Tips Blusukan Perdesaan Bagi Jurnalis

Saat liputan ke kawasan perdesaan. Bagaimana sebaiknya kita bekerja?

Ini merupakan wacana bagi yang sering liputan ke perdesaan. Dengan tips-tips sederhana ini akan lebih memperkaya pengetahuan, pemahaman, dan menemukan sisi terdalam kehidupan orang desa, terutama di desa-desa terbelakang. Kaidah lapangan yang saya temukan murni berdasarkan pengalaman lapangan.




-Jalan sendiri. Punya kebebasan bergerak. Improvisasi bahkan spontanitas sangat diperlukan saat bergerak ke setiap kampung/dusun. Lebih utama memakai motor sederhana. Mobil kurang bagus karena menyolok. Kebihan memakai motor karena juga memudahkan kita berhenti untuk menemui orang tanpa harus ribet nyari parkir di medan-medan sulit dan juga lebih mudah kita mendapatkan banyak hasil pemotretan.

-Mengajak ngobrol petani saat di ladang lebih utama daripada di rumahnya. Bincang personal akan lebih mendalam ketimbang bincang bersama. Modal makanan kecil sangat baik untuk keakraban.

-Cari pemilik sapi. Biasanya pemiliknya tergolong orang berkelas di dusunnya. Peternak biasanya mantan perantau atau memiliki kelebihan komunikasi. Biasanya akses personalnya ke kota lebih interaktif. Itulah sebabnya ia sangat serius ternak sapi karena mengetahui matarantai penjualan.

-RT/RW/Kades menjadi penting karena merupakan “kekuasaan” yang memiliki sumber informasi. Tetapi pejabat ini bukan satu-satunya sumber informasi yang baik untuk memahami kehidupan warga paling bawah. Ia patut dijadikan salahsatu sumber yang disandingkan dengan cara pandang warga petani murni.

-Mencari sumber informasi kehidupan terdalam (budaya: pola pikir, mental dan nilai) warga perdesaan harus menukik pada beragam sampel. Di antaranya:




1) Petani murni yang hanya berurusan dengan ladang tempat produksi tapi tidak berdagang dan sedikit berbeda dengan petani semi dagang,
2) “Mantan petani” yang kerjanya jadi pedagang,
3) Petani sekaligus tukang bangunan/kuli.
4) Petani perempuan yang gigih berproduksi di ladang (memiliki perbedaan pengetahuan dan wawasan dengan ibu rumah tangga yang tidak pernah mengurus ladang),
5) Petani santri/alumni pesantren-berbeda dengan petani lulusan sekolah (smp/sma).
6) Pengepul/bandar hasil pertanian pertanian-sangat kontras berbeda dengan petani murni atau pedagang biasa,
7) Petani pendatang berbeda dengan petani penduduk asli. Perbedaan warga desa tersebut akan memperkaya pengetahuan kita tentang dunia petani.-Faiz Manshur.




Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*