Berkebun dapat menghilangkan stres

Hilangkan Stres dengan Berkebun

Stres seringkali dikaitkan dengan keadaan seseorang yang sedang tidak mampu menghadapi situasi menuntut yang melebihi kapasitas diri. Berbicara mengenai stres, sebenarnya kondisi ini adalah emosi natural yang pasti dimiliki oleh setiap manusia sebagai respons terhadap kondisi penuh tekanan dan tantangan dalam kehidupan.

World Health Organization mendefinisikan stres sebagai kondisi ketika seseorang mengalami kecemasan atau ketegangan pikiran akibat situasi yang sulit. Kondisi stres rentan dialami oleh generasi muda, khususnya pada usia remaja.

Hal ini disebabkan karena pada usia transisi menuju dewasa banyak dihadapkan pada situasi yang tidak familier sehingga menimbulkan kebingungan dalam bersikap, atau singkatnya para remaja merasa overwhelmed dengan kondisi yang mereka hadapi.

Hasil survei Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018 menyebutkan bahwa individu berusia 15 – 24 tahun yang menunjukkan gejala kecemasan dan depresi mencapai 6,1% atau sekitar 11 juta orang.

Stres pada usia remaja kerap disebabkan oleh tuntutan akademis, tantangan pekerjaan, kehidupan sosial, dan masalah finansial. Berdasarkan faktor pemicu stres tersebut dapat dilakukan upaya pencegahan dan penurunan tingkat stres pada generasi muda.

Penyebab Stres pada Anak Muda

1. Tuntunan Akademis

Banyaknya tugas yang diberikan dalam satu waktu sering menjadi pemicu stres bagi generasi muda yang menjadi pelajar. Mereka sering kali mengalami kesulitan dalam mengatur waktu untuk bisa menyelesaikan tugas-tugas yang ada agar dapat dikumpulkan tepat waktu.

Selain itu, ketakutan ketika masa-masa ujian dan kekhawatiran akan hasil akademis yang diperoleh dapat menyebabkan kesulitan tidur dan pola makan tidak teratur yang mengarahkan pada kondisi stres. Akibatnya, terjadi penurunan performa akademik yang dapat semakin memperparah tingkat stres yang dialami.

2. Tantangan Pekerjaan

Kesulitan memperoleh pekerjaan adalah pemicu stres paling besar bagi lulusan baru. Banyak kasus pencari kerja di Indonesia juga mendapatkan tekanan dari keluarga dan orang sekitar. Sebagai lulusan baru, mereka diekspektasikan untuk bisa mendapatkan penghasilan dari hasil bekerja dalam rangka membantu memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

Tawaran pekerjaan yang tak kunjung datang, tekanan dari keluarga yang kian lama kian membesar semakin memperburuk keadaan mental dan pikiran seorang lulusan baru. Akan tetapi, stres tidak hanya dialami oleh para pencari kerja, tetapi juga para pegawai yang sudah bekerja. Beban kerja yang berat, gesekan dengan kolega dan juga atasan dapat membuat pegawai terperangkap dalam kondisi stres.

3. Kehidupan Sosial

Bagi sebagian orang, kehidupan sosial mengambil porsi yang besar dalam kehidupan. Keberadaan teman dan pasangan adalah kebutuhan yang harus dipenuhi untuk menyingkirkan kesepian dan kehampaan dalam hidup.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam suatu hubungan pertemanan ataupun romansa akan ada fase ketika perselisihan muncul. Permasalahan yang memburuk seiring waktu dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan membaik sering menjadi faktor munculnya stres level berat.

Kesulitan untuk mendapatkan teman atau pasangan juga memicu munculnya stres. Kadang kala, seorang individu yang belum mendapat teman atau pasangan akan mempertanyakan nilai diri sendiri atau bahkan menganggap rendah diri mereka sendiri.

4. Kondisi Finansial

Banyak dari generasi muda, khususnya pada usia remaja belum memiliki pekerjaan  sehingga tidak berpenghasilan. Meskipun tidak memiliki tagihan yang perlu dibayar, di zaman yang serba modern ini banyak anak muda yang ingin tetap eksis dengan memiliki gaya hidup “mewah”.

Ketiadaan uang yang dapat mendukung mereka dalam memenuhi gaya hidup tersebut sering kali membuat mereka stres. Kalaupun sudah bekerja, tak jarang banyak anak muda yang merasa penghasilan mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan yang mereka inginkan, seperti berbelanja, melancong ke luar kota atau luar negeri, dan sekedar nongkrong untuk bersosialisasi.

Berkebun sebagai Alternatif Pereda Stres Anak Muda

Anak Muda, Berkebun, Menanam, aksi Tanam, Bukit Gersang

Sedari ratusan tahun yang lalu, alam dipercaya memiliki kekuatan untuk penyembuhan dan perawatan kesehatan. Elemen-elemen yang terdapat di alam, mulai dari komponen biotik, seperti tanaman dan hewan hingga abiotik, seperti sinar matahari dapat memberikan efek relaksasi.

Salah satu kegiatan yang melibatkan alam dan dapat dilaksanakan tanpa perlu bepergian ke situs alam adalah berkebun. Berkebun dapat diartikan sebagai aktivitas mengolah lahan dengan menumbuhkan dan merawat tanaman.

Tidak hanya bercocok tanam, berkebun juga dilakukan untuk menjaga tampilan kebun tetap menarik. Penelitian oleh Royal Holticulture Society menunjukkan bahwa berkebun setiap hari dapat meningkatkan skor kesejahteraan seorang individu sebesar 6,6% dan menurunkan tingkat stres sampai 4,2%  dari individu yang tidak berkebun.

Baca juga:

Adapun manfaat berkebun dalam mencegah dan meredakan stres adalah sebagai berikut:

1. Sarana melakukan Aktivitas Fisik

Kegiatan berkebun dapat menjadi sarana yang pas untuk menggerakkan badan dan berolahraga tanpa perlu pergi ke gym atau fasilitas olahraga lain. Aktivitas mengelola lahan memerlukan kekuatan fisik yang setara dengan olahraga sekaligus membakar kalori.

Kesibukan bercocok tanam juga dapat mengalihkan pikiran buruk yang berpotensi menyebabkan stres sehingga pikiran tetap jernih dan rileks.

2. Paparan terhadap Vitamin D

Berkebun di luar ruangan berarti melakukan aktivitas di bawah sinar matahari. Sistem dalam tubuh akan segera memproduksi vitamin D sesaat setelah kulit kita terpapar sinar matahari. Vitamin D diperlukan dalam pertumbuhan kalsium yang penting untuk pemeliharaan kesehatan tulang dan gigi.

Selain itu, vitamin D juga diperlukan untuk memperkuat sistem imun dan mengatur aliran insulin dalam tubuh. Dalam pemeliharaan stres, vitamin D dapat menurunkan potensi kecemasan dan depresi.

3. Sumber Kebahagiaan

Merawat tanaman setiap hari dan mengelola kebun dapat memberikan kepuasaan tersendiri bagi seorang individu. Berbagai macam tanaman yang ditumbuhkan dari biji atau bibit, lalu dirawat perlahan sampai tumbuh besar menjadi bukti ketekunan dalam memelihara kebun sehingga memunculkan rasa bangga dan bahagia.

Bahkan, hanya dengan melihat area perkebunan yang asri ketika suntuk dapat memperoleh ketenangan pikiran dan mengisi ulang energi yang telah terkuras habis.

4. Menurunkan Hormon Stres (kortisol)

Kortisol merupakan hormon yang diproduksi tubuh sebagai respons dalam menghadapi kondisi penuh tekanan atau stres. Level hormon ini penting untuk diperhatikan karena peningkatan hormon dalam tubuh sejalan dengan peningkatan risiko depresi.

Melalui kegiatan berkebun, seseorang dapat melakukan manajemen emosi dengan lebih terstruktur. Dukungan dari kondisi kebun yang asri memberikan efek penenang sehingga seseorang dapat berpikir lebih jernih dan menyingkirkan pikiran-pikiran destruktif.

Baca juga: Manfaat Daun Kelor untuk Kesehatan Mental yang Jarang Diketahui

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa stres terjadi ketika seseorang mendapatkan tekanan yang membuatnya kewalahan sehingga tidak dalam kondisi pikiran yang tenang. Hal ini dapat dipicu oleh faktor internal dan eksternal, meliputi permasalahan akademis, karir, sosial, hingga ekonomi.

Perlu dilakukan upaya mencegah dan mengatasi stres untuk menghindari risiko peningkatan stres. Berkebun dapat menjadi solusi efektif untuk mengatasi stres tanpa perlu bepergian jauh ke tempat-tempat yang terkenal untuk healing.

Melalui kegiatan bercocok tanam, seseorang dapat melatih pengaturan emosional dengan baik dan juga mendapat ketenangan dari menyibukkan diri dengan kegiatan yang positif sehingga terhindar dari risiko stres.

Penulis: Nisrina Salsabila

Admin: Alma Maulida

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja