tuhan.

5. Kesadaran Kemanusiaan:

Filosofi lemah abang juga mengajarkan tentang pentingnya kesadaran akan kemanusiaan dan nilai-nilai moral. Ini mengajak manusia untuk menyadari peran mereka sebagai penjaga bumi dan sesama manusia.

Syekh Siti Jenar dan Kepribadian Masyarakat Ingsun

Kepribadian Masyarakat Ingsun

Berdasarkan ajaran “Lemah Abang”, Syekh Siti Jenar menurut Faiz Manshur mengajarkan pendidikan karakter dengan unsur memperbaiki kepribadian masyarakat dengan spirit ingsun. Ada beberapa karakter yang penting dari kepribadian diri sebagai mana dalam tulisan ini: 

1. Kesadaran Diri dan Spiritualitas:

Masyarakat Ingsun memiliki kesadaran diri yang tinggi dan mendalam. Mereka memahami hakikat keberadaan mereka dan tujuan hidup yang lebih besar dalam konteks spiritual.

2. Kemandirian dan Integritas:

Mereka menunjukkan kemandirian dalam pencarian spiritual dan praktik kehidupan sehari-hari. Kejujuran dan integritas menjadi landasan dalam setiap tindakan mereka.

3. Kesederhanaan dan Kesetaraan:

Hidup dalam kesederhanaan dan memperlakukan semua orang dengan setara adalah prinsip utama. Mereka menghargai setiap individu tanpa memandang status sosial.

4. Kasih Sayang dan Keadilan:

Prinsip kasih sayang dan keadilan sangat dijunjung tinggi. Masyarakat Ingsun berupaya menerapkan nilai-nilai ini dalam interaksi sosial mereka.

5. Keterhubungan dengan Alam:

Mereka hidup selaras dengan alam, menjaga dan menghargai lingkungan sebagai bagian integral dari kehidupan mereka.

5. Transformasi Sosial Berkelanjutan:

Berfokus pada perubahan sosial yang berkelanjutan, mereka terus-menerus berusaha memperbaiki keadaan masyarakat melalui tindakan nyata dan inovasi sosial.

Implementasi dalam Kehidupan

  • Praktik Spiritual dan Meditasi:
    • Masyarakat Ingsun secara rutin melakukan praktik spiritual dan meditasi untuk memperdalam kesadaran dan hubungan dengan Tuhan.
  • Pendidikan dan Pengembangan Diri:
    • Pendidikan menjadi pilar utama dalam pengembangan individu dan masyarakat. Mereka mendorong pembelajaran berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas hidup.
  • Kerja Sama dan Gotong Royong:
    • Gotong royong dan kerja sama merupakan aspek penting dalam kehidupan sehari-hari mereka, memperkuat solidaritas dan hubungan antarindividu.

Kesimpulan

Faiz Manshur melalui konsep “Lemah Abang” dan kepribadian masyarakat Ingsun mengajarkan nilai-nilai spiritual yang mendalam, kesadaran diri, kesederhanaan, dan kesetaraan. Ajaran ini mengarahkan pada kehidupan yang harmonis dengan alam dan sesama manusia, dengan tujuan akhir mencapai kesejahteraan dan keadilan sosial. (Abdul Wakhid AR)

Bacaan Penting Tentang Jaka Tingkir

Video Gerakan Sosial Odesa Indonesia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja