Kehidupan desa

Kehidupan Desa Lebih Baik untuk Saat Ini

Kehidupan Desa Lebih Baik untuk Saat Ini — Berapa banyak dari kita yang benar-benar punya pengalaman menjalani kehidupan desa?

Sebagian dari kita mungkin lahir dari orang tua yang tinggal di kota sehingga bahkan tak punya gambaran yang jelas tentang seperti apa hidup di desa.

Terutama bagi para pemuda, kehidupan di desa barangkali sama sekali tidak ada daya tariknya. Jauh dari berbagai fasilitas modern, tidak ada pekerjaan yang sesuai bidang, akses jalan dan transportasi sulit, dan mungkin belum terjangkau internet.

Namun, benarkah kehidupan di desa sama sekali tidak lebih baik daripada kehidupan metropolitan yang Anda jalani sehari-hari?

Over Modernisasi yang Menjemukan

Daya tarik utama hidup di kota adalah menyediakan hampir semua hal lebih mudah dan lengkap daripada di desa. Pusat perbelanjaan, teknologi maju, peluang kerja dengan gaji besar, hiburan, transportasi publik, dan banyak hal lainnya.

Kehidupan modern semacam ini rupanya telah banyak menarik perhatian para peneliti. Mereka mencari tahu tentang apakah segala hal yang dibangun untuk memudahkan hidup manusia ini, benar-benar baik untuk manusia itu sendiri.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Milenovic, et al (2017) memberikan hasil yang menarik. Ibarat dua sisi mata uang, modernitas yang masih minim di kehidupan desa ini memiliki efek kurang baik terutama pada kesejahteraan mental.

Banyaknya rangsang yang harus segera direspon, kesibukan, polusi udara, kepadatan penduduk, hingga kebisingan lalu lintas terbukti adalah stressor bagi fisik maupun mental. Tekanan ini terjadi terus menerus dalam jangka waktu lama sehingga membawa kerugian tanpa Anda sendiri sadari.

Beberapa kemungkinannya adalah masalah kesehatan, menurunnya fungsi kognitif, dan fungsi mental yang buruk.

Contoh sederhana misalnya basa-basi dengan tetangga dapat terasa menyita energi yang sangat besar. Penyebabnya tak lain adalah Anda sendiri yang sudah selalu dalam kondisi jemu dan lelah mental.

Meskipun tidak serta merta menyarankan hidup di desa sebagai solusi, para peneliti lain memberikan rujukan yang cukup aplikatif. Yaitu, bahwa mengunjungi lingkungan alam memberikan manfaat psikologis berupa penurunan tingkat stres (Ewert, et al 2018).

Jadi, mengapa kita tidak coba untuk mengenal dan belajar dari kehidupan di desa yang masih sangat alami?

Baca Juga:

Kembali Mengenal dan Belajar dari Kehidupan Desa

Sebagai seorang yang punya kesibukan kerja di kota, mengunjungi alam pedesaan barangkali hanya dapat Anda lakukan sejenak.

Kabar baiknya, manfaat besar untuk kesejahteraan mental dapat Anda temukan di balik sunyinya pedesaan. Walaupun, manfaat tersebut bukan hanya dari nuansa desa yang alami seperti dikatakan oleh hasil riset dari para peneliti.

Jika Anda cukup jeli, desa menyediakan banyak manfaat dan kesempatan besar yang lain.

Pelajaran Hidup dari Mereka yang Memilih Hidup di Desa

Mereka yang menjalani kehidupan di desa bukanlah mereka yang tidak punya kesempatan untuk hijrah ke kota. Menjalani kehidupan di desa adalah pilihan mereka walaupun jauh dari fasilitas modern yang kota tawarkan.

Sebab bagi mereka, apa yang alam sediakan jauh lebih berharga dari segala hal modern di kota. Misalnya adalah tentang sumber pangan mandiri.

Ketika warga kota harus membeli sayur dan daging ayam di supermarket, orang desa menghasilkan semua itu sendiri dari halaman rumah. Bahkan, mungkin hasil kebun mereka juga yang kemudian mengisi rak-rak supermarket.

Swasembada pangan adalah salah satu pelajaran dari kehidupan desa yang sulit untuk masyarakat kota lakukan. Dari sini kita dapat belajar bahwa keterbatasan atau kekurangan desa justru adalah peluang untuk mengembangkan model hidup yang lebih mandiri.

Asal Muasal Identitas dan Kebudayaan

Kehidupan masyarakat di desa masih menggunakan bahasa dan adat budaya sebagai identitas. Hal ini yang semakin memudar pada masyarakat kota dengan alasan efektivitas dan efisiensi.

Contoh paling dekatnya adalah berapa banyak dari kita yang masih menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi dengan kerabat?

Bahkan mungkin angkatan orang tua kita juga sudah mulai kesulitan mendampingi adik-adik kita mengikuti pelajaran bahasa daerah di sekolah.

Ketika berkesempatan sejenak menilik bagaimana masyarakat hidup di desa, ini juga adalah kesempatan untuk mengenal dan mengenakan kembali identitas dengan belajar dari sumbernya.

Memahami Alam yang bukan hanya untuk Dipandang

Pemandangan alam di desa

Masyarakat desa memahami bahwa alam tidak hanya memberikan efek menenangkan ketika dipandangi.

Mereka yang menjalani kehidupan desa punya kesempatan mengenal alam dengan lebih dekat.

Jauh dari obat-obatan modern barangkali tidak terlalu membuat mereka khawatir. Sebab, banyak botani yang memiliki fungsi sebagai obat.

Mereka dibesarkan dengan pengetahuan turun temurun tentang hal ini. Tak heran jika menjaga alam menjadi salah satu alasan kuat bagi mereka untuk tinggal di desa.

Bagi kita yang lahir dan tumbuh besar di kota, label obat herbal dalam kemasan obat modern sudah terasa cukup memuaskan. Efisien, namun membuat kita justru semakin tidak memahami alam dengan segala sumber dayanya.

Desa Sebenarnya bukan Hanya Tempat Berlibur

Hidup di desa menawarkan kedekatan dengan alam yang tak hanya sebatas nuansa yang sunyi dan tenang.

Ada banyak manfaat hal lain seperti tentang kearifan memilih jalan hidup, merasa cukup dengan apa yang alam sediakan, mengembangkan model hidup yang mandiri hingga hidup saling menjaga dan memberdayakan dengan alam.

Bukankah semua ini memberikan bukti bahwa kehidupan desa cukup memikat bahkan sangat mungkin lebih memberi kesejahteraan batin? (Sonia Here)

Referensi:

Ewert, Alan. Chang, Yun (2018) Levels of Nature and Stress Response. MDPI: Behavioral Science, 8(5): 49. doi: 10.3390/bs8050049.

Milenovic, Miodrag, et al (2017) Natural Environment, Stress and Mental Health. FACTA UNIVERSITATIS. Series: Working and Living Environmental Protection Vol. 14, No 3, 2017, pp. 225 – 234. https://doi.org/10.22190/FUWLEP1703225M.

Admin: Fadhil Azzam

Artikel Terkait:

Kebatinan diperlukan Menghadapi Kehidupan yang Serba Instan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja