Pendapatan Ekonomi dan Solusi Kemiskinan

Oleh FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa Indonesia

“Jika masalah kemiskinan itu karena pendapatan rendah, mengapa strateginya bukan menaikkan pendapatan?” demikian pertanyaan seorang teman kepada saya.

Teman saya ini serius mencari jawaban guna mengatasi kemiskinan. Sementara ia baru saja mendengarkan paparan saya tentang program Odesa Indonesia yang dalam rangka mengatasi kemiskinan justru memprioritaskan tiga hal, yang menurut dia, kadar korelasi praksisnya dengan usaha meningkatkan pendapatan tampak meragukan.

Ketiga hal itu adalah perbaikan sanitasi, tani pekarangan dan beasiswa. Dalam bayangan dia, mestinya yang dipicu gerakan sebagai skala prioritas adalah meningkatkan pendapatan karena dengan pendapatan yang meningkat orang miskin tidak akan sengsara, bisa menyekolahkan anak-anaknya dan dengan itu pula akan hilang kemiskinanannya.

Saya bilang, pandanganmu bagus. Aku juga punya pemikiran begitu, tetapi pilihan strategi menaikkan pendapatan itu mesti dihubungkan dengan keadaan orang miskin di lokasinya. Sebab pada usaha menjawab pertanyaan lanjutan, “bagaimana cara menaikkan pendapatan orang miskin,” bukan perkara sepele.

Kami di Yayasan Odesa Indonesia lebih memilih mengurai “penyebab kemiskinan” (baik struktural maupun kultural) karena kemiskinan itu, sama dengan kemakmuran atau kekayaan,- tidak berdiri sendiri.  Di dalam kemiskinan itu ada keadaan objektifnya (keadaan alam dan sosial), ada pula subjektifnya (perilaku manusia) dan jangan lupa juga ada akar historisnya.

Realitas Objektif

Mula-mula dalam memandang kemiskinan kita harus melihat realitas objektifnya; baik yang kini maupun sejarah kehidupan sebelumnya. Orang miskin yang tinggal di satu tempat, penyebabnya bisa berbeda dengan tempat lain. Itu konteks makronya. Pada sisi mikronya, perbedaan juga bervariasi karena faktor keluarga, termasuk juga faktor individunya.

Menaikkan pendapatan ekonomi belum tentu memberantas akar masalahnya. Sebab nyata terjadi pada keluarga yang penghasilannya lebih besar dari rata-rata orang miskin juga keadaanya kesejahteraannya tidak jauh berbeda si miskin. Sebab apa? Karena mereka memiliki masalah yang sama. Salahsatunya adalah keterbelakangan infrastruktur yang memboroskan banyak waktu untuk hal-hal yang semestinya berbiaya murah.

Sebagai contoh, seorang petani berpendapatan Rp 600.000 perbulan tidak membeli air bersih. Berhematkah? Orang-orang miskin di sebuah kampung itu untuk memenuhi air bersihnya menghabiskan waktu 1-2 jam perhari dengan pencapaian beberapa ember saja. Mandi hanya bisa sekali sementara badannya kotor seharian setelah bekerja. Belum lagi kalau musim kemarau panjang, urusan lebih ribet lagi.

Kalau kita menghargai bahwa “waktu adalah uang”, alias kekayaan hidup, maka perilaku yang tak efisien itulah yang justru mesti diubah terlebih dahulu. Sebab, jika sekalipun pendapatan besar tetapi akses terhadap sumber kesejahteraan tiada mampu dibayar dengan uang, yang terjadi adalah pemborosan yang luar biasa. Sebuah kemakmuran bukanlah semata diukur oleh nominal uang, melainkan lebih pada hasil akhir, yakni kesejahteraan.

Pada kasus tani pekarangan yang digerakkan Odesa, sekalipun bersifat ekonomi, tetapi sasaran yang dituju juga bukan menaikkan pendapatan, melainkan penghematan.  Rumus utama adalah agar ibu rumah tangga bisa berkurang konsumsi dapurnya. Berhemat setiap hari antara Rp 8.000 hingga 10.000 berarti mengurangi pengeluaran uang senilai Rp 240.000-300.000 setiap bulan.

Ini luar biasa. Manakala urusan orang miskin adalah uang santunan Rp 300.000-600.000 ribu, maka tani pekarangan merupakan solusi terbaik karena selain menjawab problem gizi, lingkungan menjadi terawat dan kedisiplinan kerja mengalami peningkatan.

Tujuan “mengurangi pengeluaran” dijadikan prinsip kerja itu penting karena urusan orang miskin juga berkaitan dengan perilaku gelap mata tak mampu menghitung kebutuhan. Banyak orang miskin berjibaku mencari nafkah bekerja di tempat yang jauh dengan asumsi pendapatan lebih besar. Begitu pulang hasilnya tak seberapa karena uangnya ludes untuk transportasi.

Rumus “mengurangi pengeluaran” itu juga memberikan nilai edukasi karena para petani miskin kebanyakan mengutamakan uang sementara kebutuhan sayuran untuk konsumsi rumah tangganya juga kekurangan dan tetap harus membeli. Bahkan meluas terjadi pada kalangan petani sayur, belanja sayuran saban hari lazim dilakukan dan hanya dalam beberapa minggu saat mereka menghasilkan panen dari ladangnya.

Pada pertanian sayuran sistem perladangan tradisional, siklus panen teramat panjang. Setiap tahun para petani hanya memanen 3-4 kali sehingga mereka hanya bisa berhemat dalam rentang akumulasi hitungan sekitar 30-40 hari dari 360 hari sepanjang tahun. Sementara pada pertanian pekarangan memanen sayur bisa dilakukan setiap hari.

Ingat, kesejahteraan manusia bukan semata karena sumberdaya alam melimpah, bukan juga karena pendapatan yang tinggi, melainkan juga ditentukan oleh perilaku. Jika perilakunya kontradiksi dengan prinsip optimasi, bisa jadi kekayaan akan lenyap; dulu kaya sekarang miskin. Penghematan (bukan sikap pelit) merupakan bagian penting dari strategi untuk merekonstruksi manusia menjadi makhluk yang maju dan bisa memajukan orang lain serta menjaga keberlangsungan hidup.

Kalau kita bicara inovasi, maka tani pekarangan adalah inovasi terpenting guna mengatasi kemiskinan, tentu saja dengan catatan dijalankan secara sungguh-sungguh dengan semangat perubahan, bukan sekadar menggelontorkan anggaran sebagaimana Istri-istri Bupati sering melakukan yang ujung-ujungnya hanya menjadikan tani pekarangan sebagai kegiatan menyerap anggaran negara untuk lomba-lomba Agustusan.

Pendidikan sebagai solusi

Berlanjut pada kisah pentingnya beasiswa anak-anak petani, ini merupakan tindakan investasi yang tak bisa ditunda karena berurusan dengan usia. Jika terputus dari sekolah, dipastikan anak-anak itu terpencar sebagai pengangguran, semi pengangguran, atau pekerja rendahan yang pada jangka waktu panjang tidak akan bisa menjawab persoalan hidupnya, apalagi menolong keadaan orangtuanya.

Jadi, usaha meningkatkan pendapatan ekonomi orang miskin dengan target supaya anak-anaknya bisa sekolah bukanlah teori yang salah, tetapi jelas tak nyambung dengan kebutuhan karena ada dimensi waktu. Ingat, bukan perkara mudah dalam urusan peningkatan ekonomi pada orang miskin, apalagi jika targetnya adalah kemampuan membiayai anak-anaknya bersekolah melewati panjang perjalanan SMP, SMA hingga kuliah.

Bahkan kalaupun keadaan ekonomi orang-tuanya mampu untuk menyekolahkan, namun pola pikir mereka dalam urusan sekolah adalah tidak penting, belum tentu menyekolahkan anaknya sampai kuliah.

Kemiskinan dan penyebab kemiskinan adalah dua hal yang berbeda tetapi memang berkait. Mari kita beri perhatian pada kemiskinannya, namun pada saat melakukan tindakan mestinya memakai standar treatment yang tepat membongkar akar penyebabnya.

Dengan beasiswa sekolah misalnya, akan lebih strategis dalam mengurai beberapa akar persoalan kemiskinan seperti kelemahan etos kerja, berpikir sempit, pragmatisme, gaya hidup boros dan tak efisien. Dalam perjuangan emansipasi kaum perempuan, Dewi Sartika menganggap bahwa perkawinan dini adalah kanker kemiskinan.

Maka beasiswa sekolah SMP, SMA hingga Kuliah adalah obat mujarab mengatasi kanker kemiskinan itu. Dengan sekolah yang lebih tinggi dan berada di luar hubungan keluarga, anak-anak orang miskin bisa mendapatkan kesempatan yang banyak untuk memperbaiki diri dan kelak bukan saja bisa menolong dirinya, melainkan menolong keluarganya, bahkan bisa berguna bagi masyarakat luas seandainya jadi guru, wirausahawan, tenaga kesehatan, atau pegawai.

Pemikiran-pemikiran yang saya sampaikan di atas kemudian mengundang perdebatan karena secara ekonomi (sesungguhnya akuntansi) dianggap tidak efisien. Saya bilang, ini tetap ilmu ekonomi tetapi cara memandangnya harus memakai ilmu sosial. Lagi pula, mana ada teori ekonomi murni? Lagi pula, teori ekonomi mana yang masih patut dipertahankan? Bagi saya teori ekonomi masih relevan selagi hidupnya masih mau berjalin dengan ilmu sosial, dan senantiasa dilihat sebagai ilmu sosial.

Menahkodai ekonomi apalagi berhubungan dengan masyarakat luas, terlebih lagi mengurus orang miskin seyogianya butuh kebijaksanaan lebih dari sekadar mengotak-atik pendapatan yang ujungnya urusannya jadi matematika murni.

Lebih baik kita gunakan rumus bermatematika di lapangan sosial untuk tujuan kemajuan yang lebih luas, di dalamnya kita berbicara soal survival manusia, maka dari situ akan muncul pandangan baru berekonomi sehingga bisa memunculkan inovasi seperti tani pekarangan atau pembangunan sanitasi, atau memberikan beasiswa kepada anak-anak orang miskin.

Bukankah itu besar biaya? Bisa jadi jika dihitung begitu. Tapi nyata tidak akan ada kerugian di dalamnya. Jangan berpikir seperti politisi yang alokasi anggaran pendidikan untuk orang miskin minim, lalu menciptakan pemikiran investasi di bidang wisata sementara wisatanya belum tentu menguntungkan, dan yang terus terjadi adalah anak-anak miskin kehilangan masa depannya, paling jauh menjadi pekerja rendahan di tempat wisata.

Saya percaya ekonomi adalah ilmu sosial, sebagaimana kata Richard Thaler, Pemenang Hadiah Nobel Ekonomi, “bagaimanapun, perusahaan di jalankan manusia, pegawai dan konsumen juga manusia.” Sehingga menambah unsur manusia yang oleh Thaler dibingkai dalam istilah “ekonomi perilaku” adalah sesuatu yang lebih masuk akal.

Perlu ditegaskan kiranya, orang miskin itu adalah manusia, bukan perkakas mati. Mereka memiliki naluri dan perilaku yang mesti dipertimbangkan dalam kita merekonstruksi perubahan. Dan percayalah, urusan ekonomi itu hanya bagian tak sampai 20 persen dari unsur lain dalam lapangan kehidupan ini.


Baru-baru ini, Dr Hawe Setiawan, Pembina Yayasan Odesa Indonesia, menerjemahkan buku sejarah berjudul Puisi Sunda Zaman Belanda karya Dr. Tom van de Berge. Seorang penyair Sunda M.A Salmoen menulis sajak di majalah Parahiangan (1931) yang menarik untuk menjadi bagian perubahan sosial. Gagasan boleh muncul dari zaman dulu, tetapi semangat perubahannya masih dibutuhkan untuk inovasi ekonomi karena nyata terjadi keterbelakangan hidup masih terjadi di zaman sekarang ini:

Rumah rapi dan bersih,

Tanaman terurus,

Di halaman dan dalam pot,

Dalam hal uang pun,

Tentu harus hemat,

Belanja diatur begitu rupa,

Dalam hal waktu pun demikian. []

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan