Pentingnya Mempelajari Sejarah Danghyang Semar (2)

Sejarah Danghyang Semar (Bagian II)

Mitologi, Sejarah dan Kebijaksanannya

Sejarah Danghyan Semar oleh Faiz Manshur
Oleh Faiz Manshur
(Ketua Odesa Indonesia)

Danghyang Semar di Era Walisongo

Setelah kita membaca bagian pertama tentang asal-usul dan peran Danghyang Semar Sejarah Danghyang Semar Bagian I  sekarang kita akan membahas kisah kegiatan syiar Islam yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga.

Di masa Sunan Kalijaga tinggal di Cirebon, kegiatan seni pewayangan yang dilakukan Sunan Kalijaga mendapat dukungan dari keluarga Kraton Sunan Gunung Jati dan juga didukung oleh mertuanya Syekh Siti Jenar- berangkat dari niat agar Islam bisa diterima di masyarakat.

Danghyang Semar Lukisan Nasirun di Magelang. Foto Faiz Manshur
Danghyang Semar Lukisan Nasirun di Magelang. Foto Faiz Manshur

Mereka sadar bahwa rakyat bisa taat pada kerajaan untuk urusan pajak dan tatatertib sosial, tetapi untuk urusan keyakinan tidak bisa sekadar memainkan aturan politik.

Karena itulah penggunaan kesenian dibutuhkan menjelaskan kebenaran teologi Islam yang kebetulan tak berbeda dengan konsepsi teologi Kapitayan. 

Masyarakat bisa menerima konsepsi teologi Islam karena beberapa alasan. Pertama, ajaran Kapitayan lebih dominan berorientasi pada peribadatan (vertikal) adapun dimensi horisontalnya cenderung fleksibel.

Kedua, orang Kapitayan memandang ajaran agama lain bukan sebagai pembeda, kompetitor apalagi kesesatan.

Keyakinan dari agama lain yang datang dibiarkan, bahkan bisa diterima oleh pemeluk Kapitayan untuk berkembang dengan catatan konsepsi ketuhanan selaras dengan konsepsi monoteis Sanghyang Taya. 

Dengan pendekatan seperti itu lahirlah sebuah gerakan meluas dalam syiar Islam. Tetapi yang lebih dari sekadar mobilitas keagamaan, yang paling penting ialah terjadinya perubahan sosial kemasyarakatan yang lebih luas dengan nilai-nilai kebaikan.

Kerja Walisongo bukan sekadar memindahkan pemeluk agama satu ke agama lain, melainkan lebih kepada usaha meningkatkan kualitas hidup di masyarakat, bertata-negara secara lebih baik, dan berpendidikan etika secara lebih massif hingga ke kalangan rakyat jelata di pedalaman. 

Dan kisah tentang awal tumbuhnya kekuatan masyarakat sipil bisa dilihat dari kiprah Syekh Siti Jenar melalui gerakan Lemah Abangnya. Gerakan komunitas perdukuhan lemah Abang di Cirebon itu menjadi sejarah penting bagi kekuatan sipil di mana Sunan Kalijaga dan Sunan Gunung Jati menemukan pola baru dalam usaha memajukan masyarakat.

Bahkan karena kegiatan yang merakyat itulah kemudian Sunan Kalijaga semakin percaya diri kembali ke tengah-tengah masyarakat di Jawa Tengah, terutama di Kerajaan Demak Bintoro. 

Sedangkan kisah pembangunan negara baru -karena situasi keruntuhan Majapahit – bisa dibuktikan dengan tumbuhnya Kerajaan Demak, kemudian Pajang dan berlanjut kemudian lahirnya Mataram.

Pada ketiga era ini, peran Sunan Kalijaga sangat kuat memainkan peran sebagai Brahmana yang legendaris karena kemampuannya mendidik para Ksatria di Demak, Pajang, bahkan pada usia lanjutnya masih menjadi king maker bagi kerajaan Mataram Islam yang kemudian dilanjutkan oleh Anaknya Sunan Panggung yang berurusan erat dengan Danang Sutawijaya alias Penembahan Senopati. 

Kebijaksanaan Danghyang Semar

Kisah tentang Semar memang bukan lahir dari Sunan Kalijaga karena jauh sebelum era Walisongo, Semar dengan sejarah Kapitayan telah menjadi bagian dari kehidupan rakyat di Pulau Jawa. Ia merupakan folklor penting rakyat di pulau Jawa, bahkan dikenal luas di Sumatera, Bali dan sebagian Kalimantan di era sebelum tahun 1500 dan sampai kini semakin meluas menjadi bagian imajinasi rakyat Nusantara.

Adapun sosok Semar dengan punakawan sekaligus wayang kulit itulah yang merupakan kreasi Sunan Kalijaga dibantu oleh teman-teman lainnya seperti Raden Fatah, Sunan Giri, Sunan Bonang dan lain sebagainya.

Kita tahu,  Sunan Kalijaga selain kreatif di bidang kesenian, juga kreatif dalam pertanian karena membuat desain cangkul dan arit. Ia juga mendesain beberapa jenis busana. Pada setiap desain dibuat dengan pemaknaan secara khusus. 

Pada sosok wayang kulit Semar misalnya, terdapat pemaknaan baik dalam bentuk maupun warna.

Jadi, selain kemampuan berkesenian dengan inovasi wayang secara fisik, Sunan Kalijaga juga sangat kreatif dalam hal mengusung gagasan.

Bahkan gagasan inilah yang lebih penting untuk dibicarakan karena kemudian keislaman yang dibawa para Walisongo ini bisa tumbuh berkembang di bumi Jawa. 

Di sini kita bicara produk kesusastraan di mana banyak sekali ajaran-ajaran kebijaksanaan yang tumbuh dari khazanah lokal bersama dengan masuknya ajaran Islam. 

8 Makna dari Tubuh Semar

Kita pelajari beberapa hal dari pemaknaan semar hasil kreasi pemikiran Sunan Kalijaga sebagai berikut ini:

1. Semar yang samar

Makna yang pertama dari sosok Semar identik dengan samar. Karena hidup ini penuh teka-teki dan misteri, manusia harus sadar tentang unsur samar yang secara alamiah mengondisikan manusia hidup dalam ruang antara. Kenyataan adanya manusia dalam ruang “antara” ini membuat manusia harus punya sikap untuk memilih. Dalam memilih selalu ada keuntungan sekaligus kerugian. Jika sesekali waktu mendapatkan keberhasilan jangan kaget manakala di lain waktu mengalami kegagalan. Manusia harus sadar dan bertanggungjawab atas pilihan hidupnya. 

2. Duduk Berdirinya Semar

Semar samar dalam duduk sekaligus berdiri yang maksudnya selalu siap sedia melayani masyarakat dengan musyawarah dan kerja. Bekerja dan beristiharat adalah dua hal yang mesti dijalani secara seimbang. Sunan Kalijaga juga mengembangkan pemaknaan dalam sembahyang juga tidak melulu sujud, melainkan butuh berdiri, rukuk dan duduk.

3. Semar Samar Jenis Kelaminnya

Semar juga samar dalam hal gender. Ia tidak laki-laki dan tidak perempuan untuk menjelaskan bahwa hamba Tuhan dengan jenis kelamin apapun, status derajatnya setara. Dengan paradoks dari dua kelamin ini Semar merupakan sebuah isyarat bahwa dalam diri manusia saling membutuhkan satu sama lain. Semar dengan simbolik gabungan laki-laki dan perempuan mendorong kita untuk memaknai hidup yang sejati urusannya lebih pada kebijaksanaan.

4. Dua Tangan Semar: Hubungan Bumi dan Tuhan

Semar samar pada tangannya. Tangan kanan selalu menunjuk ke atas, sebagai simbol agar kita selalu menerima perintah Tuhan, dan tangan kirinya menunjuk ke bawah itu siap memberikan petunjuk hidup. Juga mengisyaratkan agar rezeki yang diterima Tuhan harus ditasarufkan ke bawah/bumi. Tangan yang menunjuk mengajarkan kita bahwa hidup harus punya tujuan yang dipastikan diri sendiri. Jika kita sudah sadar siapa diri kita, selanjutnya kita harus berani mengarahkan hidup pada tujuan tertentu. 

5. Semar itu tua sekaligus bayi

Semar samar karena wajahnya tua sekaligus tampak seperti bayi dengan kuncung putih berlapis delapan. Ini menyimbolkan bahwa sekalipun orangtua itu sudah pinter dan berpengalaman tetapi tetap harus ingat masa kecil (asal-usul) sekaligus sebagai anak kecil yang penuh kejujuran. Melalui simbolisme “kebayian” ini Semar juga mengajarkan bahwa sebaiknya kita seperi anak kecil yang selalu ceria, jujur sekaligus mudah akrab berkawan dengan siapapun tanpa pandang kasta sosial. Warna putih juga merupakan isyarat agar orang tua selalu bijaksana, bersih hati dalam menerima takdir hidup. 

6. Semar itu Sakti Karena memegang 8 prinsip

Delapan garis kuncung itu memiliki arti agar akalbudi manusia memiliki delapan nilai. Dr. Fahrudin Faiz yang menggali sumber filosofi ini dengan menyebut sebagai kesaktian semar.

Katanya, jika manusia ingin sakti, maka ia harus memiliki delapan kesediaan untuk 1) tahan lapar, 2) tahan kantuk, 3) tahan kesedihan, 4) tahan kepanasan 5) tahan kedinginan, 6) tahan sakit, 7) tahan capek, 8) tahan tidak jatuh cinta. 

7. Semar Bahagia dalam Kesenangan Maupun Kesedihan

Pada mata Semar tampak sedih tetapi mulutnya tersenyum. Ini merupakan paradoks bahwa kenyataan hidup manusia akan selalu berurusan dengan kesenangan dan kesedihan sekaligus. Dalam pandangan Semar, saat situasi senang itu hal yang biasa, tak boleh berlebihan karena selanjutnya manusia tidak lepas dari kesedihan. Pesan utama dari filosofi ini adalah, kita tidak usah sok sedih saat tertimpa musibah sampai merasa dirinya adalah orang yang paling menderita di dunia. Demikian saat senang, jangan berlebih-lebihan karena barangkali di sekitar kita sering ada orang yang sedang bersedih sehingga kita harus “tepo sliro” alias berempati pada derita orang. Menjadi manusia yang bijaksana dan mesti bisa bahagia di atas kesenangan dan kesedihan.

8. Bulatnya Semar Seperti Bumi yang Berarti

Semar bertubuh bulat. Sosok bulat dan dengan pewarnaan hitam menggambarkan bumi yang bisa dijadikan teladan agar dalam hidup kita memiliki kekuatan (tekad) yang bulat. Bumi juga memberikan kesaksian tentang pentingnya kesediaan manusia untuk sabar dan tidak cengeng dalam menebarkan kebaikan. Dalam diri bumi, segala unsur makhluk hidup bisa diterima, diberikan kesempatan untuk tumbuh. Bumi banyak melayani yang lain; tanaman, hewan dan manusia bisa berkembang. Hidup sebaiknya tetap memberi manfaat sekalipun diinjak-injak oleh pengambil manfaat.

Bersambung……

[Faiz Manshur. Ketua Yayasan Odesa Indonesia]

Baca lanjutan tulisan ini pada BAGIAN III di sini : Pentingnya Mempelajari Sejarah Danghyang Semar (3) 

Baca tulisan sebelumnya BAGIAN I di sini : Pentingnya Mempelajari Sejarah Danghyang Semar (1)

Baca juga : Esai Faiz Manshur Tentang Manfaat Semar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja