Sejarah Sunda, Sayyid Muhammad bin Holla 1829-1896

You are currently viewing Sejarah Sunda, Sayyid Muhammad bin Holla 1829-1896
Biografi Holla
Biografi Holla

Sayyid Muhammad bin Holla adalah nama yang “keliru” untuk seorang Karel Frederik Holle (1829-1896). Kisah hidupnya memang menarik. Ia begitu akrab bagi siapa saja yang punya minat pada bidang perkebunan teh, sastra Sunda, pendidikan, filologi atau sejarah di Jawa Barat. Lelaki kelahiran Amsterdam, Belanda ini memang memiliki perhatian pada banyak bidang. Dibandingkan orang-orang Belanda pada umumnya saat itu, Holle dikenal sangat dekat dengan orang-orang pribumi.

Dia berbaur dengan masyarakat di Garut dan terbiasa menggunakan pakaian seperti mereka. Bahkan pernah suatu ketika, rekannya kaget ketika bertemu Holle di perkebunan dengan berpakaian layaknya penduduk setempat. Sesuatu yang tidak biasa bagi orang-orang Eropa yang disebut-sebut berperadaban lebih maju.

“Akan tetapi kita juga harus merlihat, Holle beradaptasi begitu rupa karena punya tujuan tertentu. Dia sedang menggarap sebuah proyek perkebunan teh, khususnya di Cikajang Garut. Dia ingin apa yang direncanakannya, ide-idenya, bisa diterima dengan baik oleh masyarakat,” kata budayawan Hawe Setiawan ketika diskusi buku “Puisi Sunda Zaman Belanda” karya Tom van den Berge, Minggu (13/6/2021) di Odesa Indonesia.

Tentang Sayyid Muhammad bin Holla
Tentang Sayyid Muhammad bin Holla

Membicarakan buku yang diterjemahkan Hawe tersebut, mau tidak mau juga menyinggung peran Holle. Selain sebagai pebisnis, dia memiliki minat minat besar pada kebudayaan Sunda. Dia rajin keluar masuk kampung dan mengoleksi naskah Sunda. Dia fasih berbahasa Sunda. Bahkan dalam penerapannya lebih fasih dibanding orang Sunda sendiri.

Kita kutip apa yang dikatakan dosen Program Studi Asia Universitas Nanzan, Jepang, Mikihiro Moriyama dalam bukunya Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19. Disebutkan, aktivitasnya sebagai kolektor dan persahabatannya dengan Haji Musa menjdi faktor penting dalam mengembangkan minat pada kebudayaan Sunda.

Dia menginisiasi usaha penerbitan naskah-naskah wawacan untuk pendidikan dan penyuluhan pertanian. Karel Frederik Holle mulai mendukung pendidikan masyarakat Sunda setelah 1851, ketika ia dan saudaranya Andriaan Walraven Holle menerbitkan buku fabel. Sampai 1880-an ia berperan penting dalam produksi buku-buku berbahasa Sunda oleh penulis-penulis Sunda.

Sebelum Snouck

Menurut Hawe, sebelum Christian Snouck Hurgronje (1857-1936) diandalkan pemerintah kolonial sebagai pemerhati keislaman, Holle sudah melakukannya lebih dulu. Keduanya memang sama-sama punya posisi sebagai Penasehat Urusan Pribumi untuk pemerintah kolonial Hindia Belanda. Keduanya juga punya pandangan yang sama, semisal “Jangan ganggu kegiatan ritual orang-orang Islam. Tapi waspadai dampak politik dari kegiatan itu”.

Dr.Hawe Setiawan memaparkan pergerakan hindia Belanda dari Buku Puisi Sunda Zaman Hindia Belanda karya Dr.Tom Van Der Berge, Minggu 13 Juni 2021.

Beberapa kasus di Tatar Sunda ketika itu yang berkaitan dengan resistensi orang-orang Islam terhadap penjajah, pernah ditangani Holle dan melahirkan sejumlah rekomendasi. Antara lain tentang gerakan kaum tarekat di Priangan. Holle membuat laporan yang demikian rinci. Lalu merekomendasikan agar dilakukan pemecatan terhadap para pejabat di pemerintahan, yang diindikasikan dekat dengan kaum tarekat.

Orang-orang Garut memanggilnya dengan sapaan Tuan Holla. Dan karena sering berpenampilan menyerupai orang Islam, apalagi dengan janggut panjang, penduduk setempat menyebutnya dengan nama baru, “Sayyid Muhammad bin Holla”.

Nah, Mang Hawe kini sedang khusyu sepenuh jiwa menerjemahkan buku tebal biografi Sayyid Holla itu. Buku tersebut berjudul “Karel Frederik Holle Theeplanter in Indie 1829-1896” yang juga ditulis Tom van den Berge. {Enton Supriyatna)

Bedah Buku Sejarah Sunda di mata orang Belanda

BEBERAPA minggu sebelum mendapatkan buku “Puisi Sunda Zaman Belanda” ini saya melihat tayangan di laman Facebook Dr. Hawe Setiawan. Saya tidak terlalu tertarik dengan judulnya. Bukannya saya tak menghargai puisi, tetapi saya berpikir itu bukan buku skala prioritas yang harus diburu. Baca selengkapnya Belanda Melihat Sunda. Bagaimana Menurut Kita?

Dr. Tom Van Den Berge menulis buku ilmiah berjudul “Puisi Sunda Zaman Belanda”. Diterjemahkan oleh Dr.Hawe Setiawan. Karya ini sangat luar biasa bagus karena menyajikan fakta-fakta hidup orang Sunda (Priangan) dengan ĺaku hidup Orang Belanda dari tiga Pandangan yang berbeda. Dengan membaca buku ini kita akan banyak tentang sastra, wirausaha, agribisnis, politik, ketenagakerjaan, hubungan perkawinan, dan lain sebagainya. Banyak yang relevan dengan kehidupan kita saat ini. Baca selengkapnya Bedah Buku Puisi Sunda Zaman Belanda

This Post Has One Comment

Tinggalkan Balasan