Solusi Krisis Kawasan Bandung Utara

Solusi Krisis Kawasan Bandung Utara

Faiz Manshur
Oleh Faiz Manshur
Ketua Yayasan Odesa Indonesia

Kawasan Bandung Utara rusak parah. Kerusakan alam itu juga bertalian dengan kemiskinan. Berlangsung selama puluhan tahun dan dibiarkan oleh pemerintah. Pada satu sisi terdapat pembangunan ugal-ugalan. Pada lain pihak ada kemiskinan rakyat desa.

Pada kerusakan lingkungan di perdesaan, terdapat praktik pertanian monokultur sayuran. Letaknya sekitar 5 hingga 15 km sebelah utara Kota Bandung. Tepatnya di Kecamatan Cimenyan Kab.Bandung. Problem ini tentu saja juga relevan dengan daerah pertanian perbukitan lain di Kecamatan Cilengkrang dan Cileunyi Kabupaten Bandung dan Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat dan bahkan relevan dengan Kawasan Bandung Selatan.

Khusus kerusakan ekologi pertanian di Kecamatan Cimenyan menjadi sangat penting diperhatikan karena dampaknya bukan hanya mengena petani desa, melainkan berdampak buruk bagi jutaan rakyat. Dampak kerusakan lingkungan yang kini terus terjadi dan semakin membesar itu wujudnya ada tiga: 1) memiskinkan petani desa di Kecamatan Cimenyan,  2) membanjirkan lumpur dari bukit ke Kota Bandung, 3) menimbulkan cuaca panas di Kawasan Bandung Raya.

Di ladang perbukitan Cimenyan terdapat hamparan sayuran yang meluas puluhan ribu hektar. Tentu usaha menanam sayuran itu bukan sesuatu yang patut disalahkan. Bahkan mesti dianjurkan karena sayuran adalah sumber pangan pokok untuk gizi rakyat. Tetapi hanya menanam sayuran, bisa menjadi kecelakaan- sebagaimana kita hanya menanam sawit atau bahkan hanya menanam pinus.

Berekonomi mesti cerdas. Setelah cerdas juga perlu empati. Apalagi dalam pertanian ada potensi yang hebat untuk melahirkan kesejahteraan karena usaha pertanian memungkinkan laba dari beragam jenis tanaman. Terdapatnya perbedaan jenis panen sekaligus waktu panen yang berbeda-beda itu merupakan potensi para petani untuk lebih makmur. Lagi pula, ladang pertanian juga memiliki hukum alamiah tersendiri untuk penghidupan tanaman.

Ringkasnya, jika kita menginginkan tanaman itu tumbuh dan bertahan baik, maka wajib beragam jenis (polikultur) dan bukan hanya sejenis (monokutur). Itulah mengapa, jika kita menginginkan pengentasan kemiskinan sekaligus perbaikan ekologi, seluruh pertanian harus menuju ke arah polikultur atau keanekaragaman hayati.

Rupa-rupa jenis tanaman pendek, menengah dan tinggi harus ada. Beragam penghasil biji, buah, daun, batang dan akar juga harus ditumbuhkan secara beragam dalam zona dekat puluhan meter.  Hanya dengan ini pertanian akan lebih berkelanjutan. Jika kita menentangnya dengan terus mempraktikkan pertanian monokultur, maka alam akan bekerja sendiri sesuai hukumnya.

Baca juga: Relawan Mahasiswa Odesa Sadar Ekologi Bergiat di Bandung Utara

Dampak monokultur

Dampak Monokultur

Pada pertanian monokultur sayuran di Kawasan Bandung Utara, telah nyata membuktikan ekosiste rusak parah.Beragam satwa kecil baik yang berada di dalam, atas, atau udara telah banyak mengalami kepunahan. Padahal satwa yang beragam ini mestinya menjadi mesin penggerak ekosistem sehingga kesuburan terus terjaga. Tetapi oleh praktik pertanian monokultur semuanya menjadi kacau.

Kurangnya pepohonan besar mengakibatkan banyak kerugian. Selain air tidak betah tinggal di tanah sekitar bukit, angin besar juga sering menyerang ladang dan pemukiman. Prahara angin puting-beliung sudah kerap terjadi. Dan itu merugikan tanaman kecil yang rapuh oleh terjangan angin besar. Itu juga yang sering mengakibatkan rumah-rumah penduduk yang rapuh sering rontok saat angin besar melanda.

Minim pohon itu artinya sinar matahari terus menyerang tanah mengakibatkan karbon menguap ke langit. Tanah mengeras. Tanaman sulit berkembang. Unsur kesuburan dari pupuk menguap karena tidak ada perlindungan dari dedaunan alamiah.

Di perbukitan Kecamatan Cimenyan mayoritas petani menanam sayuran belaka. Hanya sedikit yang bercocok-tanam model tumpang sari. Para petani jauh dari praktik pertanian yang lebih menguntungkan dengan menyertakan budidaya tanaman buah-buahan dan herbal. Di sana mereka menjalani survival dengan cara yang serba sulit karena menanam sayuran pada bukit-bukit minim pepohonan.

Petani tak bisa menanam kecuali pada musim hujan yang semakin hari semakin tak jelas rutinitas hujannya. Gagal panen bukan berita. Jika pada 20 tahun sebelumnya bisa menanam 4-5 kali tanam, sekarang hanya bisa 2 kali tanam dan celakanya lebih sering gagal panen.

Kemiskinan merajalela. Petani menjual tanah ke warga kota menjadi solusi instan atas kepepetnya situasi hidup. Hilangnya tanah menjadikan identitas mereka dari produsen turun menjadi pekerja upahan rendah plus durasi pekerjaan yang minim.

Observasi dari Yayasan Odesa Indonesia sejak tahun 2016 -2026 menyimpulkan, rata-rata petani kecil yang masih memiliki tanah sendiri dengan luas 1/4 hektar hanya memiliki penghasilan sekitar Rp 14 juta pertahun atau rata-rata Rp 1,1 juta perbulan. Sedangkan mereka yang menjadi petani kecil tanpa kepemilikan tanah dan menggarap tanah secara upahan atau sewa hanya mendapatkan penghasilkan rata-rata Rp 8juta pertahun atau Rp 660ribu perbulan.

Inilah kenyataan. Praktik pertanian monokultur bukan saja merugikan ekonomi bagi pelakunya, melainkan merugikan secara sosial dan ekologi. Kita harus mengambil hikmah; ketika petani dibiarkan lemah, maka semua menjadi lemah. Kita yang bukan petani membutuhkan petani yang makmur dan sekaligus bisa merawat lingkungan. Kalau petani melimpah panen semua beruntung karena harga semakin murah. Kalau petani produktif (dan itu pastinya juga ekologis) dipastikan tidak akan terjadi banjir lumpur dan cuaca panas.

Baca juga: Memilih Jenis Tanaman Konservasi Pertanian Kawasan Bandung Utara

Solusi konkret

Solusi Konkret

Saya dan teman-teman di Yayasan Odesa Indonesia sejak 2016 menjadi bagian hidup dengan rakyat desa berpendapatan minim itu. Mereka butuh solusi yang tepat untuk kebutuhan janga pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Dan solusi yang bisa mengintengrasikan problem ekonomi dan ekologi adalah menanam pohon buah-buahan.

Jika dulu mereka hanya berpikir ekonomis secara sempit, sekarang pikiran mereka lebih lapang untuk menanam buah-buahan dan herbal. Tak perlu menghentikan budidaya sayuran. Tetapi dalam jenis sayur itu sendiri juga ada sayuran yang gizi dan harga lebih bagus seperti sayuran pepaya dan kelor. Juga penting menanam durian, sirsak, nangka, alpukat, sukun, matoa, cengkeh dan lain sebagainya.

Menjalankan misi perubahan ekologi mesti bergerak melalui gerakan sosial. Ini penting karena di seluruh penjuru dunia, kemajuan petani hanya bisa mewujud manakala terhubung dengan gerakan sosial.

Gerakan sosial artinya melakukan pemberdayaan, bukan menjalankan “kurir kebaikan” dengan sekadar menyalurkan donasi lalu pergi.  Pemberdayaan mensyaratkan ketekunan (tidak pragmatis dan tidak instan), selalu mencari inovasi/solusi (bukan mencari alasan untuk lari), dan butuh konsistensi jangka panjang. Itu artinya mensyaratkan kesetiaan pada eksperimentalisme dan sama-sama belajar untuk menemukan solusi yang tepat dan berkelanjutan.

Jika kita tahu petani adalah kaum lemah dan layak menerima bantuan, maka tidak ada kata dari warga kota atau siapapun untuk menjalankan misi gerakan sosial dengan berbagi/berdonasi bibit buah-buahan untuk petani desa.

Ini potensi penting untuk mengentaskan kemiskinan sekaligus memperbaiki kerusakan alam. Langkah praktisnya adalah menggelontorkan jutaan bibit buah untuk petani Cimenyan Kab.Bandung agar kita tercipta tiga kesehatan sekaligus. Sehat satwa, sehat lingkungan dan sehat manusia. []

Keranjang Belanja