Wakaf Toilet: Mengalirkan Kebaikan, Menghentikan Kesengsaraan

Oleh FAIZ MANSHUR. Ketua Yayasan Odesa Indonesia

 

Di Provinsi Jawa Barat terdapat kerusakan lingkungan hidup dan kemiskinan. Lebih jauh ditelisik terdapat pula masalah kesehatan. Pada masalah kesehatan terdapat masalah sanitasi. Pada sanitasi terdapat praktik kurang beradab karena masih banyak orang Buang Air Besar Sembarangan.

Itulah poin-poin terpenting yang saya sampaikan beberapa waktu lalu kepada teman-teman aktivis Wakaf Salman Institut Teknologi Bandung (ITB), yang sejak bulan Januari 2021 memulai gerakan sosial di Kawasan Bandung Utara. Saya salut dengan para aktivis muda itu berkenan mengambil kegiatan untuk mengatasi masalah sanitasi yang menimpa ribuan keluarga pra-sejahtera. Ini merupakan inovasi dalam pergerakan sosial karena kesediaan mereka mengambil peran yang seringkali diabaikan para politisi dan jarang diperhatikan kaum berpendidikan di perkotaan.

Masalah sanitasi mesti menjadi perhatian para aktivis. Karena di situlah sesungguhnya letak keterbelakangan bangsa Indonesia karena puluhan juta warganya hidup dalam derajat kesehatan yang rendah. Sebutlah data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dari website Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.

Di tahun 2019, dari 287,90 juta jiwa penduduk Indonesia, terdapat 32,24 juta jiwa masih Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Sedangkan Provinsi Jawa Barat dari 55 juta penduduk, terdapat lebih 9,12 juta wargannya yang masih BABS.

Di Kabupaten Bandung tempat Odesa Indonesia berkegiatan juga memperlihatkan data yang memprihatinkan karena dari jumlah penduduk 3,93 juta jiwa, terdapat 646,26 ribu jiwa masih BABS.

Hal yang membuat miris juga terjadi di Kota Bandung. Metropolitan yang mestinya lekat dengan modernisasi dan keteraturan nyatanya terdapat fakta dari 2,25 juta jiwa, terdapat 716,35 ribu warga yang masih BABS.

Kita tahu, siapapun bisa sengsara karena kekurangan air. Dan orang miskin makin sengsara jika air tidak mencukupi kebutuhan hidup mereka. Kita menyaksikan beribu fakta tentang bencana akibat ketidakmampuan manusia mengurus air. Bagi mereka yang kekurangan air, bencana itu bersifat “silent disaster”; diam-diam banyak orang sakit akibat buruknya sanitasi, terutama akibat buang air besar sembarangan. Bagi yang tinggal dalam ruang lingkup ekologi yang rusak, diam-diam banjir bandang melenyapkan harta-benda dan jiwa. Tanpa air yang terjaga, manusia akan hidup dalam keterbelakangan, kemiskinan dan kesengsaraan.

Islam dan Air

Air bagian dari sunnatullah. Dan segenap amal/tindakan khalifah mestinya merawat air. Sayangnya kaum beragama sering asyik urusan di tempat ibadah, sementara realitas di sekelilingnya dibiarkan begitu saja. Padahal ibadah itu sendiri tak lepas dari kebutuhan air. Bagaimana dengan keadaan saudara-saudara kita yang urusan ibadah (dan juga muamalahnya) terhambat karena kekurangan air bersih atau jiwanya terancam akibat air yang membanjiri mereka?

Inilah yang mestinya menjadi bagian penting kegiatan amal saleh dalam keislaman kita. Di dalam Al-Qur’an banyak istilah yang berkaitan dengan air (ma’/al-ma’). Terlebih ketika kita mengkaitkan kisah kemuliaan pembangunan sumur pada zaman Nabi Muhammad Saw. Juga kisah-kisah kenabian yang berhubungan dengan penyediaan makanan dan minuman kepada tamu, memberi minum anjing, menghidupkan tanaman, hingga urusan bersuci.

Tertuang di dalam Al-Quran, usaha pemenuhan air juga terhubung dengan ekologi, eskatologi dan juga histori. Dalam ekologi banyak pembicaraan tentang air yang terhubung dengan tanaman, juga bencana alam. Dalam eskatologi masalah air juga banyak dibahas kaitannya taman di surga dengan aliran air yang menggiurkan. Bahkan dari sisi teologi, Al-Quran mengingatkan agar orang beriman memperhatikan air “karena Tuhan menjadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air.” (Al-Anbiya: 30). Sementara secara historis, sejarah agama samawi juga memiliki kisah fenomenal perburuan air yang dilakukan oleh Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim untuk kelangsungan hidup anaknya (Nabi Ismail).

Lain dari itu, terdapat fakta peradaban itu muncul karena kemampuan masyarakat dalam mengurus air. Cina berhasil menampilkan sebagai suku bangsa berperadaban besar karena sejak awal memiliki kemampuan mengurus air di sungai Kuning (Huang He), dan Mesopotamia bisa tangguh pertaniannya di zaman dulu karena canggih dalam mengelola air di sungai Eufrat dan Trigis.

Manfaat Berkelanjutan

Usaha aktivis Wakaf Salman ITB untuk terlibat aktif dalam menjawab problem sanitasi yang dialami keluarga pra-sejahtera merupakan usaha mulia. Gerakan itu tentu saja laras dengan spirit wakaf (waqf), yang berarti “berhenti”. Maknawinya adalah supaya harta yang didermakan ini tidak akan berubah menjadi harta yang dijualbelikan, atau bergeser tujuan. Sebab toilet komunal yang dibangun itu akan menjadi aset publik di setiap lingkungan warga Rukun Tetangga (RT).

Makna kontekstual wakaf toilet adalah menghentikan derita kaum papa dari kekurangan air. Dan perlu juga wakaf itu dimaknai “menahan” sebagai usaha memberikan “ketahahan hidup” bagi jiwa agar mejalankan kehidupan lebih baik alias lebih berkualitas.

Maka, mulialah mereka yang mendermakan hartanya untuk perwujudan sanitasi karena akan berguna jangka panjang, disambung lagi dengan makna, bahwa aliran air itu laras dengan spiritualitas khas sedekah jariah; amal kebaikan yang mengalirkan pahala (ajrun/tsawab) yang berkelanjutan.

Pengalaman Yayasan Odesa Indonesia setelah membangun 30 Toilet menunjukkan terjadi peningkatan kualitas pada mereka yang menerima bantuan air bersih dan toilet umum. Sebut saja misalnya, mereka yang sebelumnya kesulitan wudlu secara otomatis menjadi mudah urusan ibadahnya. Itu artinya wakaf dengan tujuan penyediaan air bukan sekadar memenuhi kebutuhan konsumsi tubuh, melainkan juga memberikan dampak kebaikan bagi pelaksanaan ibadah.

Jika sebelumnya anak-anak sering terserang penyakit karena tempat pembuangan tinja berceceran, sekarang keadaan kesehatannya meningkat karena fungsi dari septick-tank. Itu artinya gerakan sanitasi memenuhi target dalam usaha menegakkan tujuan maslahat karena salahsatu dari lima pilar (kulliyat al khamsi) dalam “maqhasid al-syariah” bertujuan “hifdz al-nafs”, alias memelihara jiwa. Terkait dengan usaha sanitasi, otomatis gerakan ini akan bermanfaat melindungi tubuh dari ancaman penyakit yang membahayakan jiwa.

Hubungan antara sanitasi buruk dan penyakit yang menimpa rakyat lapisan bawah berkait erat dengan diare, tipus, kolera, hepatitis A, polio, disentri. Itulah mengapa amal keagamaan dan tindakan kesehatan mestinya berjalan bersama guna mengatasi persoalan mendasar hidup manusia.

Di luar urusan penyakit, usaha pemenuhan air bersih juga akan berdampak perbaikan hubungan sosial di antara anggota keluarga maupun kerukunan tetangga karena banyak kasus konflik akibat rebutan air. Kehadiran air bersih yang cukup akan mengurangi konflik antar warga. Kemudian urusan mencuci piring, mencuci baju dan lain sebagainya lebih hemat waktu. Jika tadinya urusan air seringkali menyita waktu 2-3 jam setiap hari, maka kehadiran toilet umum memangkas waktu panjang sehingga para petani bisa mengalokasikan waktunya untuk urusan lain yang lebih produktif.

Jika kita punya kepedulian pada kesejahteraan pangan, maka penting pula kita memperhatikan kesejahteraan orang dalam urusan membuang kotoran.. Sebab, usaha perbaikan gizi akan sia-sia belaka jika yang dimakan itu kemudian dibuang sembarangan lalu menjadi sumber penyakit. Menyediakan air bersih yang menyehatkan berarti meningkatkan sumber daya manusia. []

Bagi yang ingin berdonasi pembangunan toilet dan air bersih bisa hubungi Admin Odesa 082117204059

MARI SALURKAN DONASI ANDA UNTUK KEBAIKAN DENGAN MEMBANGUN TOILET

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan