Di Tareptep Cimenyan Kab.Bandung 7 Keluarga Berumah di Gubuk

BANDUNG: Foto di atas merupakan rumah Pak Maman, penduduk di Kampung Tareptep, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kami menemui pemilik rumahnya, pada Jumat, 24 Maret 2017. Pertama melihat pemilik rumah tersebut, kesan saya bertemu dengan seorang kakek.




Namun ketika membuka Kartu Keluarga tertulis, Maman lahir 26-02-1978 ( 39 tahun ), sedangkan istrinya, Enung, lahir 27-03-1983 ( 34 tahun ). Pasangan suami-istri ini memiliki 4 orang anak. Mata pencaharian sehari-hari sebagai Buruh Harian Lepas.

maman rumah tareptep3
maman rumah tareptep2
Saat Odesa sampai ke lokasi yang ditunjukkan pengantar dari kampung tersebut agak kesulitan memasuki rumahnya. Pasalnya halaman depan rumahnya sebagian terhalang kandang domba. Pagar samping rumah memperlihatkan kandang ketimbang hunian manusia. Ketika masuk ke rumahnya, terlihat isinya hanya satu kamar seluas 2 x 3 meter, dapur 1 x 2 meter dan satu ruangan utama. Luas rumah gubuk tersebut hanya 4 x 6 meter, tanpa sarana MCK.

“Semua anak-anak tidur di sini?” tanya saya.

Enam orang dalam satu rumah sempit yang kumuh, tanpa MCK, persis di depan rumahnya terdapat kandang kambing. Belum lagi kalau menyaksikan genangan air kumuh di sekitar rumah tersebut. Bau tak sedap di dalam dan sekitar rumah begitu menyengat. Hidup sebagai keluarga Buruh Tani lepas yang tak menjanjikan penghasilan memadai membuat keluarga Maman ini tak bisa berbuat apa-apa.

“Upah kerja biasanya enam puluh ribu setiap hari,” kata Maman.

Ditanya apakah setiap hari bekerja, kepalanya menggeleng refleks sebagai jawaban tidak. “Itu masalahnya, paling sebulan hanya kerja seminggu, kadang juga bisa menganggur penuh,” terang Maman.

Maman mengatakan tak punya tanah. Ia hanya menggarap tanah kecil milik orang kota yang hasil panennya tak memadai. Saat tidak mendapatkan pekerjaan itulah kesulitan makan sehari-hari menjadi problem. Mengejar beras harian begitu sulit karena mengandalkan uang dari kerja yang tak pasti. Saat menganggur ia terpaksa harus mencari makanan di hutan yang jaraknya 3-4 kilometer dari kampungnya.




Tujuh rumah lain
Kemelaratan begitu menyiksa sampai fisik menua lebih cepat dari usianya. Persoalan beras menjadi masalah mendasar karena semua penghasilan sehari-hari hanya untuk pemenuhan hidup yang paling mendasar itu. Dengan penghasilan yang tak pasti tersebut jangan tanya kecukupan gizi, apalagi harapan anak-anaknya untuk sekolah sampai jenjang lebih tinggi. Kebanyakan di Tareptep usia 30 tahun tingkat pendidikannya hanya sampai bangku Sekolah Dasar, sebagian lulus, sebagian tidak. Sementara anak-anak remaja saat ini mayoritas lulusan SD, sebagian bisa mengenyam pendidikan sampai tamat SMP, dan sangat kecil yang bisa menamatkan SMA.

Di kampung Tareptep Odesa-Indonesia menemukan jenis keluarga miskin dalam jumlah mayoritas, dan keluarga miskin dengan tingkat keparahan seperti keluarga Maman. Beberapa keluarga sangat miskin yang berumah di gubuk itu antara lain Kakek Daing (72 tahun), Pak Ace (37 tahun), Kang Ase (28 tahun), Kang Roni (28 tahun), Emak Konah ( 68 tahun), Kang Entus (55 tahun).




Ada juga keluarga Endi Suherman ( 41 tahun), seorang bakul buah –yang sebenarnya tidak masuk kategori keluarga miskin—tetapi rumahnya terbakar total sejak bulan Juli 2016 sampai sekarang belum mampu membangun kembali.-Faiz Manshur.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan