Kredit Mikro Tak Cocok Untuk Orang Miskin (1)

Kredit Mikro Tak Cocok
untuk Orang Miskin

Budhiana Kartawijaya
Ketua Pembina Odesa Indonesia
Magister Manajemen Keuangan Terpadu Fakultas Ekonomi Bisnis UNPAD

Apa yang ada di benak orang pada umumnya ketika melihat orang miskin?

“Pinjami modal agar dia bisa membuka usaha kecil-kecilan. Dengan begitu dia bisa punya usaha kecil. Selanjutnya dia akan punya penghasilan dan hidupnya lepas dari belenggu kemiskinan.

Kredit Mikro tak Cocok untuk Orang Miskin
Kredit Mikro tak Cocok untuk Orang Miskin

Pada sisi lain orang miskin itu akan mengembalikan pinjaman yang selanjutnya bisa digulirkan kepada orang miskin lainnya. Demikian seterusnya. Demikian harapan kita semua. Bagaimana dengan faktanya?”

Menurut perkiraan Bank Dunia, sekitar 25,5% dari total populasi dunia, atau sekitar 1,9 miliar orang, diperkirakan hidup di bawah garis kemiskinan internasional sebesar $3,20 per hari.

Sekitar 9,2% dari total populasi dunia, atau sekitar 706 juta orang, hidup dalam kemiskinan ekstrem, yang didefinisikan sebagai hidup dengan penghasilan kurang dari $1,90 per hari.

Dalam pemikiran kebanyakan orang, meminjamkan modal usaha untuk menumbuhkan pengusaha mikro (micro-credit for micro-entrepreneur) akan membuat orang miskin aktif berwirausaha.

Dengan usaha mikronya itu dia bisa membawa serta orang miskin lainnya sebagai tenaga kerja. Maka pengangguran akan berkurang, sehingga angka kemiskinan turun.

Kemudian, orang miskin yang dipinjami modal akan naik taraf hidupnya, dan konsumsinya naik.

Semudah itukah?

Brian Fikkert dan Russel Mask dalam buku From Dependence to Dignity (2015) meneliti asumsi di atas. Mereka mendapatkan fakta bahwa micro-credit for micro-entrepreneur tidak seindah yang diduga. Ada tiga alasan:

Pertama, tidak cukup jumlah “pengusaha mikro” yang bisa memanfaatkan pinjaman mikro untuk mengakhiri kemiskinan dunia.

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September 2021, terdapat sekitar 736 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan global yang ditetapkan oleh Bank Dunia sebesar US$1,90 per hari (Bank Dunia sudah memperbarui kriteria miskin pada September 2022, yaitu mereka yang hidup dengan penghasilan di bawah 2,15$).

Dari jumlah orang miskin dunia itu, sekitar 264 juta orang dari total tersebut merupakan orang dewasa usia kerja (15-64 tahun) atau 35,87%. Tidak mudah mencari data berapa banyak dari angkatan kerja ini yang membuka usaha mikro.

Tapi Filkkert dan Mask pernah menggunakan angka 2010, dan hasilnya menunjukkan hanya 7% dari angkatan kerja orang miskin yang menjadi micro entrepreneur. Angka ini digunakan kedua peneliti ini dalam buku terbitan 2015.

Kita beranggapan bahwa usaha mikro orang miskin ini akan menimbulkan efek menetes ke bawah (trickle down effect) yaitu membuka lapangan kerja sehingga mengurangi pengangguran.

Tapi penelitian Banerjee dan Duflo (2008) menemukan bahwa usaha mikro yang dilakukan mereka yang hidup di bawah 2$ per hari, hanya mampu menarik 0,10-0,25 tenaga kerja non keluarga.

Bahkan Banerjee dan Duflo menemukan, pengusaha mikro yang berpenghasilan 6$ – 10$, hanya bisa menarik 0,70-1,20 tenaga kerja non keluarga.

Kedua, lembaga keuangan mikro biasanya tidak mampu mengangkat ekonomi keluarga yang di bawah garis kemiskinan. Sedikitnya ada tiga alasan:

1). Lembaga keuangan lebih menyukai menebar kredit kepada warga miskin di perkotaan dari pada di desa karena biaya operasional kredit di perkotaan lebih murah dari pada di desa.

Kota lebih padat sehingga biaya transportnya lebih kecil. Tapi menurut Martin Ravallion dkk, meski ada pertumbuhan di kota-kota dunia, kenyataannya 75% orang-orang miskin dunia tetap ada di desa. Mereka ini di luar jangkauan lembaga keuangan.

2).  Bagi lembaga keuangan, memberi kredit pada orang miskin itu mahal.  Karena itu kebanyakan lembaga keuangan  tidak mau memberi pinjaman 40$-50$, karena jumlah ini terlalu besar dan bersiiko bagi orang termiskin.

3).  Penghasilan para micro-entrepreneurini selain kecil, juga tidak teratur dan tidak bisa diperkirakan (irregular and unpredictable). Orang miskin memerlukan kelonggaran, sedangkan lembaga keuangan punya aturan baku.

Ketiga, sampai sekarang tidak benar-benar jelas bahwa kredit mikro bisa mengurangi angka kemiskinan di kalangan nasabahnya. Memang ada ribuan cerita sukses tentang orang miskin yang hidupnya tampak membaik.

Tapi menurut Flikkert, pada kenyataannya kredit itu ada yang tidak berpengaruh kepada kehidupan orang miskin, dan ada pula malah yang menyebabkan mereka jatuh lebih dalam ke dalam lubang kemiskinan.

Sedikitnya ada empat faktor mengapa pinjaman kepada orang miskin gagal:

Pertama, Pinjaman digunakan untuk konsumsi. Karena pendapatan orang miskin itu sifatnya kecil, tidak tentu (irregular), dan tidak pasti (unpredictable) maka fokus utama mereka adalah bagaimana mengamankan konsumsi.

Perhatikan gambar di bawah: Bila pendapatan (garis biru) cukup, dan konsumsi (dot hijau) cukup, maka dia akan mampu menyimpan sebagian pendapatannya. Tapi jika pendapatan di bawah garis rawan (merah), itu artinya pendapatan dan modal pasti tergerus untuk kebutuhan darurat.

Keluarga miskin akan berupaya setiap hari untuk mengelola keuangannya agar konsumsi terpenuhi, artinya kurva hijau jangan sampai menembus garis merah. Flikkert menyebut, orang miskin sehari-harinya sibuk mengelola keuangan demi mengamankan konsumsi.Kredit Mikro Tak Cocok Mengentaskan Kemiskinan

Kredit Mikro Tak Cocok Mengentaskan Kemiskinan

Kedua, Kebanyakan mikro kredit digunakan untuk bayar utang yang menggunung (over-indebtness). Mereka meminjam uang terlalu banyak, sehingga tak mampu bayar. Atau mereka meminjam uang dengan jumlah wajar, namun karena ada krisis (gagal panen, sakit, dan lain-lain), mereka tak mampu membayar. Kerap mereka meminjam uang untuk melunasi utang sebelumnya (debt spiral).

Ketiga, usaha yang dibangun adalah meniru orang lain (copy cat)dan tidak memenuhi kebutuhan pasar atau malah terjadi over supply Para perempuan itu sama-sama dagang gorengan, atau kacang goreng. Akibatnya dagangan tidak laku, sehingga modal tergerus kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Keempat, uang yang ada digunakan untuk mengatasi hal-hal darurat jangka pendek, bukan untuk pengembangan ekonomi jangka panjang. Hal-hal darurat dan mendesak itu tersebut misalnya: sakit, rumah bocor, hajat keluarga, biaya sekolah anak.

Jadi, banyak dari kita yang terlalu menyederhanakan (oversimplifikasi) dalam memandang kemiskinan, sehingga penyelesaian yang ditawarkan pun bersifat oversimplifikasi.

Misalnya bila melihat orang miskin lapar, kita memberinya makan. Dalam satu sisi, ini tentu hal yang baik. Namun memberi sumbangan makanan itu hanyalah mengobati gejala saja, tidak melihat penyebabnya yang lebih kompleks.

Sebuah keluarga yang kurang gizi akan menyebabkan mereka sakit. Keluarga yang sakit akan menjadi miskin. Keluarga yang miskin akan kurang gizi. Semakin kurang gizi, semakin sakit.

Keluarga sakit tidak akan produktif, keluarga tak produktif akan menjadi miskin. Keluarga miskin akan jadi sakit. Keluarga sakit akan kehilangan harga bendanya.

Kehilangan harta benda, akan berutang kepada lintah darat. Keluarga yang banyak utang, tak bisa menyekolahkan anak…. Dan seterusnya.

Dengan siklus seperti itu, Robert Chambers, seorang pakar pembangunan merumuskan lima klaster kemalangan (five clusters of disadvantages), yang setiap klaster berkaitan dan membelenggu mereka sehingga tidak bisa keluar dari kemiskinan.

Lihat gambar di bawah ini.

Kredit Mikro Tak Cocok Mengatasi Kemiskinan
Kredit Mikro Tak Cocok Mengatasi Kemiskinan
  1. Kemiskinan material: rumah tangga tidak memiliki aset yang bisa menghasilkan pendapatan: tanah, ternak, mesin, rumah, dan pendidikan.
  2. Kelemahan fisik:  rasio keluarga yang tidak bekerja (usia lanjut, anak-anak, cacat, lemah) yang lebih besar dari pada yang bekerja. Kurang gizi dan penyakin semakin memperlemah anggota keluarga dan menggerus kemampuannya untuk bekerja.
  3. Isolasi: Secara geografis, sosial, dan ekonomi keluarga terasing dari lembaga-lembaga penting masyarakat, termasuk: pasar, sistem keuangan, pelayanan sosial, kesempatan pendidikan, politik dan informasi.
  4. Ketidakberdayaan: Keluarga merasa tidak punya suara dan tidak mampu mempengeruhi lingkungan sekitar. Mereka menjadi objek ekploitasi oleh mereka yang punya kekuatan besar, dan pemilik tanah.
  5. Kerawanan: Keluarga tidak memiliki sumber keuangan untuk bertahan dari guncangan akibat sakit, cuaca buruk, kebakaran, atau pengeluaran sosial yang tinggi seperti kematian dan perkawinan.

Jika kredit mikro tak cocok untuk mengentaskan kemiskinan, bagaimana solusi selanjutnya? Yayasan Odesa Indonesia memiliki pengalaman untuk mengatasi sengkarut kemiskinan. Baca tulisan selanjutnya

Kemiskinan Budaya Menjadi Problem Sulitnya Orang Miskin Beranjak

Pendapatan Ekonomi dan Solusi Kemiskinan

Kerusakan Alam dan Kemiskinan Petani Desa 

Belajar SDGs Bersama Budhiana Kartawijaya

Pemberdayaan Masyarakat Model Odesa Indonesia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja